• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Crime

Korupsi, Spiritualitas Palsu, dan Mindset Dogmatis

fusilat by fusilat
April 9, 2026
in Crime, Feature
0
Share on FacebookShare on Twitter

Anwar Husen
Pemerhati Sosial / Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara

Jika ibadah ritual para pemeluk agama belum mampu menginternalisasi nilai dan perilaku positif, maka yang perlu dikoreksi bukan agamanya, melainkan cara memandang dan mempraktikkannya. Ketika perubahan itu tidak terjadi, wajar jika muncul pertanyaan mendasar: untuk apa beragama? Ironisnya, pertanyaan semacam ini justru kerap dianggap sebagai bentuk penyimpangan, bahkan kemurtadan, oleh mereka yang terjebak dalam pola pikir dogmatis.

Ada sebuah satire yang sering kita dengar: Indonesia adalah negara yang sangat religius, tetapi tingkat korupsinya juga tinggi. Lalu muncul pertanyaan serius—mengapa ceramah agama dan ritual keagamaan tidak mampu mengubah perilaku?

Indonesia kerap mengklaim diri sebagai bangsa religius, bahkan disebut sebagai masyarakat yang rajin berdoa. Namun dalam praktiknya, religiusitas itu sering berhenti pada simbol dan ritual. Penentuan awal Ramadan saja bisa menjadi polemik berkepanjangan, seolah-olah kesalahan dalam menetapkannya akan berdampak langsung pada nilai pahala yang diraih.

Di sisi lain, Ramadan juga berubah menjadi ajang konsumsi besar-besaran. Permintaan meningkat, belanja melonjak, dan Tunjangan Hari Raya menjadi isu sensitif yang tak boleh terlambat. Kritik terhadap aktivitas keagamaan di ruang publik pun bisa memicu konflik sosial. Bahkan, dalam konteks yang lebih ekstrem, tafsir jihad sering disalahgunakan hingga memicu saling tuduh kafir, sesat, dan merasa paling benar—seolah memegang kunci tunggal menuju surga.

Dalam situasi seperti ini, hubungan antara religiusitas dan perilaku korupsi menjadi kabur. Fakta di lapangan menunjukkan tidak adanya korelasi positif di antara keduanya.

Mari beralih pada data. Indeks Persepsi Korupsi (CPI) 2025 yang dirilis oleh Transparency International menempatkan Indonesia pada skor 34 dari 100, peringkat 109 dari 180 negara. Skor ini turun dari tahun sebelumnya, menandakan memburuknya persepsi terhadap korupsi, terutama dalam aspek penegakan hukum dan ruang sipil. Bandingkan dengan negara seperti Jepang, yang secara demografis memiliki tingkat afiliasi agama lebih rendah, namun tata kelolanya jauh lebih bersih.

Di Indonesia, banyak praktik yang menyimpang tetapi dianggap biasa karena terjadi secara berjamaah. Tuduhan korupsi seringkali tak membutuhkan data yang sangat rinci, karena ketidakwajaran dalam kebijakan publik tampak begitu vulgar. Ironisnya, beban pembuktian sering timpang—yang dituduh justru kerap terbukti benar pada akhirnya. Ini menunjukkan bahwa praktik korupsi telah berlangsung secara terstruktur, sistematis, dan masif.

Kasus-kasus seperti dugaan korupsi dana haji, dana zakat, pengadaan kitab suci, hingga polemik pengelolaan zakat yang lebih menguntungkan pengelola daripada penerima, memperlihatkan betapa seriusnya masalah ini. Bahkan, ada ironi yang lebih dalam—bukan hanya anggaran kitab suci yang diselewengkan, tetapi kitab sucinya sendiri bisa hilang atau “dibawa pulang.”

Fenomena ini menunjukkan adanya paradoks religiusitas. Sejumlah penelitian mengindikasikan bahwa religiusitas yang bersifat dogmatis justru bisa berkorelasi dengan praktik korupsi. Di sinilah muncul fenomena pseudo-spiritualitas—di mana pelaku korupsi tetap rajin beribadah atau berdonasi ke rumah ibadah sebagai bentuk kamuflase, bahkan sebagai sarana pencucian moral.

Agama akhirnya hanya menjadi identitas simbolik, bukan kekuatan etis yang membentuk integritas. Nilai-nilai luhur tidak benar-benar hidup dalam tindakan sosial.

Menarik mencermati pernyataan Said Aqil Siradj yang menyebut bahwa “99,9% hal di Indonesia itu palsu.” Pernyataan ini merupakan kritik tajam terhadap fenomena kepalsuan—di mana simbol dan atribut keagamaan tidak selalu mencerminkan kebenaran atau kejujuran.

Spiritualitas palsu ini berjalan beriringan dengan mindset dogmatis. Ciri utamanya adalah kepatuhan mutlak tanpa nalar, menolak argumen logis, dan merasa paling benar. Ibadah dianggap kaku, tak boleh disentuh kritik, sementara dogma diterima secara harfiah tanpa refleksi.

Pola pikir seperti ini cenderung menerima sesuatu tanpa verifikasi, membenarkan kebiasaan tanpa berpikir, dan menolak pertanyaan kritis. Taqlid buta menjadi fondasi, bukan kesadaran.

Yang lebih problematik, mereka yang terjebak dalam pola ini sangat sulit diajak berdialog. Penolakannya terhadap rasionalitas seringkali apriori—tanpa argumentasi yang jelas. Seolah-olah mereka adalah otoritas tunggal dalam memahami agama.

Pada akhirnya, persoalannya kembali pada titik awal: jika ibadah tidak mampu melahirkan perilaku baik, maka yang harus diubah adalah cara kita memahami dan menjalankan agama itu sendiri. Jika tidak, pertanyaan “untuk apa beragama?” akan terus muncul—dan sayangnya, masih akan dianggap sebagai kesesatan oleh mereka yang enggan berpikir.

Wallahu a’lam.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Gencatan Senjata 14 Hari: Trump Menaruh Senjata, Iran Mendiktekan Syarat

Next Post

Wilayat al-Faqih: Eksperimen Politik Islam di Tengah Kepungan Hegemoni

fusilat

fusilat

Related Posts

Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?
Feature

Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?

May 30, 2026
Feature

Masukkan Aku dalam Kebenaran, dan Keluarkan Aku dalam Kebenaran”

May 30, 2026
Gelombang Senyap Pemurtadan atau Sekadar Mitos? Membaca Data Eks-Muslim Dunia Tanpa Propaganda
Feature

Gelombang Senyap Pemurtadan atau Sekadar Mitos? Membaca Data Eks-Muslim Dunia Tanpa Propaganda

May 30, 2026
Next Post
Wilayat al-Faqih: Eksperimen Politik Islam di Tengah Kepungan Hegemoni

Wilayat al-Faqih: Eksperimen Politik Islam di Tengah Kepungan Hegemoni

Antara Retorika dan Realita: Bisakah Prabowo Tumbangkan Outsourcing?

Padamnya Api Demokrasi di Tangan Prabowo

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati
Birokrasi

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

by Karyudi Sutajah Putra
May 25, 2026
0

Jakarta - Fusilatnews -Indonesia dan tujuh negara lain mengutuk keras tindakan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir dan pasukan Israel...

Read more
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

May 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?

Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?

May 30, 2026

Masukkan Aku dalam Kebenaran, dan Keluarkan Aku dalam Kebenaran”

May 30, 2026
Gelombang Senyap Pemurtadan atau Sekadar Mitos? Membaca Data Eks-Muslim Dunia Tanpa Propaganda

Gelombang Senyap Pemurtadan atau Sekadar Mitos? Membaca Data Eks-Muslim Dunia Tanpa Propaganda

May 30, 2026

Jembatan Akselerasi Dunia Pendidikan dan Dunia Kerja (Program Sertifikasi dan Standardisasi Kapasitas SDM)

May 30, 2026

Ketika Ilmu Dipisahkan dari Agama (3)

May 30, 2026

EKONOMI KEDAULATAN NASIONAL; JALAN TENGAH ANTARA NEGARA PASIF DAN NEGARA SERAKAH

May 29, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?

Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?

May 30, 2026

Masukkan Aku dalam Kebenaran, dan Keluarkan Aku dalam Kebenaran”

May 30, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...