Oleh: Karyudi Sutajah Putra
Jakarta, Fusilatnews -Robby Djohan adalah nama yang legendaris di dunia korporasi Indonesia, terutama perbankan. Namanya patut dicatat dengan tinta tebal dalam sejarah nama-nama besar perusahaan terkemuka, seperti Garuda Indonesia dan Bank Mandiri.
Dialah yang menggabungkan empat bank pelat merah yang saat itu dalam kondisi setengah karam menjadi Bank Mandiri pada 1999.
Dialah yang menyelamatkan Garuda Indonesai Airways yang kondisinya berdarah-darah pada 1997.
Dialah yang menyehatkan Bank Bumiputera yang pada 1995 dalam kondisi sangat tidak sehat
Dialah yang membesarkan Bank Niaga, bank kecil yang tidak dikenal menjadi bank swasta terbesar nomor dua setelah Bank Central Asia milik taipan Liem Sioe Liong pada 1988.
Selain keahliannya menyelamatkan perusahaan karam, Robby Djohan juga dikenal sebagai pemimpin yang piawai mendidik orang. Sederet nama besar yang menjadi pemimpin di panggung korporasi Tanah Air adalah anak-anak didiknya. Salah satunya, Agus Martowardojo, Direktur Utama Bank Mandiri periode 2005-2010 yang kemudian menjadi Menteri Keuangan pada 2010-2013 dan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada 2013-2018.
Sejumlah nama bankir top lain yang pernah mengisi kursi-kursi puncak juga merupakan anak didik Robby Djohan, antara lain Gunarni Soeworo, Peter B Stok, Glenn MS Yusuf, Edwin Gerungan, Irfan Setiaputra, dan Riswinandi.
Budi G Sadikin, yang menjadi Direktur Utama Bank Mandiri 2013-2016 dan kini menjadi Menteri Kesehatan pun mengakui sebagai dirinya sebagai anak didik Robby Djohan.
“Pak Robby Djohan adalah pemimpin yang sangat jago mendidik orang. Saya pernah bekerja di Bank Bali, waktu itu Pak Jaya Ramli (pemilik) yang mengagumi Robby Djohan mengatakan, kalau Pak Robby mendidik 10 orang maka yang akan jadi pemimpin 11 orang. Pemimpin lain mendidik 10 orang, mungkin yang jadi hanya dua tiga orang,” ujar Budi Gunadi Sadikin saat membuka acara peluncuran film documenter “Robby Djohan, The Story of A Legendary Banker” di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (29/11/2024).
Kisah perjalanan kepemimpinan dan prinsip-prinsip profesionalisme Robby Djohan tergambar dalam film documenter tersebut.
Ternyata, di balik film dokumenter itu juga ada tangan dingin seorang jurnalis barnama Karnoto Mohamad. Pria yang akrab disapa KM ini adalah penulis naskah sekaligus sutradara film documenter tersebut yang diproduksi Infobank Pictures.
KM yang saat ini menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Infobank Media Group dan Pemimpin Redaksi The Asian Post sangat mengetahui perjalanan, pengalaman, pemikiran, dan nilai-nilai dari seorang Robby Djohan.
Sebab, sebelum membuat film tersebut, KM adalah editor buku “No Nonsense Leadership” yang ditulis Robby Djohan. “Selama lima tahun sampai beliau wafat, saya setiap bulan bertemu Pak Robby untuk berdiskusi dan mengedit pemikiran dan pengalaman yang disampaikan untuk dituangkan ke dalam rubrik kolom, yang kemudian dikumpulkan dan dikemas lagi menjadi buku,” ujar KM kepada Fusilatnews.com, Minggu (8/12/2024).
Menurut KM, sosok “corporate leader” seperti Robby Djohan sangat langka. Robby adalah figur yang sangat dihormati pasar, pemilik perusahaan, karyawan, dan regulator, karena kemampuannya, integritasnya dan ketulusannya dalam mendidik anak buahnya.
Sebab itu, kisah perjalanan kepemimpinan dan bagaimana Robby Djohan menyelesaikan krisis berat di perusahaan patut dikenang dan didokumentasikan dalam sebuah film dokumenter.
“Cara Robby Djohan memimpin perusahaan, membangun tim dan melakukan restrukturisasi bisa menjadi petunjuk penting bagi para profesional di dunia bisnis,” ujar KM.
Penggemar berat barang-barang antik, termasuk “tosan aji” seperti Keris ini menambahkan, film dokumenter “Robby Djohan The Story of A Legendary Banker” akan ditayangkan di Youtube Channel Infobank TV agar masyarakat luas bisa menontonnya secara gratis.























