Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Realistis! Itulah langkah yang ditempuh Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis, dua tersangka kasus tuduhan ijazah palsu mantan Presiden Joko Widodo. Demi realitas, idealisme pun mereka singkirkan. Tak peduli nama besar mereka sebagai aktivis jatuh terjerembab. Mereka menyerah melawan Jokowi.
Kita pun jadi teringat dengan ungkapan Basuki Tjahaja Purnama. Bekas Gubernur DKI Jakarta yang akrab disapa Ahok itu pernah menyatakan, Jokowi kalau mau membunuh katak akan dilakukan dengan pelan. Katak itu ditaruh di kuali berisi air di atas kompor, lalu kompor itu dinyalakan pelan, mulai dari api kecil hingga besar, sehingga katak akan mati pelan-pelan dan puncaknya adalah ketika air mencapai titik didih. Saat itulah katak mati.
Begitulah Jokowi. Sebenarnya dengan mudah ia bisa menunjukkan kepada publik apakah ijazah S1 Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang ia miliki itu palsu atau tidak. Tapi Jokowi tidak melakukannya. Ia hanya mau menunjukkan ijazahnya di pengadilan. Tapi itu pun tidak ia lakukan. Ia sekadar main tarik-ulur supaya lawan-lawannya mati kelelahan dengan sendirinya.
Akhirnya terbukti. Sebelum “mati kelelahan”, Eggy Sudjana dan Hari Lubis pun menyerah. Keduanya “sowan” ke kediaman Jokowi di Solo, Jawa Tengah. Beberapa hari setelah itu, Polda Metro Jaya mencabut status tersangka keduanya melalui Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3).
Bau pengap jeruji penjara pun langsung menguap dari hidung Eggy dan Damai. Eggy sudah tidak “sujana” (berprasangka buruk) lagi kepada Jokowi. Damai pun berubah menjadi suka damai.
Sebaliknya, Polda Metro Jaya tidak menerbitkan SP3 untuk lima tersangka lainnya, termasuk Roy Suryo, Rismon Sianipar dan dokter Tifa.
Realistis
Eggy Sudjana saat ini dalam kondisi sakit-sakitan. Sebab itu, langkah polisi mencegah dia bepergian keluar negeri sangat merugikannya. Nah, begitu status cegah dicabut seiring terbitnya SP3, dia langsung pergi ke Penang, Malaysia, untuk mengobati penyakit kankernya.
Begitu pun Damai Hari Lubis. Eksponen gerakan 212, seperti juga Eggy, ini juga realistis. Secara ekonomi ia terlihat memiliki keterbatasan. Akhirnya ia pun menyerah.
Eggy dan Damai berlatar belakang pengacara. Mungkin keduanya paham secara hukum tak akan menang melawan Jokowi, sehingga akhirnya menyerah.
Apalagi Jokowi terkesan dilindungi Presiden Prabowo Subianto dan juga Kapolri Jenderal Lustyo Sigit Prabowo.
Sayangnya, aksi lempar handuk atau pengibaran bendera putih itu Eggy lakukan dengan kesan menjilat Jokowi. Ia memuji-muji Jokowi, setelah sebelumnya banyak mencaci-maki.
Pujian itu ia tulis dalam sebuah buku, pun ia lontarkan dalam bentuk ucapan. Bahkan ia memuji akhlak Jokowi lebih baik daripada akhlaknya.
Mengapa semua itu Eggy lakukan? Karena ia realistis. Pertama, karena dirinya sakit-sakitan. Kedua, karena is sadar tak akan menang melawan Jokowi.
Idealisme pun ia korbankan. Maka citra Eggy sebagai aktivis kawakan yang memang sejak dulu menentang Jokowi luruh sudah. Ia dinilai sebagai seorang pecundang.
Lebih ironis lagi, semua itu ia lakukan dengan mengkhianati Roy Suryo dkk yang seakan ia pojokkan. Tanpa sepersetujuan teman-teman seperjuangannya. Eggy bahkan menyindir Roy Suryo dkk sebagai jagoan.
Akan tetapi, sekali lagi, Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis realistis. Konsekuensinya, citra mereka sebagai aktivis militan pun luruh sudah. Das sein pun jauh dari das sollen. Itulah!
Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)



















