Berita tentang 13 warga negara Jepang yang ditangkap di Bogor karena dugaan penipuan online pada dasarnya hanyalah satu peristiwa kriminal. Dalam logika hukum modern, perkara ini sederhana: individu melakukan kejahatan, negara menegakkan hukum, pelaku mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Namun di balik peristiwa tersebut muncul sebuah respons yang menarik dari perspektif lintas budaya. Seorang warga Jepang bernama Yutaka Tokunaga menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Indonesia. Ia menulis bahwa dirinya merasa malu dan bersalah karena warga negaranya melakukan kejahatan di negeri orang.
Bagi sebagian masyarakat Indonesia, sikap seperti itu mungkin terasa berlebihan. Mengapa seseorang harus meminta maaf atas perbuatan orang lain? Bukankah kesalahan adalah tanggung jawab pribadi?
Pertanyaan tersebut mencerminkan cara pandang budaya yang berbeda.
Dalam masyarakat Jepang, rasa malu memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Identitas individu tidak sepenuhnya berdiri sendiri, melainkan melekat pada kelompok: keluarga, organisasi, perusahaan, bahkan bangsa. Ketika seseorang dari kelompok tersebut melakukan kesalahan, rasa malu tidak berhenti pada pelaku, tetapi merambat pada komunitas yang lebih luas.
Karena itu tidak jarang dalam budaya Jepang seorang pejabat mengundurkan diri karena kesalahan lembaganya, meskipun ia tidak terlibat langsung dalam pelanggaran tersebut. Bagi mereka, kehormatan publik lebih penting daripada sekadar pembuktian hukum.
Permintaan maaf Tokunaga dapat dipahami dalam kerangka nilai tersebut. Ia tidak bertanggung jawab secara hukum atas tindakan para pelaku penipuan di Bogor, tetapi ia merasa reputasi bangsanya ikut tercoreng. Permintaan maaf itu adalah ekspresi moral bahwa kehormatan kolektif harus dijaga.
Sebaliknya, masyarakat Indonesia cenderung melihat tanggung jawab secara lebih individual. Jika seorang warga negara melakukan kejahatan di luar negeri, maka yang bersalah adalah individu tersebut, bukan bangsa yang diwakilinya.
Karena itu banyak orang Indonesia mungkin akan mengatakan: tidak perlu meminta maaf atas nama Jepang. Cukup biarkan hukum berjalan.
Namun justru dalam perbedaan cara pandang inilah muncul pelajaran yang menarik.
Kasus penipuan online yang melibatkan warga Jepang di Bogor juga memperlihatkan satu realitas baru dunia modern: kejahatan tidak lagi mengenal batas negara. Internet membuat operasi kriminal dapat dijalankan dari mana saja, sementara korbannya bisa tersebar di berbagai belahan dunia.
Dalam konteks ini, nasionalitas pelaku sebenarnya menjadi semakin kabur. Yang lebih penting adalah kerja sama internasional dalam penegakan hukum.
Namun di tengah realitas global tersebut, pernyataan Tokunaga menghadirkan dimensi yang lebih manusiawi. Ia tidak membela para pelaku, tidak pula mencari pembenaran atas perbuatan mereka. Sebaliknya, ia menyatakan rasa malu dan menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Indonesia.
Sikap seperti ini menunjukkan sesuatu yang jarang terlihat dalam percakapan publik masa kini: kesediaan untuk memikul tanggung jawab moral, meskipun tidak memiliki tanggung jawab hukum.
Dalam dunia yang sering dipenuhi pembelaan identitas nasional secara membabi buta, Tokunaga justru melakukan hal yang sebaliknya. Ia tidak merasa perlu membela bangsanya dari kritik, tetapi memilih menjaga martabatnya dengan mengakui kesalahan.
Dari perspektif lintas budaya, peristiwa kecil ini memberikan refleksi yang lebih besar. Jepang menunjukkan tradisi budaya malu yang kuat dalam menjaga kehormatan kolektif. Indonesia menunjukkan tradisi toleransi yang lebih individual dalam memandang kesalahan.
Keduanya bukanlah benar atau salah. Keduanya hanya cara berbeda dalam memahami tanggung jawab.
Namun satu hal yang jelas: ketika seorang warga biasa merasa perlu meminta maaf demi menjaga martabat bangsanya, kita diingatkan bahwa hubungan antarbangsa tidak hanya dibangun oleh diplomasi pemerintah, tetapi juga oleh kepekaan moral warga biasa.
Karena pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya diwakili oleh mereka yang melakukan kejahatan.
Tetapi juga oleh mereka yang berani berkata:
“Kami malu. Dan kami minta maaf.” 🙇♂️🇯🇵🇮🇩























