• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Crime

KORUPSI: ANTARA NEGARA UNTUNG DAN RAKYAT BUNTUNG

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
July 23, 2025
in Crime, Feature
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro – Komite Eksekutif Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia

Di ruang sidang yang senyap, negara bicara. Lewat mulut jaksa, lewat palu hakim, lewat angka yang disusun dengan yakin: Rp80 miliar. Sebuah kerugian, katanya. Karena ekspor gula—yang semestinya menguntungkan BUMN—malah dilakukan oleh koperasi. Negara tidak mendapat bagian. Maka itu disebut korupsi. Maka Tom Lembong, mantan Menteri Perdagangan, dijatuhi hukuman penjara.

Tapi ada yang tak dikatakan. Bahwa koperasi itu bukan hantu. Bahwa Tom tak menerima uang. Bahwa yang rugi adalah asumsi pendapatan, bukan uang yang dicuri. Bahwa keputusan itu diambil bukan untuk memperkaya diri, tapi—seperti pengakuannya—untuk membuka ruang lebih adil dalam pasar. Tetap saja, negara merasa dirampok. Tapi benarkah yang dirampok adalah negara? Atau justru rakyat?

Ketika Negara Menjadi Kasir

Kita hidup dalam negara yang kian mirip perusahaan dagang. Negara hari ini menilai kebijakan bukan dari manfaat publik, tapi dari potensi pemasukan fiskal. Hukum pidana digunakan sebagai kalkulator. Jika ada keputusan yang membuat uang tidak masuk ke rekening negara—meskipun legal dan masuk akal—maka seseorang bisa disebut merugikan negara. Dan itu, katanya, adalah korupsi.

Inilah logika yang menghukum Tom. Ia tak korup. Ia tak menipu. Ia hanya membuat kebijakan yang tidak menguntungkan negara sebagai korporasi. Maka ia dianggap bersalah.

Baca : https://fusilatnews.com/mengejar-omon-omon-prabowo-memburu-koruptor-hingga-ke-antartika/

Padahal, kata Amartya Sen, negara bukan perusahaan: “The ends of development are freedoms. Not income.”
(Sen, 1999)

Kalau begitu, apakah negara rugi bila koperasi rakyat untung? Apakah negara kalah bila rakyat sejahtera?
Masalahnya, kita membiarkan istilah “kerugian negara” mendominasi diskusi korupsi. Kerugian negara kini lebih penting daripada kerugian rakyat. Ketika bansos dimanipulasi demi kampanye, hukum diam karena tak ada kerugian negara dalam audit. Tapi ketika seorang pejabat memberi ruang untuk ekonomi rakyat, ia bisa dijerat bila uang itu tak masuk ke BUMN.

Padahal, dalam UUD 1945, negara didirikan untuk: “Melindungi segenap bangsa, mencerdaskan kehidupan, dan memajukan kesejahteraan umum.” Bukan sekadar menghasilkan laba!

Perspektif yang Terbalik

Kita telah membalik pusat moral korupsi. Korupsi semestinya adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan rakyat, bukan pengurangan potensi pendapatan negara. Namun kini, justru sebaliknya:
– Menyalahgunakan kekuasaan untuk menjadikan anak wakil presiden = bukan korupsi
– Jabatan diberikan atas dasar loyalitas, bukan kompetensi
– Bantuan sosial dijadikan alat politik
– Oposisi dibungkam dengan pasal-pasal elastis
– UU dirancang oleh investor, bukan oleh wakil rakyat
– Menolak BUMN yang boros dan memberi peluang ke koperasi = korupsi?

Kita seolah lupa bahwa negara bukan pemilik, tapi pelayan. Uang negara adalah uang rakyat. Kebijakan negara harus menguntungkan rakyat terlebih dahulu, bukan hanya memperkaya institusi milik negara.

Yang lebih mengkhawatirkan: negara kini tampak bersaing dengan rakyatnya sendiri. Dalam kasus Tom, koperasi dianggap lawan. Swasta dianggap penyelundup. BUMN dianggap sebagai satu-satunya jalan sah untuk berdagang. Padahal sejarah republik ini lahir dari semangat ekonomi rakyat, bukan dari dominasi korporasi negara.

Jika koperasi diberi izin, dan negara tidak dapat bagian, maka dianggap sebagai bentuk perampokan. Logika ini absurd—dan membahayakan.

Apakah negara ingin menjadi tuan atas rakyat, atau justru teman seperjuangan mereka?

Korupsi: Siapa yang Dirugikan?

Korupsi dalam arti sejatinya adalah: “Abuse of entrusted power for private gain.” (Transparency International).
Tidak ada unsur itu dalam kasus Tom. Tidak ada “private gain”. Tidak ada abuse. Tapi tetap ia dijatuhi hukuman, karena negara tidak menerima keuntungan yang ia harapkan.

Di sisi lain, berapa banyak undang-undang disusun bukan demi rakyat, tapi demi rente? Berapa banyak kebijakan dibuat untuk menyenangkan donatur kampanye? Berapa banyak proyek yang dibagikan secara diam-diam, tanpa lelang?

Semua itu bukan korupsi—katanya—karena tidak ada “kerugian negara” versi auditor.
Padahal rakyat buntung. Tapi mereka tidak pernah dihitung.

Pengadilan hari ini tampaknya tidak mengadili niat, tapi hasil fiskal. Jika sebuah kebijakan tidak menghasilkan pemasukan untuk negara, maka ia bisa dianggap berbahaya. Tapi ke mana logika itu membawa kita?

Jika seorang menteri takut mengambil keputusan progresif karena takut dihukum bila negara tidak untung, maka ia akan memilih diam. Ia akan memilih birokrasi yang selamat—bukan kepemimpinan yang berani. Apakah mesti seperti itu: hukum yang menghitung, bukan mengadili?

Kalau betul begitu, itulah tanda kematian perlahan bagi republik ini.

Sementara itu, rakyat tetap buntung. Mereka tak menikmati gula murah. Mereka tak punya koperasi yang kuat. Mereka tak tahu kenapa menteri yang mereka hormati ditangkap. Mereka hanya tahu satu hal: negara tidak selalu hadir untuk membela mereka.

“Injustice anywhere is a threat to justice everywhere.” (Martin Luther King, Jr).

Penutup: Negara Bukan Neraca

Kita harus ingat: negara bukan kasir. Hukum bukan kalkulator. Republik bukan dibangun di atas neraca, tetapi di atas janji keadilan.

Maka, jika hari ini kita lebih peduli pada kerugian negara daripada luka rakyat, kita sedang berjalan mundur. Kita sedang menciptakan negara yang untung, tapi rakyatnya buntung.

Tom mungkin masuk penjara. Tapi sejarah akan mencatat: bahwa ia bukan dihukum karena mencuri, tetapi karena tidak menyenangkan kas negara. Dan mungkin, dalam catatan sejarah itu, kita akan menyesal: karena pernah percaya bahwa angka bisa menggantikan akal sehat. Dan kita akan terus mengingat hal ini:

“Korupsi bukan soal uang yang hilang, tapi soal harapan yang dicuri. Dan dalam sistem yang salah, rakyat selalu yang paling rugi.”===

Cimahi, 23 Juli 2025

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mengejar Omon-Omon Prabowo: Memburu Koruptor Hingga ke Antartika

Next Post

42.385 Pekerja Jadi Korban PHK Januari-Juni 2025, Jawa Tengah TOP

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi
Birokrasi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Feature

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026
Next Post
42.385 Pekerja Jadi Korban PHK Januari-Juni 2025, Jawa Tengah TOP

42.385 Pekerja Jadi Korban PHK Januari-Juni 2025, Jawa Tengah TOP

Pelaku Ekonomi Indonesia: Antara Regulasi dan Realitas Zero Sum Game

Kiamat Kecil Bernama Krisis Sistemik: Ketika Ekonomi, Korupsi, dan Hukum Bersekongkol Menindas Rakyat

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

by Karyudi Sutajah Putra
April 23, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Untuk ke-9 kalinya, Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT). Ada 10 kota yang masuk dalam kategori...

Read more
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...