• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Siapa Dader Yang Memenjarakan Bambang Tri, Gus Nur dan HRS?

Ali Syarief by Ali Syarief
June 22, 2025
in Feature, Law
0
Siapa Dader Yang Memenjarakan Bambang Tri, Gus Nur dan HRS?
Share on FacebookShare on Twitter

Tulisan ini hadir sebagai refleksi bahwa keadilan tidak boleh tergantung siapa yang berkuasa, tapi pada prinsip kebenaran itu sendiri.

Fusilatnews – Di sebuah negeri yang katanya demokratis, publik semestinya diberi ruang luas untuk bersuara. Namun di era Presiden Joko Widodo, kebebasan itu tampaknya mulai berbiak jadi ilusi. Suara-suara kritis dibungkam bukan dengan argumen, melainkan dengan jeruji besi. Penjara tak lagi sekadar tempat rehabilitasi kriminal, tapi telah menjelma jadi alat politik untuk memadamkan perbedaan pandangan.

Kisah Bambang Tri Mulyono adalah salah satu yang paling absurd dalam panggung hukum era Jokowi. Ia bukan profesor, bukan pula jurnalis kawakan. Tapi ia menulis buku—Jokowi Undercover—yang isinya menggugat asal-usul orang nomor satu di negeri ini. Buku itu ditulis tanpa metodologi ilmiah yang ketat, memang. Tapi bukan itu soal utamanya. Bambang Tri tak diberi kesempatan membuktikan ucapannya. Ia tidak diseret ke forum ilmiah atau debat terbuka. Ia langsung dijerat pasal-pasal hukum, lalu dipenjarakan. Ironisnya, negara tak repot membantah isi bukunya, tapi justru tergesa-gesa membungkam si penulis.

Di tengah kontroversi itu, muncullah Gus Nur—ulama yang dikenal lantang bersuara di media sosial. Ia tidak sepakat dengan pemenjaraan Bambang Tri. Lalu ia melakukan sebuah tindakan langka: mubahalah, semacam sumpah religius dalam Islam, untuk membuktikan siapa yang berdusta dan siapa yang jujur. Tapi dalam konteks republik ini, kebenaran tampaknya tak perlu diuji lewat sumpah atau bukti—cukup satu hal: jangan lawan kekuasaan. Gus Nur pun menyusul masuk penjara. Bukan karena mencuri, bukan pula karena menghina suku atau agama—tapi karena menyuarakan keyakinan dan keberaniannya.

Potret serupa juga menimpa Habib Rizieq Shihab. Ia baru pulang dari pengasingan, lalu mengabarkan pada publik bahwa dirinya sehat. Tak berselang lama, ia dijerat kasus pelanggaran protokol kesehatan saat pandemi Covid-19. Ironisnya, dalam banyak kasus pelanggaran prokes lain—termasuk pesta pejabat dan konser elite—tak ada yang dibui. Tapi bagi Rizieq, suara “saya sehat” justru dianggap ancaman yang harus dibungkam. Hukum berlaku selektif, tajam ke oposisi dan tumpul ke lingkar kekuasaan.


Ada benang merah dari ketiga kasus ini: hukum dijalankan bukan demi keadilan, melainkan demi ketakutan. Siapa pun yang mencoba menggugat narasi besar yang dibangun negara, akan dicap makar, dituduh menebar kebencian, lalu diadili dalam ruang pengadilan yang tak selalu netral.

Tentu negara punya hak melindungi kehormatan presiden dan menjaga ketertiban umum. Tapi negara juga punya kewajiban lebih besar: menjaga keadilan hukum. Ketika kritik dijawab dengan pasal, ketika oposisi dibungkam dengan pemenjaraan, ketika suara rakyat disekap dalam sel tahanan—maka kita tak sedang hidup dalam demokrasi, melainkan dalam sistem yang takut pada bayangannya sendiri.

Kita patut bertanya: apa sebenarnya yang ingin disembunyikan dari publik? Mengapa kebenaran takut diuji? Mengapa negara, yang katanya kuat, justru merasa gentar pada satu buku, satu sumpah, atau satu kalimat pengakuan?


Pada akhirnya, ini bukan sekadar soal Bambang Tri, Gus Nur, atau Habib Rizieq. Ini soal kita semua. Soal bagaimana hukum bisa menjadi cambuk atau pelindung, tergantung siapa yang memegangnya. Jika hari ini para pengkritik bisa dipenjara hanya karena berbeda pandangan, maka besok giliran siapa?

Negeri ini butuh lebih dari pembangunan fisik. Ia butuh keberanian untuk menegakkan keadilan, bukan keberanian menangkapi lawan politik. Karena sejarah mengajarkan: kekuasaan bisa bertahan dengan kebohongan, tapi tak akan selamanya menang melawan kebenaran.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Tidak Ada Pengusaha Lahir dari Pelatihan

Next Post

Kebodohan Amerika Itu Menghancurkan Irak – Terulanng Kepada Iran

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Tanggapan PAN dan Gerindra Terkait Keakraban  Jokowi-Prabowo-Erick Thohir
Feature

Prabowo, Klaim, dan Bayang-Bayang Kemunafikan (Disonansi Kognitif)

April 27, 2026
Feature

Belajar dari Kongo, Perebutan Kepentingan Geopolitik & Ekonomi di Kawasan Afrika (Neo-Kolonialisme Dulu dan Relevansi Kekinian, Termasuk Kawasan Asia Tenggara)

April 27, 2026
Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru
Feature

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 26, 2026
Next Post
Kebodohan Amerika Itu Menghancurkan Irak – Terulanng Kepada Iran

Kebodohan Amerika Itu Menghancurkan Irak - Terulanng Kepada Iran

Kebodohan Amerika Itu Menghancurkan Irak – Terulanng Kepada Iran

America’s Foolishness Destroyed Iraq – And It’s Repeating with Iran

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa
Feature

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

by Karyudi Sutajah Putra
April 24, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Letkol Teddy Indra Wijaya kini sudah bisa...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Tanggapan PAN dan Gerindra Terkait Keakraban  Jokowi-Prabowo-Erick Thohir

Prabowo, Klaim, dan Bayang-Bayang Kemunafikan (Disonansi Kognitif)

April 27, 2026

Belajar dari Kongo, Perebutan Kepentingan Geopolitik & Ekonomi di Kawasan Afrika (Neo-Kolonialisme Dulu dan Relevansi Kekinian, Termasuk Kawasan Asia Tenggara)

April 27, 2026
Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 26, 2026

Menjaga Langit Nusantara: Menakar Marwah Bebas Aktif di Tengah Krisis Karakter Bangsa

April 26, 2026

KSP Sentil Puan: Prabowo-Gibran Lahir dari Pelanggaran Etika

April 26, 2026

Manajemen Risiko Nestlé, Risiko Kesehatan & Politik, Reputasi & Business Sustainability serta Sasaran Program MBG di Indonesia

April 26, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Tanggapan PAN dan Gerindra Terkait Keakraban  Jokowi-Prabowo-Erick Thohir

Prabowo, Klaim, dan Bayang-Bayang Kemunafikan (Disonansi Kognitif)

April 27, 2026

Belajar dari Kongo, Perebutan Kepentingan Geopolitik & Ekonomi di Kawasan Afrika (Neo-Kolonialisme Dulu dan Relevansi Kekinian, Termasuk Kawasan Asia Tenggara)

April 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist