KOLOMBO, 23 Agustus (Reuters) – Mantan presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa dapat kembali ke negerinya, dalam waktu sekitar dua minggu, setelah melarikan diri dari pemberontakan rakyat pada Juli yang lalu. Dua orang sumber yang mengetahui masalah tersebut, mengatakan kepada Reuters pada Selasa, tapi sebagian tergantung pada pengaturan untuk mengamankan keselamatannya.
Salah satu sumber mengatakan kepulangannya sebagian terkait dengan biaya tinggalnya di Thailand.
Rajapaksa melarikan diri dari Sri Lanka pada dini hari 13 Juli setelah protes besar-besaran melanda Kolombo dan para demonstran yang marah dengan kehancuran ekonomi negara itu, menyerbu kediaman dan kantor resminya. Dia mengundurkan diri sebagai presiden setelah tiba di Singapura, dari situ dia kemudian terbang ke Thailand.
“Dia pasti ingin kembali. Tapi keamanan adalah masalah utama dan intelijen telah menyarankan agar dia menunda kepulangannya,” kata salah satu sumber, seorang pejabat pemerintah Sri Lanka.
Sumber kedua mengatakan tingginya biaya tinggal di Thailand merupakan factor, yang mendorong kepulangannya ke rumah sesegera mungkin.
“Tagihannya sekarang telah mencapai beberapa ratus juta rupee karena sudah termasuk biaya untuk jet pribadi, suite presiden dan keamanan sepanjang waktu,” kata sumber itu. “Biayanya menjadi penghalang.”
Semua sumber menolak disebutkan Namanya, yang membahas urusan mantan presiden itu.
Sekretaris Jenderal SLPP Sagara Kariyawasam mengatakan partainya telah bertemu dengan Presiden Ranil Wickremesinghe untuk mencari pengaturan bagi kepulangan Rajapaksa.
“Kami telah mengajukan permintaan agar kepulangannya difasilitasi secepatnya,” kata Kariyawasam.
Wickremesinghe mengatakan kepada Reuters pekan lalu bahwa dia “tidak mengetahui” rencana apa pun untuk kembalinya Rajapaksa. Dia juga mengatakan setiap tindakan hukum terhadap Rajapaksa akan diproses sesuai dengan hukum Sri Lanka.
Badan anti-korupsi Transparency International mengatakan Sri Lanka telah mendekati pengadilan tinggi negara itu untuk mencari “tindakan terhadap orang-orang yang bertanggung jawab atas krisis ekonomi saat ini”, termasuk dua saudara Rajapaksa yang menjadi perdana menteri dan menteri keuangan di bawahnya.
Saat Sri Lanka mencoba mengatasi salah satu krisis ekonomi terburuknya, tim dari Dana Moneter Internasional akan tiba pada Rabu untuk membicarakan kemungkinan dana talangan $3 miliar, yang akan mencakup kerangka restrukturisasi utang.
Sumber : Reuters.
























