Fusilatnews – Tak ada alasan orang menjadi sakit jika hidupnya seirama dengan sunnatullah. Alam memberi segalanya secara seimbang, asal manusia tak pongah menolaknya. Coba lihat binatang—seekor kijang di padang sabana, seekor burung elang di langit lepas, atau sekumpulan ikan di kedalaman laut. Mereka hidup tanpa rumah sakit, tanpa asuransi kesehatan, tanpa vitamin buatan. Tapi kapan terakhir kali kita mendengar seekor harimau terkena jantung koroner atau seekor rusa menderita diabetes? Kudis dan kurapan pun lebih akrab menghampiri manusia yang bergelimang kenyamanan daripada makhluk yang setia hidup dalam hukum alam.
Itulah ironi zaman ini: manusia yang hidup di istana, dengan makanan bergizi, tim dokter siaga, dan tubuh yang tak pernah kekurangan istirahat justru dililit penyakit kulit. Sebuah anomali biologis yang tak bisa disangkal begitu saja. Sebab, jika hidup sudah begitu lengkap—dari gizi, harta, jabatan, kekuasaan, hingga doa rakyat yang konon tiada putus—lalu apa yang masih salah hingga tubuh tetap saja tak kuat menahan gatal?
Mungkin jawabannya bukan soal fisik. Mungkin luka-luka itu muncul bukan dari udara atau makanan. Mungkin itu cermin dari yang tak terlihat: pikiran yang tak jernih, hati yang resah, beban jiwa yang tak bisa dibagi, dan tanggung jawab yang tak ditunaikan. Barangkali juga, tubuh sedang protes atas hidup yang terlalu jauh dari fitrah.
Sebab, hidup selaras dengan sunnatullah bukan soal rajin berwudhu atau makan buah di pagi hari. Tapi bagaimana seseorang menyatu dengan amanahnya, dengan rakyatnya, dengan kebenaran yang ia janjikan. Keseimbangan itu, bila rusak, akan memberi tanda. Entah dalam bentuk bisul, entah dalam bentuk prahara politik.
Alam memang punya cara menyapa. Kadang lewat gempa, kadang lewat gatal yang tak kunjung sembuh.
Dan manusia, terutama yang merasa dirinya sangat berkuasa, sering lupa: tubuh tak bisa diajak berbohong. Bahkan ketika semua juru bicara sudah disiapkan untuk menutupi kebenaran, kulit tetap jujur memberi tahu bahwa ada yang tak beres.
Jadi, jika seekor kucing tak pernah mengeluh karena stres politik, mengapa justru seorang kepala negara begitu sering terlihat letih dan lesu?
Tapi barangkali itu bukan letih. Mungkin tubuhnya hanya rindu hidup sederhana seperti binatang di alam—tanpa beban kebohongan, tanpa ilusi kejayaan, tanpa proyek yang memaksakan takdir.
Karena tak semua penyakit datang dari kekurangan. Sebagian justru lahir dari kelebihan yang melampaui batas.


























