Iiyama – Ketika diskursus pembangunan di Indonesia nyaris selalu berpusat pada megapolitan seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya, Jepang justru mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus lahir dari kota besar. Di negeri Sakura ini, kota-kota kecil mampu menunjukkan kualitas peradaban yang tak kalah dari ibukota—baik dalam tata kelola, transportasi, hingga keberlanjutan lingkungan.
Kota seperti Toyama, Kanazawa, Oita, atau bahkan Kamikatsu bukan sekadar titik kecil di peta Jepang, tetapi telah menjelma menjadi model perencanaan kota berkelanjutan yang banyak dikaji dunia. Maka, wajar jika muncul pertanyaan: apa yang membuat kota-kota kecil Jepang begitu maju dan menginspirasi? Dan yang lebih penting: apa pelajaran yang bisa Indonesia ambil dari mereka?
Toyama: Kota Tua, Visi Baru
Toyama adalah kota kecil di pesisir Laut Jepang, dengan populasi sekitar 410 ribu jiwa. Meski mengalami penurunan jumlah penduduk akibat penuaan, pemerintah kota tidak tinggal diam. Mereka membuat “Compact City Strategy”, yakni kebijakan merapatkan tata kota agar layanan publik tetap efisien dan transportasi umum tetap hidup meski jumlah warga menurun.
Alih-alih memperluas urban sprawl seperti banyak kota di Indonesia, Toyama justru memusatkan pembangunan di sekitar jalur trem dan pusat kota. Transportasi publik dibenahi, bangunan vertikal dibangun di area strategis, dan warga lansia difasilitasi agar tetap mandiri.
Hasilnya? Toyama masuk dalam daftar kota paling layak huni di dunia versi OECD dan menjadi rujukan bagi perencana kota di Eropa dan Amerika Latin.
Kamikatsu: Kota Nol Sampah
Kamikatsu adalah kota kecil di Prefektur Tokushima dengan populasi tak sampai 1.500 jiwa. Namun kota ini menjadi buah bibir dunia karena menerapkan kebijakan zero waste. Warga Kamikatsu memilah sampah ke dalam 45 kategori berbeda, tanpa armada pengangkut sampah!
Kuncinya? Edukasi dan komitmen. Tidak ada insentif uang, tidak ada hukuman, hanya kesadaran kolektif bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama. Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan peradaban tidak bergantung pada jumlah penduduk atau anggaran, tapi pada kesadaran warga dan kepemimpinan yang jujur serta visioner.
Pelajaran Penting untuk Indonesia
Banyak kota kecil di Indonesia yang memiliki potensi besar: Banyuwangi, Wonosobo, Sawahlunto, hingga Parepare. Namun sebagian besar dari mereka masih berkutat pada pola pembangunan konvensional: memperbanyak beton, memperluas jalan, dan menggusur ruang hijau. Padahal, pembangunan yang beradab bukan tentang seberapa banyak infrastruktur dibangun, melainkan seberapa manusiawi kota itu ditata.
Apa yang bisa Indonesia pelajari?
- Kepemimpinan yang visioner dan konsisten
Kota kecil di Jepang sukses bukan karena pusat, tapi karena wali kota dan pemda berani berpikir jauh ke depan dan bekerja melayani, bukan membangun citra. - Partisipasi warga sebagai kekuatan utama
Kemajuan kota tidak datang dari atas ke bawah. Toyama dan Kamikatsu berhasil karena melibatkan warga sejak awal—sebagai subjek, bukan objek pembangunan. - Efisiensi anggaran dan keberlanjutan
Jepang tidak membangun “mercusuar.” Mereka membangun sistem: air bersih, transportasi, pengelolaan sampah, dan pemukiman yang sehat. Semua dengan biaya wajar dan manfaat jangka panjang.
Penutup: Kota Kecil, Jiwa Besar
Jepang membuktikan bahwa kemajuan tidak harus muncul dari gedung tinggi dan jalan tol panjang. Kota-kota kecil mereka, dengan perencanaan cerdas dan budaya tanggung jawab, mampu menjadi pelita dunia.
Indonesia tidak kekurangan sumber daya, tapi sering kekurangan niat baik dan tata kelola yang berpihak pada rakyat. Jika para pemimpin daerah mau belajar dari kota kecil di Jepang, maka kita bisa membangun Indonesia dari pinggiran—bukan hanya dari Jakarta.
Karena sejatinya, kota yang baik bukan yang besar, tapi yang mampu merawat warganya dengan hati dan akal sehat.

























