• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Crime

15 WN China Bersenjata Menyerang TNI: Kedaulatan yang Dilanggar di Tanah Sendiri

fusilat by fusilat
December 17, 2025
in Crime, Health
0
15 WN China Bersenjata Menyerang TNI: Kedaulatan yang Dilanggar di Tanah Sendiri

Barang Bukti Yg Dirusak WN China di Ketapang. (Foto: dok Istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Ada sesuatu yang janggal—bahkan memalukan—dari peristiwa di area tambang emas PT Sultan Rafli Mandiri, Ketapang, Kalimantan Barat. Bukan semata karena keributan di lokasi tambang. Bukan pula sekadar soal kerusakan kendaraan perusahaan. Yang dipertaruhkan jauh lebih serius: kedaulatan negara di wilayahnya sendiri.

Sebanyak 15 warga negara asing asal China, bersenjata tajam, airsoft gun, dan alat setrum, diduga menyerang petugas keamanan dan lima anggota TNI. Kejadian itu berlangsung siang hari, terbuka, dan terjadi setelah pengejaran terhadap aktivitas drone ilegal di kawasan tambang. Negara seperti mendadak menjadi penonton di rumahnya sendiri.

Di Indonesia, warga sipil dilarang memiliki senjata. Bahkan aparat negara pun tunduk pada aturan ketat penggunaan kekuatan bersenjata. Namun di Ketapang, logika itu runtuh: WNA justru datang dengan senjata, menyerang aparat TNI, dan membuat kerusakan—tanpa kejelasan status hukum di awal kejadian.

Pertanyaannya sederhana namun mengganggu:
bagaimana mungkin orang asing membawa senjata perang—atau setidaknya alat kekerasan—di wilayah Republik Indonesia?

Insiden ini bermula dari penerbangan drone misterius di area tambang. Drone di kawasan strategis bukan perkara sepele. Di banyak negara, aktivitas semacam itu langsung dikategorikan sebagai ancaman keamanan. Lima anggota Yonzipur 6/Satya Digdaya yang tengah latihan satuan ikut melakukan pengejaran bersama pengamanan perusahaan. Respons wajar. Profesional. Sesuai prosedur.

Namun yang mereka hadapi justru serangan balik. Bukan dari kelompok kriminal lokal, melainkan dari belasan WNA yang membawa senjata dan menyerang aparat negara. Aparat TNI—simbol pertahanan negara—terpaksa mundur karena kalah jumlah.

Di titik inilah kedaulatan diuji.

Kedaulatan bukan hanya soal bendera dan pidato. Ia hidup dari kemampuan negara mengontrol siapa yang boleh membawa senjata, siapa yang boleh menggunakan kekerasan, dan siapa yang tunduk pada hukum nasional. Ketika WNA bisa bersenjata, melakukan penyerangan, lalu kasusnya berhenti pada frasa “situasi kondusif”, ada yang salah dalam cara negara membaca ancaman.

Lebih mengkhawatirkan, hingga beberapa waktu setelah kejadian, belum ada laporan resmi ke kepolisian. Proses hukum seolah menggantung, menunggu pertimbangan pengacara perusahaan. Padahal, yang diserang bukan hanya aset swasta, tetapi aparat TNI dan otoritas negara.

Ini bukan lagi soal konflik industrial. Ini soal martabat negara.

Indonesia bukan negara tanpa hukum. Tetapi berulang kali, dalam kasus yang melibatkan investasi asing, hukum tampak ragu melangkah. Tambang, proyek strategis, dan modal besar sering menciptakan zona abu-abu: di mana kedaulatan terasa lentur, dan penegakan hukum terasa selektif.

Jika warga negara sendiri dilarang memiliki senjata, lalu bagaimana negara menjelaskan keberadaan WNA bersenjata di wilayah tambang? Jika aparat TNI bisa diserang, lalu siapa sebenarnya yang berkuasa di lapangan?

Peristiwa Ketapang menyisakan pesan yang tak boleh diabaikan: tanpa ketegasan negara, kedaulatan bisa berubah menjadi slogan kosong. Dan bila negara gagal menunjukkan otoritasnya hari ini, besok kekerasan semacam ini bisa dianggap lumrah—bahkan dinegosiasikan.

Negara tak boleh kalah di tanahnya sendiri. Bukan oleh senjata, bukan oleh modal, dan bukan oleh sikap ragu menegakkan hukum.

Catatan Khusus: Bayang-Bayang Geopolitik di Balik Tambang

Insiden di Ketapang tak bisa dilepaskan dari konteks yang lebih luas: relasi geopolitik Indonesia–China yang kian asimetris, terutama di sektor sumber daya alam. Dalam satu dekade terakhir, China bukan sekadar mitra dagang, melainkan aktor dominan dalam proyek tambang, smelter, energi, hingga infrastruktur strategis nasional.

Masuknya tenaga kerja asing asal China ke kawasan tambang bukan hal baru. Yang menjadi soal bukan kehadirannya, melainkan rasa kebal hukum yang kerap menyertainya. Ketika WNA bersenjata berani menyerang aparat TNI, muncul kesan bahwa sebagian entitas asing beroperasi seolah berada di wilayah ekstra-teritorial—di mana hukum nasional terasa lunak, bahkan bisa ditawar.

China dikenal sebagai negara yang sangat protektif terhadap kedaulatannya. Aktivitas drone tanpa izin di wilayah sensitif di China nyaris mustahil dibiarkan, apalagi jika melibatkan orang asing. Ironisnya, di Indonesia, justru aparat negara yang harus menghindari benturan setelah diserang WNA.

Ketimpangan ini berbahaya. Ia menciptakan preseden bahwa kepentingan investasi bisa menggeser garis tegas kedaulatan, dan bahwa relasi ekonomi dapat mereduksi ketegasan negara dalam urusan keamanan. Jika dibiarkan, Indonesia berisiko dipersepsikan bukan sebagai negara berdaulat penuh, melainkan sekadar ruang operasional modal asing.

Peristiwa Ketapang seharusnya menjadi alarm: hubungan bilateral tak boleh membuat negara kehilangan keberanian menegakkan hukum. Sebab dalam geopolitik, negara yang ragu menindak pelanggaran di wilayahnya sendiri sedang mengirim sinyal kelemahan—bukan kemitraan.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Banjir Sumatera: Penanganan Lambat yang Bisa Jadi Bom Waktu untuk Prabowo

Next Post

MERDEKA TANPA PETANI: SIAPA SEBENARNYA TUAN DI NEGERI INI?

fusilat

fusilat

Related Posts

Pangeran Saudi Ditemukan Tewas di Hotel Mewah London, Koroner: Dipicu Campuran Alkohol dan Narkoba
Crime

Pangeran Saudi Ditemukan Tewas di Hotel Mewah London, Koroner: Dipicu Campuran Alkohol dan Narkoba

July 27, 2026
Bentrok Berdarah di NTT: Hentikan Ekspansi Militer dalam Program Ekonomi Desa!
Crime

Bentrok Berdarah di NTT: Hentikan Ekspansi Militer dalam Program Ekonomi Desa!

July 21, 2026
Kasus Febrie dan Hotman: Integritas Penegakan Hukum, Martabat Wartawan, dan Kualitas Komunikasi Publik
Crime

Polda Metro Mulai Selidiki Laporan PWI terhadap Hotman Paris, Ketua Umum PWI: Ini Soal Martabat Profesi Wartawan

July 21, 2026
Next Post
PETANI DI NEGERI SENDIRI: NELANGSA DI LADANG KEMAKMURAN

MERDEKA TANPA PETANI: SIAPA SEBENARNYA TUAN DI NEGERI INI?

Apa Kata KKP Tentang Pagar Misterius di Perairan Tangerang?

Ketapang Bukan Insiden Tunggal: Ketika Oligarki, Tenaga Asing, dan Kedaulatan Negara Berkelindan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Habis Nanik, Terbitlah Hotman
Feature

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

by Karyudi Sutajah Putra
July 23, 2026
0

Jakarta - Setelah Nanik S Deyang, kini giliran pengacara kondang Hotman Paris Hutapea yang menyatakan mundur. Jika Nanik mundur dari...

Read more
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026
Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

July 28, 2026
Mengapa Kepuasan Publik terhadap Prabowo Terus Menurun?

Mengapa Kepuasan Publik terhadap Prabowo Terus Menurun?

July 28, 2026
Pangeran Saudi Ditemukan Tewas di Hotel Mewah London, Koroner: Dipicu Campuran Alkohol dan Narkoba

Pangeran Saudi Ditemukan Tewas di Hotel Mewah London, Koroner: Dipicu Campuran Alkohol dan Narkoba

July 27, 2026
Publik Bukan Koruptor Kata-kata, Fifi!

Publik Bukan Koruptor Kata-kata, Fifi!

July 27, 2026

TANGGAPAN UNTUK ADHIE DAN HENDARDI: JANGAN HANYA MEMINDAHKAN PERKARA, PERBAIKI SISTEM

July 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026
Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

July 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist