Fusilatnews – Mulai 1 Juni 2025, Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi memberlakukan kebijakan jam malam bagi pelajar. Pelajar di wilayah ini dilarang berada di luar rumah antara pukul 21.00 hingga 04.00 WIB. Kebijakan ini, menurut Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, dimaksudkan untuk meningkatkan kedisiplinan, memperkecil risiko penyalahgunaan narkoba, menekan angka tawuran, serta menciptakan suasana aman dan kondusif di masyarakat.
Namun, alih-alih menjadi solusi jitu atas permasalahan remaja, kebijakan ini justru menyingkap lapisan permasalahan yang jauh lebih kompleks: kegagalan institusi pendidikan dan keluarga dalam mendidik, membina, serta membentuk karakter pelajar.
Simptom yang Ditambal, Bukan Akar yang Diurai
Peraturan jam malam sesungguhnya merupakan respons terhadap gejala, bukan akar persoalan. Tawuran, konsumsi minuman keras, dan pelanggaran lalu lintas di kalangan pelajar memang mencemaskan. Namun, menahan mereka di rumah bukanlah jaminan terbentuknya pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, atau memiliki orientasi moral yang kuat.
Sebab, jika akar persoalannya adalah lemahnya pendidikan karakter di sekolah, minimnya dialog sehat antara orang tua dan anak, serta ketiadaan ruang ekspresi dan aktualisasi diri bagi remaja, maka kebijakan jam malam hanya akan menjadi tambalan semu. Pelajar bisa saja patuh pada jam malam karena diawasi, tapi bukan karena mereka memahami dan meyakini nilai-nilai yang diharapkan.
Jam Malam: Instrumen Disiplin atau Kontrol Sosial?
Kebijakan ini diimplementasikan dengan menggandeng aparat negara seperti TNI, Polri, Satpol PP, serta perangkat RT/RW. Model pendekatan ini menunjukkan kecenderungan negara untuk lebih mengandalkan mekanisme pengawasan ketat ketimbang membangun kesadaran melalui pendidikan dan partisipasi. Di sinilah kita perlu bertanya ulang: apakah negara sedang mendidik, atau sekadar mengendalikan?
Anak-anak yang hidup dalam atmosfer ketakutan tidak akan tumbuh menjadi warga yang bebas dan bertanggung jawab, melainkan cenderung menjadi pribadi yang hanya patuh di bawah pengawasan, dan bebas liar saat tak ada pengawasan.
Pendidikan Formal yang Semakin Tergelincir
Jam malam bagi pelajar secara tak langsung mengindikasikan krisis dalam sistem pendidikan formal. Sekolah yang semestinya menjadi tempat pembentukan karakter justru kehilangan peran sentralnya. Pendidikan kita hari ini lebih fokus pada capaian akademik, nilai ujian, dan kurikulum yang padat, namun minim dalam penanaman nilai, etika, dan kesadaran sosial.
Jika pelajar kerap berada di luar rumah pada malam hari dan melakukan hal-hal yang menyimpang, maka hal ini juga merupakan kegagalan sekolah dalam menyentuh sisi kemanusiaan mereka. Sekolah tidak lagi menjadi rumah kedua yang nyaman, melainkan institusi yang melelahkan dan tidak memberi makna.
Peran Keluarga yang Kian Terpinggirkan
Tak dapat dimungkiri bahwa banyak keluarga saat ini mengalami disorientasi dalam mendidik anak. Orang tua sibuk bekerja, komunikasi dalam keluarga menurun, dan anak tumbuh dalam kesendirian digital. Dalam situasi ini, negara masuk mengambil alih peran kontrol yang seharusnya dilakukan oleh keluarga.
Namun, alih-alih menguatkan peran keluarga, kebijakan jam malam justru mendelegitimasi fungsi keluarga, seolah negara lebih tahu kapan anak-anak harus pulang, istirahat, dan belajar.
Perlu Solusi yang Lebih Substantif
Dibandingkan memperketat pengawasan lewat jam malam, pendekatan yang lebih konstruktif adalah menyediakan ruang aman dan positif bagi pelajar. Misalnya, dengan memperbanyak fasilitas publik seperti perpustakaan malam, ruang kreatif, pusat olahraga, dan komunitas seni yang dikelola secara partisipatif oleh anak-anak muda itu sendiri.
Selain itu, pendidikan karakter di sekolah harus dihidupkan kembali bukan sekadar lewat pelajaran formal, tapi melalui interaksi yang bermakna antara guru dan murid, proyek kolaboratif, dan penguatan peran guru sebagai pendidik, bukan sekadar pengajar.
Penutup: Generasi Pancasila Tak Lahir dari Larangan
Pemerintah Jawa Barat menamai inisiatif ini sebagai bagian dari pembentukan Generasi Pancasila Waluya Jawa Barat Istimewa. Namun, generasi Pancasila tidak dibentuk lewat pembatasan gerak semata, tetapi melalui teladan, pendidikan yang bermakna, dan lingkungan yang mendorong pertumbuhan moral dan intelektual.
Jam malam boleh jadi efektif dalam jangka pendek, tapi tak akan menyentuh akar masalah jika tidak disertai transformasi pendidikan dan revitalisasi peran keluarga. Tanpa itu semua, kebijakan ini hanyalah cara lain untuk menenangkan gejolak malam, namun membiarkan kegelisahan anak-anak muda tetap hidup di siang hari.




















