الْجَهْلُ مَطِيَّةٌ مَنْ رَكِبَهَا ذَلَّ، وَمَنْ صَاحَبَهَا ضَلَّ
(Refleksi atas pepatah Arab: “Al-jahlu mathiyyatun man rakibaha dzalla, wa man shāhabahā dhalla” — Kebodohan itu ibarat kendaraan; siapa yang menaikinya akan hina, dan siapa yang bersahabat dengannya akan sesat.)
Pepatah Arab kuno ini seakan menemukan relevansinya dalam lanskap politik Indonesia hari ini. Ia bukan sekadar petuah moral, melainkan potret sosial yang hidup di tengah kita: kebodohan dijadikan tunggangan, dan kekuasaan dijadikan jalan untuk melanggengkannya.
Kebodohan yang dimaksud bukan semata-mata ketidaktahuan, melainkan kesadaran yang ditumpulkan oleh kepentingan. Ia muncul ketika pemimpin tidak lagi memimpin dengan akal sehat, tetapi dengan ilusi pencitraan; ketika kebijakan lebih sering digerakkan oleh kepentingan keluarga ketimbang kepentingan rakyat. Di sinilah pepatah itu berbunyi tegas — siapa yang menaiki kendaraan kebodohan, akan hina; dan siapa yang menemaninya di jalan itu, akan sesat.
Kita melihat bagaimana kekuasaan di tangan Jokowi perlahan berubah menjadi kendaraan yang membawa bangsa ke arah kehinaan moral dan politik. Ia tidak lagi memimpin dengan kebijaksanaan, tetapi menunggangi kebodohan publik — menciptakan kebingungan lewat simbol-simbol sederhana, seolah merakyat, namun di baliknya mengukuhkan dinasti. Dari kursi istana hingga panggung politik daerah, kendali kekuasaan dijadikan milik keluarga.
Gibran menjadi penumpang utama di kendaraan itu. Ia tidak membangun reputasi dari kerja keras dan pengalaman panjang, melainkan dari nama belakang yang diwariskan. Ketika jabatan didapat bukan karena kapasitas, melainkan karena kedekatan darah, kebodohan berubah menjadi sistem. Ia mengalir dari pusat hingga daerah, menular kepada pengikut-pengikut yang lebih sibuk membela ketidakpantasan daripada memperjuangkan kebenaran.
Mereka yang berada di sekitar kekuasaan — para penjilat, oportunis, dan politisi tanpa nurani — menjadi “sahabat kebodohan” sebagaimana dimaksud dalam pepatah itu. Mereka tahu arah yang ditempuh keliru, tapi memilih diam. Mereka paham rakyat sedang ditipu, tapi ikut bersorak. Dan seperti pesan pepatah itu: siapa yang bersahabat dengan kebodohan, akan tersesat.
Bangsa yang besar tak pernah lahir dari pemimpin yang menunggangi kebodohan. Ia tumbuh dari keberanian untuk melawan kesesatan berpikir, dari kejujuran untuk berkata benar meski sendirian. Kini, di tengah parade pencitraan dan dinasti politik, pepatah itu kembali mengingatkan kita — jangan sampai kita menjadi penonton yang terseret dalam arak-arakan kebodohan.
Karena pada akhirnya, kehinaan terbesar bukan pada mereka yang memimpin dengan bodoh, tetapi pada kita yang tahu kebenaran namun membiarkannya dikalahkan oleh kebohongan.





















