• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Ketika Gibran Dipaksa Untuk Naik Panggung: Ia Turun Tanpa Kehormatan

Ali Syarief by Ali Syarief
September 15, 2025
in Feature, Tokoh/Figur
0
Gibran Syah Secara Legal (Hans Kelsen) dan Akan Rubuh Karena Tidak Legitimate (Max Weber)
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Dalam tradisi filsafat Latin, terdapat adagium kuno: “que excdendit sine labore, decendit sine honore”. Sebuah kalimat pendek yang mengandung kedalaman makna, mengingatkan manusia bahwa kemuliaan tidak dapat dipetik tanpa peluh, dan kehormatan mustahil bertahan jika jalan naik dilalui dengan pintasan yang curang. Prinsip ini seolah menemukan aktualisasinya dalam panggung politik Indonesia hari ini, ketika seorang anak muda bernama Gibran Rakabuming Raka dipaksa untuk naik ke podium kekuasaan.

Kenaikan Gibran bukanlah cerita tentang meritokrasi. Ia tidak tumbuh dari tempaan perjuangan politik yang panjang, bukan pula buah dari gagasan besar yang lahir dari pergulatan pemikiran. Ia naik karena satu hal: garis keturunan. Di tengah realitas sosial yang keras, di mana jutaan anak muda berjuang menapaki tangga kehidupan dengan darah dan air mata, Gibran justru dipapah dengan tangan kekuasaan yang begitu protektif.

Filsafat kehormatan menuntut syarat: siapa yang hendak dihormati, harus terlebih dahulu layak dihormati. Namun, di sini, panggung politik diperlakukan bak warisan keluarga, bukan arena perjuangan ide dan integritas. Kenaikan Gibran menjadi potret telanjang bagaimana sistem politik kita telah dipelintir menjadi panggung dinasti. Ia naik bukan karena kerja kerasnya, melainkan karena “dipaksa naik”—didorong oleh kekuatan yang lebih besar dari dirinya, yakni ambisi ayahanda yang tak pernah kenyang pada kuasa.

Masalah mendasar dari kenaikan yang tidak alami adalah rapuhnya fondasi legitimasi. Publik menyaksikan dengan getir bahwa panggung itu bukan hasil kerja keras pribadi, melainkan karpet merah yang digelar oleh tangan kekuasaan. Di titik inilah adagium tadi bekerja: siapa yang naik tanpa keringat, niscaya turun tanpa kehormatan. Karena kehormatan hanya lahir dari pengakuan yang tulus, bukan dari paksaan atau manipulasi aturan.

Kehormatan sejati tak bisa diwariskan. Ia lahir dari integritas pribadi, keteguhan sikap, dan kejujuran dalam berjuang. Apa yang dialami Gibran justru kebalikannya: sebuah simbolisme kehinaan dari politik dinasti yang dipaksakan. Bukan ia yang naik, melainkan ia yang dinaikkan. Dan ketika seorang figur dinaikkan oleh tangan kuasa, maka publik tidak melihat kehormatan dalam dirinya, melainkan hanya bayangan dari kekuasaan yang mengangkatnya.

Pada akhirnya, panggung politik adalah arena ujian. Ia tidak mengenal belas kasihan. Publik bisa dibohongi sesaat, tetapi sejarah tidak pernah bisa ditipu. Sejarah hanya mencatat dengan teliti siapa yang naik dengan kerja keras, dan siapa yang sekadar numpang nama keluarga. Ketika waktu berputar, dan panggung itu harus ditinggalkan, barulah adagium Latin itu menjadi kenyataan: ia yang naik tanpa peluh, akan turun tanpa kehormatan.

Dengan kata lain, Gibran adalah contoh nyata dari sebuah paradoks politik: tubuhnya ada di podium, tetapi jiwanya belum pernah benar-benar layak berada di sana. Dan kelak, ketika panggung itu kehilangan lampunya, ia akan turun bukan sebagai sosok yang dikenang dengan hormat, melainkan sebagai catatan kering dalam sejarah politik Indonesia: seorang anak yang dipaksa naik panggung, hanya untuk turun tanpa kehormatan.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Terbukti Mengkriminalisasi Wartawan, PPWI Desak Kapolri Copot Kapolres Blora

Next Post

Bukan Tokoh Besar Pendukung Kami, Tapi Zat Yang Maha Besar!

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

Mundurnya Gubernur Bank Indonesia

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat
Feature

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026
Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo
Feature

Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

July 28, 2026
Next Post

Bukan Tokoh Besar Pendukung Kami, Tapi Zat Yang Maha Besar!

Berkah Orang Tua, Tapi Jalannya Belok ke Mana-Mana

Menangkap Tikus-tikus di PBNU

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Habis Nanik, Terbitlah Hotman
Feature

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

by Karyudi Sutajah Putra
July 23, 2026
0

Jakarta - Setelah Nanik S Deyang, kini giliran pengacara kondang Hotman Paris Hutapea yang menyatakan mundur. Jika Nanik mundur dari...

Read more
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

July 29, 2026
Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

July 29, 2026
Bandung Gelap, Warga Resah: Jalan Minim Penerangan Diduga Memicu Maraknya Aksi Begal

Bandung Gelap, Warga Resah: Jalan Minim Penerangan Diduga Memicu Maraknya Aksi Begal

July 28, 2026

Mundurnya Gubernur Bank Indonesia

July 28, 2026
Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

July 29, 2026
Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

July 29, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist