Oleh: Karyudi Sutajah Putra | Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
Berbekal 13,5 juta suara hasil Pemilu 2019, Muhaimin Iskandar sesumbar: apa pun yang dikatakan Yahya Cholil Staquf tak akan berpengaruh terhadap Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Bahkan Cak Imin dengan gagah berani memposting di akun media sosialnya sebuah kaos bertuliskan, “NU kultural wajib ber-PKB!”
Gus Yahya, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU), itu pun menantang balik Cak Imin: tinggal menunggu pembuktiannya!
Memang, semenjak Gus Yahya terpilih menjadi Ketum PBNU, hubungan Cak Imin dengan kakak kandung Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas itu langsung memanas. Bahkan mungkin kini berada di titik didih.
Ada yang bersepekulasi itu adalah residu “konflik” masa lalu saat Abdurrahman Wahid didepak Cak Imin, keponakannya itu, dari kursi Ketua Dewan Syura PKB. Saat Gus Dur menjabat Presiden, Gus Yahya adalah juru bicara mantan Ketum PBNU itu. Jadi, ibarat api dalam sekam. Begitu terpilih menjadi NU-1, Gus Yahya langsung lantang memaklumatkan: NU bukan alat politik PKB. Kini, maklumat itu diperluas menjadi: NU bukan senjata kompetisi semua partai politik!
Mungkin itulah yang memicu Cak Imin limbung dan kemudian melancarkan jurus dewa mabuk dalam berpolitik. Pertama, dia mengatakan apa pun yang dikatakan Gus Yahya tak akan berpengaruh terhadap PKB.
Cak Imin menganggap pengaruh Gus Yahya hanya sebatas di struktural atau pengurus NU saja, tak sampai ke NU kultural yang diklaim Cak Imin lebih terikat ke PKB. Sampai-sampai Cak Imin berani mengklaim nahdliyin atau warga NU mendukungnya sebagai calon presiden 2024.
Sebelumnya, tak pernah hubungan PKB-NU sepanas ini. Pemicu utamanya adalah pernyataan Cak Imin yang ugal-ugalan itu.
Jurus dewa mabuk kedua adalah Cak Imin menggaungkan wacana penundaan Pemilu 2024 hingga 2027 dengan dalih demi pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19.
Setelah menuai sentimen negatif, Cak Imin kemudian berdalih usulannya itu demi “menolong” Wakil Presiden Ma’ruf Amin, karena selama pandemi tidak banyak yang dikerjakan mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu. Yang dia maksud sesungguhnya barangkali supaya jabatan Ma’ruf Amin lebih lama lagi.
Mungkin pula ia bermaksud menolong diri sendiri supaya tanpa harus susah-payah ikut pemilu tetapi tetap menjadi anggota DPR RI hingga 2027. Masih tetap pula menduduki kursi Wakil Ketua DPR RI.
Jurus dewa mabuk ketiga adalah pernyataan Cak Imin mau bergabung dengan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang baru dibentuk oleh Partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Syaratnya, yang diusung sebagai capres adalah dirinya. Nah, lho!
Padahal, perolehan suara Golkar dalam Pemilu 2019 lebih tinggi dari PKB, yakni 17 juta lebih. Elektabilitas Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto sebagai kandidat capres pun 11-12 dengan Ketum PKB itu, yakni nol koma sekian. Alhasil, pernyataan Cak Imin agar diusung capres sebagai syarat masuk KIB dinilai kurang ajar.
Akrobat Politik
Tapi baiklah. Politik adalah akrobat. Sebab itu wajar jika Cak Imin melancarkan jurus-jurus dewa mabuk sebagai bagian dari akrobat politik itu.
Akrobat politik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti pernyataan yang dikeluarkan saat ini bisa bertentangan dengan pernyataan beberapa saat kemudian. Dengan kata lain, “esuk dhele sore tempe” (pagi kedelai sore tempe).
Apalagi faktor yang sangat menentukan dalam politik elektoral adalah elektabilitas atau tingkat keterpililihan. Sedangkan elektabilitas faktor utamanya adalah popularitas. Popularitas faktor utamanya adalah publisitas, antara lain melalui pemberitaan media, baik media massa maupun media sosial.
Sebab itulah langkah Cak Imin bermain akrobat politik kita pahami sebagai bagian dari ikhtiarnya dalam menjaga popularitas dan elektabilitas partainya dan dirinya. Tak boleh sehari pun tanpa berita tentang PKB dan Cak Imin. Apalagi ketua umum adalah marwah tertinggi bagi sebuah partai politik.
Dengan Cak Imin menjadi capres, marwah PKB akan terangkat. Elektabilitasnya pun akan terjaga. Elektabilitas harus ditopang popularitas. Popularitas harus ditopang publisitas. Jurus dewa mabuk pun dilancarkan Cak Imin sebagai bagian dari publisitas demi meraup popularitas yang berujung pada elektabilitas.
Akan jitukah jurus dewa mabuk yang dilancarkan Cak Imin? Kata Gus Yahya, tinggal tunggu pembuktiannya!
Berita Update Lainnya Ikuti Kami Di Google News






















