Fusilatnews – Dulu, seorang pedagang kaki lima di Pasar Rebo berkata: “Saya jualan karena saya lapar, bukan karena ikut pelatihan.” Ia tidak pernah menulis proposal, tidak tahu apa itu bootcamp, dan bila ditanya soal model bisnis, ia pikir itu sejenis pakaian dalam. Tapi herannya, dia hidup. Bahkan, berkembang. Bahkan, anaknya bisa kuliah.
Hari ini, zaman sudah canggih. UMKM tidak lagi cukup dengan semangat dan modal dengkul. Mereka harus ikut pelatihan. Bukan satu, bukan dua, kadang sampai puluhan. Dari pelatihan membuat pisang goreng organik hingga manajemen rasa bersalah karena tidak posting di media sosial.
Kini, menurut Gus Imin, Menteri Koordinator bidang Pemberdayaan Masyarakat, pelatihan-pelatihan ini sudah berubah watak. Bukan lagi alat untuk belajar, tapi jadi semacam “panggung sandiwara” di mana peserta datang bukan untuk berdagang, tapi untuk hidup dari akomodasi dan sertifikat. UMKM, katanya, jangan jadi jemaah pelatihan berpindah-pindah dari satu kelas ke kelas lain, dari satu seminar ke workshop yang lain, seperti kaum musafir yang tak kunjung membuka lapak.
“Kalau sudah lima kali ikut pelatihan tapi tak juga produksi, ya coret saja. Lebih baik jadi pekerja,” kata Gus Imin. Perkataan ini bisa bikin merah telinga mereka yang koleksi tas goodie bag pelatihan sudah bisa buka toko sendiri.
Tentu saja kita tahu, bukan pelatihan yang salah. Tapi sistem yang menjadikan pelatihan sebagai industri tersendiri. Ada dana, ada proyek, ada SPJ, ada makan siang, ada sertifikat, ada selfie, ada laporan ke atasan. Dan yang paling penting: ada anggaran yang terserap dengan mulus.
Pelatihan sejatinya untuk memberi kail, bukan untuk menjual umpan. Tapi jika kail hanya jadi simbolisasi dari program-program tanpa tindak lanjut, maka yang terjadi adalah simulasi produktivitas: terlihat sibuk, padahal nihil. Seperti menanam pot bunga plastik di halaman kantor—cantik, tapi tidak pernah tumbuh.
Gus Imin ingin perubahan. Ia ingin UMKM tidak lagi jadi peminta-minta di meja pelatihan, tapi jadi pelaku usaha sungguhan. Usaha yang menjual barang, bukan ide. Usaha yang berdiri dari kerja keras, bukan dari PowerPoint dan modul pelatihan cetak tebal.
Dan mungkin, benar kata pedagang Pasar Rebo tadi. Pengusaha itu lahir dari kepepet, bukan dari pelatihan. Karena di dunia nyata, sertifikat tidak bisa dibarter dengan beras, dan akomodasi hotel tidak bisa dijual kiloan di warung.





















