• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

KIAI, PRIYAYI, DAN MENTALITAS “NRIMO”: REFLEKSI SOSIOKULTURAL ATAS DINAMIKA PESANTREN DI JAWA

fusilat by fusilat
October 6, 2025
in Feature
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Malika Dwi Ana

Pendahuluan

Tragedi ambruknya gedung di sebuah pesantren, seperti kasus Al Khozyni yang menewaskan puluhan santri, tidak hanya mengungkap kelalaian struktural, tetapi juga mencerminkan dinamika sosiokultural yang telah lama mengakar di masyarakat Jawa. Fenomena ini menyoroti bagaimana kiai, sebagai figur otoritas di pesantren, kerap menjelma menjadi “priyayi baru” atau bahkan “raja kecil,” mengendalikan sumber daya sosial dan spiritual tanpa selalu memberikan timbal balik yang setara. Sikap “nrimo ing pandum” (menerima apa adanya) dan jargon “nderek kersaning kiai” yang menggantikan “nderek kersaning Gusti” memperlihatkan betapa kuatnya otoritas kiai dalam membentuk pola pikir masyarakat. Artikel ini akan menganalisis fenomena tersebut, menghubungkannya dengan pengamatan klasik Clifford Geertz dalam bukunya The Religion of Java tentang santri, kiai, dan abangan, serta menekankan urgensi kesadaran kolektif untuk perubahan.

Kiai sebagai “Priyayi Baru”

Sejak era kolonial, kiai di pesantren telah menempati posisi yang menyerupai kelas priyayi dalam struktur sosial Jawa. Priyayi, sebagai elit yang mengendalikan sumber daya politik, sosial, dan ekonomi, memilikibeenar memiliki darah ningrat. Kiai, dengan legitimasi agama, mengisi ruang serupa di kalangan masyarakat agraris, terutama di pedesaan. Dalam analisis Geertz, kiai adalah figur sentral dalam komunitas santri, yang menekankan ortodoksi Islam dan disiplin keagamaan. Namun, berbeda dengan raja dalam sistem monarki Jawa yang memiliki kewajiban moral untuk melindungi dan menyejahterakan rakyat (sebagaimana terkandung dalam konsep manunggaling kawula gusti), kiai di beberapa pesantren justru menuntut loyalitas, sumbangan finansial, dan tenaga kerja gratis dari santri, sering kali tanpa jaminan keamanan atau kesejahteraan yang memadai.

Sistem pesantren, yang awalnya merupakan pusat pendidikan dan spiritualitas, dalam beberapa kasus berubah menjadi institusi yang memperkuat hierarki sosial. Santri, yang mayoritas berasal dari keluarga kurang mampu, sering kali menghadapi beban biaya pendidikan dan eksploitasi tenaga, seperti pekerjaan fisik atau pelayanan kepada kiai. Narasi agama, seperti jargon “nderek kersaning kiai,” kerap digunakan untuk membenarkan otoritas kiai, seolah menyamakan kehendak kiai dengan kehendak Tuhan. Padahal, dalam ajaran Islam yang murni, hanya Allah yang berhak atas kepatuhan mutlak (“nderek kersaning Gusti”). Fenomena ini mencerminkan pergeseran peran kiai dari pendidik spiritual menjadi figur otoritas yang nyaris tak tersentuh kritik, sebagaimana digambarkan Geertz dalam hubungan patron-klien antara kiai dan santri.

Eksploitasi dengan Alat Agama

Penggunaan agama sebagai alat legitimasi kekuasaan adalah aspek yang sangat problematik. Dalam budaya Jawa yang kental dengan nilai tawadlu (hormat, ngajeni) dan kepatuhan, kiai memiliki posisi yang hampir sakral, sehingga sulit dipertanyakan. Hal ini memungkinkan eksploitasi, baik secara ekonomi (biaya pesantren yang memberatkan) maupun tenaga (santri diminta bekerja tanpa upah). Dalam kasus tragedi di Al Khozyni, kelalaian pengurus dalam memastikan keamanan infrastruktur dilindungi dengan dalih “takdir,” menghindari akuntabilitas. Ini menunjukkan bagaimana agama kadang disalahgunakan untuk menutupi kegagalan struktural, sebuah pola yang juga terlihat dalam dinamika santri-kiai yang digambarkan Geertz, di mana kiai memiliki otoritas moral dan spiritual yang nyaris absolut.

Konteks Geertz: Santri, Kiai, dan Abangan

Dalam The Religion of Java (1960), Clifford Geertz membagi masyarakat Jawa menjadi tiga kelompok: santri (muslim ortodoks yang terkait erat dengan pesantren), abangan (muslim sinkretis dengan pengaruh Hindu-Buddha), dan priyayi (elit birokratik dengan nilai-nilai kejawen). Geertz menyoroti peran kiai sebagai pemimpin spiritual dan sosial dalam komunitas santri, yang tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga mengatur kehidupan sosial dan ekonomi santri. Namun, Geertz juga mencatat adanya ketegangan antara santri dan abangan, di mana santri sering kali memandang diri mereka lebih “murni” secara agama, sementara abangan lebih fleksibel dalam memadukan Islam dengan tradisi lokal. Dalam konteks artikel ini, dinamika kiai-santri menunjukkan bagaimana kiai memanfaatkan status “kesucian” mereka untuk mempertahankan kekuasaan, serupa dengan priyayi yang mengendalikan sumber daya melalui status sosial. Namun, tidak seperti priyayi yang berorientasi pada kekuasaan duniawi, kiai menggunakan legitimasi agama, yang membuat otoritas mereka lebih sulit ditantang. Tragedi seperti ambruknya bangunan di Al Khoziny memperlihatkan bagaimana mentalitas “nrimo ing pandum” di kalangan santri—yang oleh Geertz dilihat sebagai kepatuhan pada otoritas kiai—memperparah dampak kelalaian struktural.

Urgensi Kesadaran Kolektif

Mentalitas “nrimo ing pandum” dan kecenderungan mengagungkan kiai sebagai figur otoritas telah menciptakan budaya pasif yang menghambat perubahan. Untuk mengatasi ini, diperlukan langkah-langkah konkret:
1. Pendidikan Kritis: Masyarakat, terutama santri dan wali santri, perlu dilatih untuk berpikir kritis dan berani mempertanyakan otoritas tanpa melanggar nilai ketawadlu’an. Pendidikan agama yang seimbang, yang menekankan akuntabilitas manusia di samping konsep takdir, sangat penting.
2. Transparansi dan Akuntabilitas: Pesantren harus menerapkan standar manajemen yang transparan, termasuk audit keuangan dan inspeksi infrastruktur secara berkala. Pemerintah atau lembaga independen dapat berperan dalam pengawasan.
3. Pemberdayaan Ekonomi: Mengurangi ketergantungan santri pada kiai melalui pelatihan keterampilan atau akses ke beasiswa dapat meminimalkan eksploitasi.
4. Reformasi Budaya Pesantren: Pesantren perlu kembali ke akarnya sebagai pusat pendidikan dan spiritualitas, bukan sebagai institusi yang memperkuat hierarki sosial. Kiai harus menjadi teladan dalam akuntabilitas dan keadilan, bukan “raja kecil” yang menuntut kepatuhan buta.
5. Peran Media dan Publik: Diskusi publik, termasuk di platform medsos, dapat membantu membongkar narasi yang melanggengkan budaya nrimo dan ketundukan berlebihan.

Tantangan dan Harapan

Mengubah budaya yang sudah mengakar, seperti yang digambarkan Geertz dalam hubungan kiai-santri, bukanlah tugas mudah. Resistensi dari kalangan yang merasa terancam, seperti kiai atau elit pesantren, menjadi tantangan utama. Namun, ada harapan dari generasi muda yang semakin terpapar informasi global dan memiliki akses ke pendidikan yang lebih luas. Dengan kesadaran kolektif yang terus dibangun, masyarakat Jawa dapat bergerak menuju sikap yang lebih kritis dan mandiri, tanpa kehilangan nilai-nilai spiritual dan budaya yang positif, seperti tepo seliro (empati) dan gotong royong. Reformasi ini tidak hanya akan mencegah tragedi seperti ambruknya bangunan pesantren, tetapi juga memungkinkan masyarakat untuk berkontribusi lebih signifikan dalam laju peradaban dunia.

Penutup

Fenomena kiai sebagai “priyayi baru” di pesantren mencerminkan perpaduan kompleks antara budaya Jawa, agama, dan kekuasaan, sebagaimana dianalisis oleh Geertz dalam The Religion of Java. Tragedi seperti ambruknya surau Al Khozyni menjadi pengingat akan urgensi kesadaran kolektif untuk mengatasi mentalitas “nrimo ing pandum” dan budaya ketundukan berlebihan. Dengan pendidikan kritis, transparansi, dan reformasi budaya, masyarakat Jawa dapat membangun masa depan yang lebih adil dan progresif, sejalan dengan nilai-nilai luhur Islam dan budaya lokal yang sebenarnya menekankan keadilan dan keseimbangan sosial.(MDA)

GnLawu, 06102025

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Jaksa Tilap Barang Bukti 23,9 M, Mutasi Saja Tak Cukup, Pak JA!

Next Post

Sebelum Ijazahnya Terbukti Asli, Jokowi Tak Layak Bertemu Presiden Prabowo

fusilat

fusilat

Related Posts

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi
Feature

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

April 20, 2026
MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur
Birokrasi

MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur

April 20, 2026
Economy

Mengelola Risiko DSR 40%: Ketika Negara Seperti Keluarga yang Terlilit Cicilan di Tengah Dunia yang Bergejolak

April 20, 2026
Next Post
Sebelum Ijazahnya Terbukti Asli, Jokowi Tak Layak Bertemu Presiden Prabowo

Sebelum Ijazahnya Terbukti Asli, Jokowi Tak Layak Bertemu Presiden Prabowo

Perekonomian Semakin Memburuk ,  Gula Mendekati Rp 20.000 Harga Sembako Lainnya Ikutan Melonjak

Cadangan Pangan Kita Hanya Bertahan 21 Hari: Alarm Bahaya Ketahanan Nasional

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

by Karyudi Sutajah Putra
April 19, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Jusuf Kalla (JK) sudah membuka front pertempuran....

Read more
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

April 17, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

April 20, 2026
Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

April 20, 2026
MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur

MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur

April 20, 2026

Mengelola Risiko DSR 40%: Ketika Negara Seperti Keluarga yang Terlilit Cicilan di Tengah Dunia yang Bergejolak

April 20, 2026

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

April 20, 2026
Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

April 20, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...