• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Ketapang Bukan Insiden Tunggal: Ketika Oligarki, Tenaga Asing, dan Kedaulatan Negara Berkelindan

Ali Syarief by Ali Syarief
December 17, 2025
in Feature, Politik
0
Apa Kata KKP Tentang Pagar Misterius di Perairan Tangerang?
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Ketapang bukan insiden tunggal. Ia bukan ledakan spontan. Ia hanyalah gejala—manifestasi paling nyata dari ketidakadilan yang ditelantarkan, dari kedaulatan yang dipreteli, dari negara yang terlalu lama menutup mata.

Sebelum Ketapang, publik sempat terhenyak dengan “kantor polisi China” di Batam. Nama resminya bisa apa saja: liaison office, pusat layanan, kantor perwakilan. Tapi substansinya satu: fungsi penegakan hukum asing hadir di wilayah kedaulatan Indonesia tanpa kontrol negara yang jelas. Negara tampak gagap, defensif, dan terlalu cepat menormalisasi hal yang seharusnya menimbulkan alarm.

Di atas itu semua, muncul fakta yang lebih berbahaya: gelombang tenaga kerja China masuk dalam jumlah masif, nyaris tak terbatas, diisi ke proyek-proyek strategis. Di beberapa kawasan industri—pabrik besar, pelabuhan logistik, zona ekonomi khusus—ratusan hingga ribuan tenaga asing bekerja tanpa kontrol memadai, sementara pekerja lokal tersingkir. Lebih parah, ada akses masuk sendiri: jalur udara dan terminal khusus yang nyaris bebas dari pengawasan negara. Bandara mini, pintu masuk privat, fasilitas eksklusif—semua terjadi di wilayah Indonesia, namun hukum negara seakan tak berlaku.

Di sisi lain, oligarki tumbuh bukan sekadar sebagai pemilik modal. Mereka telah menjadi penentu kebijakan bayangan: menguasai aset strategis, mengatur arus tenaga kerja, menentukan proyek vital, bahkan menekan negara agar bungkam. Negara berubah fungsi: dari penguasa menjadi fasilitator, dari regulator menjadi pelayan.

Di mata rakyat kecil, semuanya jelas: aset dikuasai segelintir elite, proyek dikerjakan tenaga asing, hukum galak pada yang lemah, tapi tumpul pada yang kuat. Tidak heran jika muncul persepsi bahwa sebagian besar aset bangsa dikuasai oleh segelintir oligarki, banyak di antaranya WNI keturunan Tionghoa. Sekali lagi, ini bukan soal etnis, tapi soal ketimpangan struktural yang dibiarkan bertahun-tahun.

Ironisnya, negara kerap menegur rakyat, tetapi gagap menegur pemodal. Kritik terhadap dominasi tenaga asing dibungkam sebagai xenofobia. Kritik terhadap penguasaan oligarki dipelintir menjadi isu SARA. Padahal, mempertanyakan kedaulatan tenaga kerja dan aset nasional adalah inti dari keberlangsungan republik.

Ketapang adalah alarm keras. Ia menunjukkan apa yang terjadi ketika negara terlalu lama absen sebagai penjaga keadilan: hukum kehilangan wibawa, wilayah terasa seperti enclave asing, rakyat tersisih, dan konflik hanya soal waktu.

Jika negara terus menormalisasi masuknya tenaga kerja asing tanpa batas, membiarkan bandara mini dan jalur masuk privat tanpa pengawasan, dan memanjakan oligarki atas nama investasi, Ketapang bukanlah akhir. Ia adalah pembuka dari serangkaian ketegangan yang lebih besar.

Rakyat tak lagi bertanya siapa yang benar secara prosedural. Mereka bertanya satu hal: negara ini masih milik siapa? Dan jika negara tak segera menjawab dengan keberanian nyata, bukan pidato, bukan klarifikasi, sejarah akan mencatat: republik ini runtuh bukan karena kekurangan sumber daya, tapi karena kehilangan keberanian menjaga kedaulatannya sendiri.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

MERDEKA TANPA PETANI: SIAPA SEBENARNYA TUAN DI NEGERI INI?

Next Post

China dan Strategi Kuda Troya Hancurkan Indonesia

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Sanae Takaichi dan Tantangan Ekonomi Dua Kecepatan Jepang
Feature

Memahami Sistem Politik Jepang: Mengapa DPR Bisa Dibubarkan Kapan Saja?

January 24, 2026
Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris
Crime

Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

January 24, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya
Economy

Di Balik Pernyataan Purbaya: Rupiah dan Rapuhnya Fondasi Ekonomi Indonesia

January 24, 2026
Next Post
Prabowo Temui Xin Jinping di China

China dan Strategi Kuda Troya Hancurkan Indonesia

ADVOKAT BERBEDA DENGAN POKROL BAMBU

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD
Feature

OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD

by Karyudi Sutajah Putra
January 21, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Presiden Prabowo Subianto dan partai politik-partai politik pendukungnya, yang mewacanakan...

Read more
LBH Keadilan: Stop Kriminalisasi Warga Tangsel!

LBH Keadilan: Stop Kriminalisasi Warga Tangsel!

January 20, 2026
Muhammadiyah Kritik Operasi Gakkumdu, Sebut Pemkot Tangsel Standar Ganda

Muhammadiyah Kritik Operasi Gakkumdu, Sebut Pemkot Tangsel Standar Ganda

January 19, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Sanae Takaichi dan Tantangan Ekonomi Dua Kecepatan Jepang

Memahami Sistem Politik Jepang: Mengapa DPR Bisa Dibubarkan Kapan Saja?

January 24, 2026
Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

January 24, 2026
Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

January 24, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Di Balik Pernyataan Purbaya: Rupiah dan Rapuhnya Fondasi Ekonomi Indonesia

January 24, 2026
Walau Seblak Menyalahi Kodrat, Tapi Lidah Belajar Berdamai

Walau Seblak Menyalahi Kodrat, Tapi Lidah Belajar Berdamai

January 24, 2026
Terjawab Sudah, Orang Besar di Balik Kasus Ijazah Palsu Jokowi adalah Eggy Sudjana

Terjawab Sudah, Orang Besar di Balik Kasus Ijazah Palsu Jokowi adalah Eggy Sudjana

January 24, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Sanae Takaichi dan Tantangan Ekonomi Dua Kecepatan Jepang

Memahami Sistem Politik Jepang: Mengapa DPR Bisa Dibubarkan Kapan Saja?

January 24, 2026
Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

January 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist