Oleh Damai Hari Lubis
Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum dan Politik)
Setelah menonton tiga video wawancara nostalgia perjuangan Mayjen (Purn) Kivlan Zen — mantan Kepala Staf Kostrad di era Presiden Habibie — saya melihat satu benang merah yang konsisten dalam perjalanan hidupnya: pengabdian tanpa pamrih kepada tanah air, bangsa, dan negara.
Lulusan Akmil tahun 1971 ini juga menyandang gelar S.I.P dan M.Si, dan sepanjang lebih dari dua dekade karier militernya, ia dikenal sebagai perwira tinggi TNI AD yang teguh, disiplin, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Di balik ketegasannya sebagai tentara, tersimpan kepribadian luhur dan naluri kemanusiaan yang khas — senang membantu sahabat tanpa pamrih.
Kivlan Zen juga dikenal sebagai sosok yang konsisten menjaga kebenaran sejarah, terutama terkait peristiwa 1998 — masa transisi dari Orde Baru ke Reformasi — yang menurutnya telah banyak dipelintir oleh propaganda politik dan framing para provokator. Ia tetap berpegang pada narasi faktual tentang apa yang sesungguhnya terjadi kala itu, termasuk perannya dan kedekatannya dengan sahabat spesialnya, yang kini telah menjadi Presiden RI ke-8.
Dalam pandangan penulis, realitas kehidupan bangsa di era Reformasi, khususnya di masa kepemimpinan Presiden Jokowi, tidak lebih baik dibandingkan era Orde Baru — bahkan cenderung lebih “keblangsak” dalam berbagai sektor: ekonomi, politik, hukum, maupun budaya.
Dalam perjalanan kariernya, Kivlan Zen dikenal bukan sebagai sosok yang mencari bantuan, tetapi lebih sering menjadi pihak yang membantu. Ia mendapatkan berbagai jabatan di lingkungan militer bukan karena ambisi, melainkan karena prestasi dan pengabdian.
Rekam jejaknya juga mencakup kiprah internasional: dari Operasi Seroja di Timor Timur, penanganan konflik di Papua, hingga keberhasilannya membebaskan 18 WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan.
Di luar dunia militer, tak banyak yang tahu bahwa Kivlan juga aktif sebagai dosen dan kerap menjadi khatib, memberikan siraman rohani kepada masyarakat.
Hingga kini, tak pernah terdengar ia meminta jabatan apa pun dari sahabatnya, Presiden Prabowo Subianto. Ia tetap setia dengan karakter sejatinya — lebih bahagia memberi daripada menerima. Sikap “radikal” dalam membantu sahabat itu bahkan terus berlanjut hingga hari ini: siap membantu Presiden RI ke-8 kapan pun diperlukan, secara sukarela dan sesuai kemampuannya.
Akhirnya, patut disimpulkan bahwa Mayjen (Purn) Kivlan Zen adalah sosok pejuang sejati — bukan tukang omong, bukan pula penjilat. Ia adalah cermin dari generasi tentara yang berjuang dengan integritas, bukan demi kepentingan pribadi, melainkan demi kehormatan bangsa dan negara.

Oleh Damai Hari Lubis
























