Fusilatnews – Pada suatu siang yang hangat di Sydney awal tahun 2003, saya duduk bersama Tom Hogan, sahabat saya yang juga ahli komunikasi dari Australia. Dari balik kepulan kopi hitam dan berita-berita yang berseliweran di televisi, saya bertanya padanya, setengah berharap mendapat analisis cerdas dari seorang pengamat media, “Tom, kira-kira Amerika akan menyerang Irak, kah?”
Tom tersenyum kecut, menghisap napas pelan. “Ali,” katanya, “pemimpin idiot itu—sulit diduga keputusannya.” Yang dimaksud Tom adalah George W. Bush, Presiden Amerika Serikat kala itu.
Dan benar saja. Tak lama berselang, Amerika memutuskan untuk menggempur Irak dengan dalih bahwa negara itu menyimpan senjata pemusnah massal. Dalih yang kemudian terbukti keliru, bahkan palsu. Dunia bersuara bulat menolak, tetapi Washington tetap nekat. Di belakang layar, ambisi pribadi dan kepentingan korporat minyak lebih mengendalikan ketimbang akal sehat dan etika global.
Keangkuhan dan Kepandiran
Apa yang disebut kebodohan Amerika bukan karena rakyatnya bodoh, bukan pula karena kekurangan institusi pendidikan, riset, atau teknologi. Tetapi karena elite politiknya kerap terseret oleh keangkuhan, bersekutu dengan kepandiran, dan percaya bahwa kekuatan militer adalah jawaban atas segala persoalan geopolitik.
Kebodohan itu, dalam kasus Irak, membunuh ratusan ribu rakyat sipil tak berdosa, menghancurkan peradaban, dan meninggalkan negara itu dalam kekacauan yang masih bergema hingga kini. Dari reruntuhan Baghdad, lahirlah ketidakstabilan baru, milisi-milisi fanatik, dan porak-poranda regional yang masih menjadi bara dalam sekam hingga hari ini.
Bush Jr. menjadi simbol dari generasi pemimpin Barat yang gagal memahami konteks dunia Muslim, terjebak dalam dikotomi “kami vs mereka”, dan percaya bahwa demokrasi bisa dijatuhkan dari langit bersama rudal Tomahawk. Padahal demokrasi tumbuh, bukan dijatuhkan. Ia butuh tanah, bukan ranjau. Ia butuh dialog, bukan senapan.
Trump: Mengulang Babak Konyol
Belum cukup belajar dari Irak, kini sejarah tampaknya ingin diulang. Donald Trump, dengan retorika murahan dan gaya kepemimpinan koboi, menegangkan urat leher dunia dengan Iran. Ancaman sanksi, pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani, hingga potensi serangan terbuka ke negeri para Mullah memperlihatkan bahwa idiokrasi belum berakhir di Gedung Putih.
Trump, sebagaimana Bush, bertindak impulsif. Ia tidak membangun diplomasi, tetapi mengobral ancaman. Ia tak ingin berdialog, melainkan memaksa. Perang, bagi Trump, adalah panggung citra, bukan instrumen terakhir setelah seluruh ikhtiar diplomasi kandas.
Ironis, karena kebodohan macam inilah yang seharusnya menjadi pelajaran paling berharga dari perang Irak. Tapi seperti kata filsuf Hegel: satu-satunya pelajaran dari sejarah adalah bahwa manusia tidak pernah belajar dari sejarah.
Dunia yang Terancam karena Ego
Amerika, dengan segala pengaruh dan kekuatannya, seharusnya menjadi pengemban tanggung jawab global. Tetapi terlalu sering, ia memilih menjadi perundung dunia, bukan pemimpin dunia. Dan dalam konteks itu, kebodohan bukan lagi kesalahan pribadi, melainkan bencana kolektif.
Ketika kebodohan menjadi kebijakan, dan pemimpin tak lagi mendengarkan suara dunia, yang jadi korban adalah mereka yang tak pernah memilih perang: ibu-ibu, anak-anak, dan generasi yang belum lahir.
Saya teringat kembali wajah Tom Hogan sore itu, menatap ke layar televisi dengan sorot mata getir. “Pemimpin idiot itu—sulit diduga.” Sekarang saya tahu, kalimat itu bukan sekadar prediksi. Itu peringatan.
Dan dunia, tampaknya, belum siap mendengarnya.





















