Fusilatnews – Ramadan selalu membawa satu pertanyaan yang berulang dari generasi ke generasi: kapan sebenarnya Lailatul Qadar turun?
Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi jawabannya justru tidak pernah benar-benar tegas. Dalam berbagai riwayat hadis, kita menemukan keterangan yang tidak sepenuhnya sama.
Ada hadis yang menyebutkan bahwa Lailatul Qadar berada pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Bahkan Nabi Muhammad ﷺ menganjurkan umatnya untuk mencarinya pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir itu.
Namun riwayat lain memberi gambaran yang sedikit berbeda. Disebutkan bahwa Nabi sudah mulai beritikaf sejak dua puluh hari terakhir Ramadan, bahkan dalam satu riwayat beliau pernah beritikaf selama dua puluh hari. Artinya, pencarian terhadap Lailatul Qadar tidak selalu dibatasi secara kaku pada sepuluh malam terakhir.
Di sinilah menariknya. Seolah-olah Islam tidak ingin manusia terjebak pada kepastian tanggal, tetapi justru mendorong kesungguhan spiritual sepanjang Ramadan.
Jika malam itu diberi tanggal yang pasti, kemungkinan besar manusia hanya akan beribadah pada malam tersebut saja. Namun karena waktunya dirahasiakan, maka orang yang benar-benar berharap bertemu Lailatul Qadar akan memperbanyak ibadah sepanjang akhir Ramadan.
Tetapi sesungguhnya ada hal yang jauh lebih penting dari sekadar kapan malam itu turun.
Al-Qur’an sendiri menjelaskan inti dari Lailatul Qadar dalam Surah Al-Qadr:
“Inna anzalnahu fi lailatil qadr”
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam Lailatul Qadar.”
Ayat ini menegaskan sesuatu yang sering luput dari perhatian: produk terbesar dari Lailatul Qadar adalah turunnya Al-Qur’an.
Dengan kata lain, hakikat kemenangan pada Lailatul Qadar bukan sekadar berhasil menebak malamnya, bukan pula sekadar memperbanyak ibadah pada satu malam tertentu. Hakikatnya adalah mendekat kepada Al-Qur’an, memahami pesan-pesannya, dan menjadikannya pedoman hidup.
Seseorang bisa saja berjaga sepanjang malam, memperbanyak doa dan salat, tetapi jika setelah Ramadan hubungan dengan Al-Qur’an kembali jauh, maka esensi Lailatul Qadar belum benar-benar ia raih.
Sebaliknya, seseorang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya hidupnya—membaca, memahami, dan berusaha mengamalkannya—sesungguhnya sedang merawat keberkahan Lailatul Qadar setiap hari.
Karena itu, daripada terjebak dalam perdebatan panjang tentang malam ke berapa Lailatul Qadar turun, mungkin lebih bijak jika kita kembali pada pesan utamanya.
Lailatul Qadar adalah malam ketika Al-Qur’an diturunkan untuk membimbing manusia.
Maka cara paling pasti untuk tetap menjadi pemenang Lailatul Qadar adalah dengan memahami produknya—yaitu Al-Qur’anul Karim.
Siapa yang hidup bersama Al-Qur’an, ia sesungguhnya sedang hidup dalam cahaya Lailatul Qadar sepanjang hayatnya.























