• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

MERDEKA TANPA PETANI: SIAPA SEBENARNYA TUAN DI NEGERI INI?

Ir Entang Sastraatmaja by Ir Entang Sastraatmaja
December 17, 2025
in Feature, Komunitas
0
PETANI DI NEGERI SENDIRI: NELANGSA DI LADANG KEMAKMURAN
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Entang Sastraatmadja

Tidak lebih dari sebulan lagi, bangsa ini akan menutup lembaran tahun 2025. Satu tahun yang meninggalkan beragam catatan penting dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Pemerintahan Presiden Prabowo telah menetapkan sejumlah program prioritas yang mesti segera diwujudkan. Namun satu hal tak boleh dilupakan: keberhasilan program itu hanya mungkin terjadi bila seluruh komponen bangsa benar-benar dilibatkan.

Dari sekian banyak komponen bangsa tersebut, kaum tani patut ditempatkan sebagai kelompok yang paling layak mendapat perhatian serius. Ironisnya, hingga hari ini, kehidupan petani masih terekam memprihatinkan. Banyak pihak bahkan menyimpulkan dengan getir: petani belum pantas disebut sebagai penikmat pembangunan, tetapi justru lebih tepat disebut sebagai korban pembangunan. Hidup mereka masih bergulat dengan kesengsaraan dan kemelaratan.

Nelangsanya kehidupan kaum tani, meski bangsa ini hampir delapan dekade merdeka, tentu menjadi kegelisahan bersama. Bagaimana mungkin kemerdekaan yang seharusnya melahirkan berkah kehidupan justru berubah menjadi tragedi kehidupan bagi petani? Di sinilah ironi itu menganga lebar.

Karena itu, sangat relevan bila menjelang peringatan 80 tahun kemerdekaan NKRI, kita kembali mempertanyakan: kapan petani di negeri ini benar-benar merdeka dari jerat kemiskinan? Kita tidak ingin lagi mendengar kesejahteraan petani hanya hadir sebagai jargon politik, atau sekadar pemanis pidato para pejabat.

Sejatinya, salah satu tujuan utama sebuah bangsa memerdekakan diri adalah memajukan kesejahteraan umum—termasuk kaum tani. Tujuan nasional itu bahkan telah ditegaskan secara eksplisit dalam Pembukaan UUD 1945. Maka menjadi tidak masuk akal bila kemerdekaan justru melahirkan penderitaan bagi sebagian warga bangsanya.

Fakta bahwa hingga kini masih terdapat sekitar 22 juta rumah tangga penerima Program Bantuan Pangan Beras, adalah alarm keras bahwa ada yang keliru dalam skenario pembangunan nasional. Pertanyaannya sederhana, tetapi mendasar: di mana letak kesalahan itu? Apakah pada perencanaan yang kurang berkualitas, atau pada pelaksanaan yang amburadul? Lalu ke mana perginya slogan klasik sukses perencanaan sama dengan sukses pelaksanaan?

Inilah pekerjaan rumah besar bangsa ini. Termasuk di dalamnya keberanian untuk meninjau ulang regulasi sistem perencanaan pembangunan itu sendiri. Hingga kini kita masih bergantung pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Undang-undang yang telah berusia 21 tahun itu jelas lahir dari konteks zaman yang sangat berbeda dengan realitas hari ini. Tak mengherankan bila dari arus bawah terus mengalir tuntutan agar UU tersebut direvitalisasi.

Salah satu praktik yang semakin kehilangan marwah adalah Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), dari desa hingga pusat. Proses panjang yang menyita waktu berbulan-bulan itu, sayangnya kerap berakhir dengan kekecewaan. Produk akhirnya sering kali tidak mencerminkan aspirasi masyarakat, melainkan lebih mengakomodasi titipan “yang terhormat” atau kehendak birokrasi.

Musrenbang seharusnya menjadi ruang artikulasi kepentingan rakyat, bukan sekadar ritual administratif. Bagi petani, forum ini mestinya mampu merekam denyut kata hati mereka. Dari berbagai pantauan di lapangan, aspirasi petani sebenarnya sangat sederhana: tidak langkanya pupuk saat musim tanam, dan tidak anjloknya harga saat musim panen.

Pertanyaannya kemudian: mengapa negara seolah kesulitan menjawab tuntutan sesederhana itu? Dengan seabrek kewenangan yang dimiliki, mengapa pemerintah tampak tak berdaya menghadapi mafia pupuk dan para penguasa harga? Ada apa sebenarnya dengan tata kelola negara ini?

Jika pemerintah sungguh-sungguh ingin berpihak kepada petani, maka tak ada alasan untuk menunda penyelesaian dua persoalan krusial tersebut. Negara harus berani memberikan jaminan nyata: pupuk tersedia tepat waktu, dan harga panen terjaga pada tingkat yang menguntungkan petani.

Delapan puluh tahun Indonesia merdeka seharusnya menjadi momentum kebangkitan tekad kolektif untuk benar-benar menjadi bangsa yang merdeka. Bagi kaum tani, ukuran kemerdekaan itu sangat jelas: sejauh mana negara mampu membebaskan mereka dari lingkaran setan kemiskinan (the vicious circle of poverty).

Petani tidak butuh janji. Singkirkan “omon-omon” yang hanya membuat hati berbunga-bunga sesaat. Petani hari ini menuntut bukti. Mereka ingin melihat keselarasan antara kata dan perbuatan para penguasa.

Semoga ke depan, pemerintah mampu menghadirkan keberpihakan yang nyata—menjadikan petani bukan sekadar objek pembangunan, melainkan penikmat pembangunan sekaligus tuan di negerinya sendiri.

(Penulis adalah Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

15 WN China Bersenjata Menyerang TNI: Kedaulatan yang Dilanggar di Tanah Sendiri

Next Post

Ketapang Bukan Insiden Tunggal: Ketika Oligarki, Tenaga Asing, dan Kedaulatan Negara Berkelindan

Ir Entang Sastraatmaja

Ir Entang Sastraatmaja

Related Posts

Sanae Takaichi dan Tantangan Ekonomi Dua Kecepatan Jepang
Feature

Memahami Sistem Politik Jepang: Mengapa DPR Bisa Dibubarkan Kapan Saja?

January 24, 2026
Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris
Crime

Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

January 24, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya
Economy

Di Balik Pernyataan Purbaya: Rupiah dan Rapuhnya Fondasi Ekonomi Indonesia

January 24, 2026
Next Post
Apa Kata KKP Tentang Pagar Misterius di Perairan Tangerang?

Ketapang Bukan Insiden Tunggal: Ketika Oligarki, Tenaga Asing, dan Kedaulatan Negara Berkelindan

Prabowo Temui Xin Jinping di China

China dan Strategi Kuda Troya Hancurkan Indonesia

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD
Feature

OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD

by Karyudi Sutajah Putra
January 21, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Presiden Prabowo Subianto dan partai politik-partai politik pendukungnya, yang mewacanakan...

Read more
LBH Keadilan: Stop Kriminalisasi Warga Tangsel!

LBH Keadilan: Stop Kriminalisasi Warga Tangsel!

January 20, 2026
Muhammadiyah Kritik Operasi Gakkumdu, Sebut Pemkot Tangsel Standar Ganda

Muhammadiyah Kritik Operasi Gakkumdu, Sebut Pemkot Tangsel Standar Ganda

January 19, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Sanae Takaichi dan Tantangan Ekonomi Dua Kecepatan Jepang

Memahami Sistem Politik Jepang: Mengapa DPR Bisa Dibubarkan Kapan Saja?

January 24, 2026
Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

January 24, 2026
Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

January 24, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Di Balik Pernyataan Purbaya: Rupiah dan Rapuhnya Fondasi Ekonomi Indonesia

January 24, 2026
Walau Seblak Menyalahi Kodrat, Tapi Lidah Belajar Berdamai

Walau Seblak Menyalahi Kodrat, Tapi Lidah Belajar Berdamai

January 24, 2026
Terjawab Sudah, Orang Besar di Balik Kasus Ijazah Palsu Jokowi adalah Eggy Sudjana

Terjawab Sudah, Orang Besar di Balik Kasus Ijazah Palsu Jokowi adalah Eggy Sudjana

January 24, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Sanae Takaichi dan Tantangan Ekonomi Dua Kecepatan Jepang

Memahami Sistem Politik Jepang: Mengapa DPR Bisa Dibubarkan Kapan Saja?

January 24, 2026
Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

January 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...