M Yamin Nasution SH
๐น๐๐๐ข๐ ๐ด๐๐ฃ๐๐๐๐ก ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐
๐๐๐ข๐๐๐๐ ๐ผ๐๐๐๐๐๐ ๐๐ (๐น๐ด๐๐
๐ผ) ๐๐๐ ๐ฟ๐๐๐๐๐๐ ๐ต๐๐๐ก๐ข๐๐ ๐ป๐ข๐๐ข๐ (๐ฟ๐ต๐ป) ๐น๐ด๐๐
๐ผ
๐๐๐ง๐๐๐ก๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐๐ง: ๐๐๐ฆ๐๐๐๐ ๐๐๐ค๐ฌ ๐๐๐ซ๐ข ๐๐ฎ๐๐ง๐ ๐๐ข๐๐๐ง๐
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk ๐ฆ๐๐ฆ๐ฉ๐๐ซ๐ญ๐๐ง๐ญ๐๐ง๐ ๐ค๐๐ง ๐ข๐ฆ๐๐ง, apalagi menilai kesucian Kitab Suci. Kepada saudara-saudara yang mengimani teks-teks ini, para senior dan akademisi yang hukum, penulis menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya. Pendekatan yang digunakan di sini sepenuhnya historis dan yuridis, bukan ๐ญ๐๐จ๐ฅ๐จ๐ ๐ข๐ฌ ๐ง๐จ๐ซ๐ฆ๐๐ญ๐ข๐. Teks-teks Perjanjian Baru dibaca sebagaimana para sejarawan hukum membaca dokumen kuno: menurut forum asalnya.
Tulisan ini lahir dari satu ๐ค๐๐ ๐๐ฅ๐ข๐ฌ๐๐ก๐๐ง ๐ค๐จ๐ง๐ญ๐๐ฆ๐ฉ๐จ๐ซ๐๐ซ, kembalinya kecenderungan pemikir hukum dan negara untuk ๐ฆ๐๐ฆ๐ข๐๐๐ง๐ ๐ฎ๐ฃ๐๐ซ๐๐ง ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐ข๐๐ง๐ ๐ ๐๐ฉ ๐ฆ๐๐ง๐ ๐ก๐ข๐ง๐ ๐ค๐๐ญ๐๐ซ๐ญ๐ข๐๐๐ง ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฆ, ๐ฅ๐๐ฆ๐๐๐ ๐ ๐ง๐๐ ๐๐ซ๐, ๐๐ญ๐๐ฎ ๐ฆ๐๐ซ๐ญ๐๐๐๐ญ ๐๐ซ๐๐ฌ๐ข๐๐๐ง, sebagaimana tampak dalam KUHP Nasional yang baru (Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023). Bahasa hukumnya modern, tetapi logika pemidanaannya sesungguhnya sangat tua. Karena itu, untuk memahami persoalan hari ini, kita justru perlu ๐ค๐๐ฆ๐๐๐ฅ๐ข jauh ke masa sebelum Masehi, ke akar filsafat hukum Yunani dan Romawi, tempat batas-batas pemidanaan pertama kali dirumuskan secara jernih.
Dalam ๐๐ข๐ฅ๐จ๐ฅ๐จ๐ ๐ข ๐ค๐ฅ๐๐ฌ๐ข๐ค dan sejarah hukum dikenal satu prinsip metodologis mendasar, dimana setiap teks harus dibaca sesuai dengan ruang sosial dan hukum tempat ia lahir. Pidato politik tidak dibaca sebagai do’a. Risalah filsafat tidak dibaca sebagai laporan peristiwa. Dan pidato pembelaan di pengadilan tidak dibaca sebagai norma ajaran universal.
Dengan kerangka ini, tulisan ini mengajukan satu tesis utama: sejak hukum pidana klasik, negara hanya berwenang menghukum perbuatan lahiriah, bukan keyakinan batin, dan prinsip pembatasan ini justru tampak paling jelas dalam pleidoi Paulus di hadapan pengadilan Romawi. Pidato-pidato ๐๐๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐ฌ dalam ๐๐ข๐ฌ๐๐ก ๐๐๐ซ๐ ๐๐๐ฌ๐ฎ๐ฅ ๐ฉ๐๐ฌ๐๐ฅ ๐๐- ๐๐ bukanlah khotbah teologis, melainkan bahasa ๐ฉ๐๐ฆ๐๐๐ฅ๐๐๐ง ๐๐จ๐ซ๐๐ง๐ฌ๐ข๐ค, bahasa seorang terdakwa yang berupaya menggugurkan unsur ๐๐๐๐๐ di hadapan hakim.
๐๐๐ญ๐จ๐ซ๐ข๐ค๐ ๐ ๐จ๐ซ๐๐ง๐ฌ๐ข๐ค: ๐๐๐ง๐ข ๐๐๐ซ๐๐ข๐๐๐ซ๐ ๐๐ข ๐๐๐๐๐ฉ๐๐ง ๐๐๐ค๐ข๐ฆ
Aristoteles, dalam ๐ โ๐๐ก๐๐๐๐๐ (abad ke-4 SM), membagi wacana publik ke dalam tiga jenis: deliberatif (๐ ๐ฆ๐๐๐๐ข๐๐๐ข๐ก๐๐๐๐), yakni pidato politik tentang kebijakan masa depan; epideiktik, pidato pujian atau celaan dalam konteks seremonial; dan forensik (๐๐๐๐๐๐๐๐๐), yakni pidato hukum di pengadilan.
Istilah ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ (ฮดฮนฮบฮฑฮฝฮนฮบฮฟฬฮฝ) berarti retorika pengadilan, seni berbicara untuk ๐ฆ๐๐ง๐ฎ๐๐ฎ๐ก ๐๐ญ๐๐ฎ ๐ฆ๐๐ฆ๐๐๐ฅ๐ ๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐ฉ๐๐ซ๐ค๐๐ซ๐ ๐ฉ๐ข๐๐๐ง๐. Tujuannya bukan pembentukan ๐ข๐ฆ๐๐ง ๐๐ญ๐๐ฎ ๐ฉ๐๐ง๐๐ข๐๐ข๐ค๐๐ง ๐ฆ๐จ๐ซ๐๐ฅ, melainkan satu hal yang sangat konkret: putusan hakim, bersalah atau tidak bersalah. Karena itu, bahasa forensik selalu bersifat situasional, strategis, dan defensif. Ia tidak dimaksudkan untuk berlaku universal, melainkan untuk menyelamatkan subjek hukum dalam satu perkara tertentu. Di ruang inilah ๐๐๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐ฌ berbicara.
๐จ๐๐๐๐๐๐๐: ๐๐๐ฆ๐๐๐ฅ๐๐๐ง ๐๐๐ซ๐๐๐ค๐ฐ๐, ๐๐ฎ๐ค๐๐ง ๐๐๐ฌ๐๐ค๐ฌ๐ข๐๐ง ๐๐ฆ๐๐ง
Salah satu istilah kunci dalam ๐๐ข๐ฌ๐๐ก ๐๐๐ซ๐ ๐๐๐ฌ๐ฎ๐ฅ adalah kata Yunani ๐๐๐๐๐๐๐๐ (ฮฑฬฯฮฟฮปฮฟฮณฮนฬฮฑ), yang berarti pidato pembelaan resmi seorang terdakwa di pengadilan. Dalam dunia Yunani dan Romawi, ๐๐๐๐๐๐๐๐ adalah istilah teknis hukum, bukan istilah ๐ซ๐๐ฅ๐ข๐ ๐ข๐ฎ๐ฌ.
Ketika ๐๐๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐ฌ berkata, โ๐ซ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐โ (๐ฒ๐๐. 22:1), ia secara sadar memposisikan dirinya sebagai ๐ญ๐๐ซ๐๐๐ค๐ฐ๐ yang sedang berpleidoi, bukan sebagai guru yang sedang merumuskan ajaran normatif. Membaca kalimat ini sebagai dogma iman adalah kekeliruan forum, bahasa pembelaan diperlakukan seolah-olah bahasa legislasi moral.
๐๐๐ฌ๐ฎ๐ฌ ๐๐๐ง ๐๐๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐ฌ ๐๐ข ๐๐ฎ๐๐ง๐ ๐๐ข๐๐๐ง๐ : ๐๐ฎ๐ ๐๐ข๐ค๐๐ฉ ๐๐๐ซ๐๐๐๐, ๐๐ฎ๐ ๐๐จ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข ๐๐ฎ๐ค๐ฎ๐ฆ
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara ๐๐๐ฌ๐ฎ๐ฌ ๐๐๐ง ๐๐๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐ฌ โ๐ก๐๐๐โ ๐ฆ๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐๐ ๐ ๐ก๐๐๐ ๐๐๐ข๐กโฆโ perbedaan yang kerap kabur karena dibaca secara teologis, bukan yuridis.
๐๐๐ฌ๐ฎ๐ฌ, dalam Injil, tidak menggunakan bahasa pembelaan hukum. Ia diam di hadapan Mahkamah Yahudi, menjawab singkat di hadapan Pilatus, tidak menyangkal tuduhan, dan tidak berusaha menggugurkan unsur delik. Dalam istilah hukum Romawi, sikap ini dikenal sebagai ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ (diam secara sadar) atau ๐๐๐-๐ ๐๐๐๐๐๐๐ (penolakan membela diri). ๐๐๐ฌ๐ฎ๐ฌ tidak memasuki arena forensik karena posisinya bukan sebagai subjek hukum yang hendak diselamatkan, melainkan ๐๐ข๐ ๐ฎ๐ซ ๐ฉ๐ซ๐จ๐๐๐ญ๐ข๐ค yang menghadapkan hukum pada batas moralnya sendiri.
๐๐๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐ฌ mengambil jalan yang sepenuhnya berbeda. Ia berbicara panjang, menyusun argumen, menegaskan status kewarganegaraan Romawi, dan bahkan mengajukan banding kepada Kaisar (๐๐๐๐ฃ๐๐๐๐ก๐๐ ๐๐ ๐ถ๐๐๐ ๐๐๐๐). Perbedaan ini bukan perbedaan iman, melainkan perbedaan posisi yuridis. ๐๐๐ฌ๐ฎ๐ฌ berdiri di luar hukum untuk menguji hukum, ๐๐๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐ฌ berdiri di dalam hukum untuk dilindungi oleh hukum. Mencampuradukkan keduanya adalah kekeliruan kategori.
๐๐ฎ๐๐ฎ๐ก๐๐ง ๐ญ๐๐ซ๐ก๐๐๐๐ฉ ๐๐๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐ฌ ๐๐๐ง ๐๐จ๐ ๐ข๐ค๐ ๐๐๐ฃ๐๐ก๐๐ญ๐๐ง ๐๐ฎ๐๐ฅ๐ข๐ค
Dalam hukum Romawi, kejahatan dibedakan antara ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ฃ๐๐ก๐ (kejahatan antarindividu) dan ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ (kejahatan terhadap ketertiban umum dan kewibawaan negara). Tuduhan terhadap ๐๐๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐ฌ ditempatkan dalam kategori kedua, penghasutan (๐๐๐ ๐๐๐๐), perendahan ๐ฐ๐ข๐๐๐ฐ๐ ๐ค๐๐ฉ๐๐ฅ๐ ๐ง๐๐ ๐๐ซ๐ (๐๐๐๐๐๐๐๐), atau praktik keagamaan yang dianggap mengganggu ketertiban umum (๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐). Namun, sebagaimana ditegaskan oleh Plinius Muda, negara Romawi tidak mengadili ajaran, melainkan dampak sosial yang nyata.
๐๐๐ง๐ ๐ก๐๐ซ๐๐ฉ๐๐ง ๐ฌ๐๐๐๐ ๐๐ข ๐๐ข๐ค๐๐ฉ ๐๐๐ญ๐ข๐ง: ๐๐ข๐ฅ๐๐ฒ๐๐ก ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐๐ค ๐๐๐ฉ๐๐ญ ๐๐ข๐ฉ๐ข๐๐๐ง๐
Puncak seni ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐ฌ terletak pada satu kalimat singkat: โ๐ฒ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐, ๐๐๐ ๐ ๐๐๐ ๐๐๐โ (๐ฒ๐๐. 23:6). Kata ๐๐๐๐๐ (ฮตฬฮปฯฮนฬฯ) berarti pengharapan batin, keyakinan internal, bukan tindakan lahiriah.
Dengan sengaja ๐๐๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐ฌ memindahkan pusat perkara dari perbuatan ke sikap batin, wilayah yang dalam hukum klasik berada di luar jangkauan pidana. Hukum Romawi membedakan antara ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ (pikiran batin) dan ๐๐๐ก๐ข๐ (perbuatan nyata). Negara hanya menghukum ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐, bukan iman, pendapat, atau pengharapan.
Ketika ๐๐๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐ฌ bertanya, โ๐ด๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐โฆ?โ (๐ฒ๐๐. 26:8), ๐๐๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐ฌ sesungguhnya sedang mengajukan pertanyaan hukum implisit: sejak kapan negara berwenang menghukum keyakinan metafisis? Prinsip ini kelak dirumuskan secara sistematis oleh ๐๐ก๐จ๐ฆ๐๐ฌ ๐๐ช๐ฎ๐ข๐ง๐๐ฌ: ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ dimana hukum manusia hanya mengatur perbuatan lahiriah (๐๐ข๐๐๐ ๐โ๐๐๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐๐๐๐ (๐ผโ๐ผ๐ผ), ๐๐ข๐๐๐ ๐ก๐๐ 96).
๐๐๐ง๐ฎ๐ญ๐ฎ๐ฉ: ๐๐๐ญ๐๐ฌ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐ข๐ฃ๐๐ ๐ ๐จ๐ฅ๐๐ก ๐๐๐ฃ๐๐ซ๐๐ก
Sejarah hukum pidana tidak bergerak lurus ke depan. Ia berputar, mengulang, dan kadang justru mundur. ๐๐๐ฅ๐ข๐ค ๐ฉ๐๐ง๐ ๐ก๐ข๐ง๐๐๐ง ๐ญ๐๐ซ๐ก๐๐๐๐ฉ ๐ฅ๐๐ฆ๐๐๐ ๐ ๐ง๐๐ ๐๐ซ๐ ๐๐๐ง ๐ฉ๐๐ง๐ฃ๐๐ ๐๐๐ง ๐ฆ๐๐ซ๐ญ๐๐๐๐ญ ๐๐ซ๐๐ฌ๐ข๐๐๐ง ๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐๐๐๐ ๐๐๐ฌ๐ข๐จ๐ง๐๐ฅ hari ini menghidupkan kembali ๐๐๐ฅ๐ข๐ค ๐ฉ๐๐ง๐ ๐ก๐ข๐ง๐๐๐ง ๐ญ๐๐ซ๐ก๐๐๐๐ฉ ๐ฅ๐จ๐ ๐ข๐ค๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ yang telah dikenal sejak dunia ๐ฉ๐ซ๐-๐๐๐ฌ๐๐ก๐ข. Namun sejarah juga mengingatkan: bahkan hukum Romawi yang keras tetap membatasi pemidanaan pada perbuatan nyata, bukan sikap batin.
๐๐๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐ฌ tidak dibebaskan karena ajarannya dinilai benar atau salah, melainkan karena tuduhan pidana terhadapnya gugur secara hukum. Di situlah ๐ฆ๐๐ซ๐ญ๐๐๐๐ญ ๐ก๐ฎ๐ค๐ฎ๐ฆ ๐ฉ๐ข๐๐๐ง๐ ๐๐ข๐ฃ๐๐ ๐, bukan sebagai alat pemurnian keyakinan, melainkan sebagai penjaga ketertiban publik yang terbatas. Ketika ๐๐๐ญ๐๐ฌ ๐ข๐ง๐ข ๐๐ข๐ฅ๐๐ง๐ ๐ ๐๐ซ, hukum kehilangan wataknya dan berubah menjadi ๐ข๐ง๐ฌ๐ญ๐ซ๐ฎ๐ฆ๐๐ง ๐ค๐๐ค๐ฎ๐๐ฌ๐๐๐ง.
Dalam konteks hukum pidana Indonesia hari ini, pelajaran ini menjadi mendesak. Jika sejarah panjang pembatasan pemidanaan ini diabaikan, kita bukan sedang menciptakan ketertiban baru, melainkan menghidupkan kembali logika lama yang bahkan dunia kuno telah belajar untuk menahannya.
M Yamin Nasution SH






















