Jakarta – Fusilatnews – Presiden Joko Widodo merasa geram ketika diberitahu bahwa Indonesia menjadi importir tepung ikan nomor satu di dunia dan merasa tak habis pikir seberapa sulit memproduksi tepung ikan di dalam negeri.
Sebagai negara pengekspor ikan tuna, cakalan atau tongkol terbesar di dunia, Indonesia seharusnya tidak menjadi negara pengimpor tepung ikan karena menurut Jokowi tidaklah sulit membuat dan memproduksi tepung ikan sendiri. “Kita ini eksportir nomor satu, tuna, cakalang, tongkol segar, tetapi sekaligus importir juga nomor satu tepung ikan, lucu sudah, dorong keluar kemudian kita impor lagi dalam bentuk tepung ikan,” kata Jokowi saat membuka Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan, Senin (6/2).
Menurut Jokowi, Indonesia seharusnya mencontoh China, merupakan importir nomor dua tuna, cakalang, dan tongkol segar, tetapi bisa menjadi eksportir nomor empat tepung ikan.
“Apa nggak bisa sih kita menghilirkan ini, mengindustrialisasikan ikan kita menjadi tepung ikan, sesulit apa? Apa sulit banget sih? Enggak, kalau kita belum mampu ya gandeng partner,” kata Jokowi.
Jokowi menegaskan potensi sumber daya alam laut Indonesia belum dioptimalkan dengan melakukan hilirisasi industri. Padahal, sumber daya laut Indonesia punya potensi yang sangat besar karena dua pertiga wilayah Indonesia adalah air. Selain soal tepung ikan, ia mencontohkan bahwa Indonesia merupakan negara pengekspor rumput laut terbesar di dunia, tetapi juga negara pengimpor nomor 3 karagenan yaitu zat pengental dibuat dari rumput laut.
Sedangkan China yang merupakan negara pengimpor rumput laut mentah nomor satu di dunia justru menjadi negara pengekspor karagenan terbesar di dunia.
“Ini yang harus kita tiru, kita harusnya jadi eksportir nomor 1 bahan mentah, tapi juga eksportir nomor 1 karagenan, harusnya seperti itu, dan nilai tambah yang ada di sini akan melompat,” kata Jokowi.
Apa itu Tepung ikan.
Tepung ikan merupakan salah satu produk pengolahan hasil sampingan ikan yang sampai saat ini memang belum dimanfaatkan secara maksimal terutama untuk bahan pangan.
Tepung ikan biasanya diperoleh dari ikan utuh, limbah yang berasal dari pengolahan ikan, maupun ikan yang tidak layak dikonsumsi manusia. Olahan ikan yang satu ini mempunyai kadar air yang rendah.
Pembuatan tepung ikan berbahan dasar ikan dapat menjadi suatu bentuk alternatif bahan pangan, demikian tulis Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang.
Penggunaan tepung ikan sebagai bahan substitusi tepung terigu pada pembuatan biskuit merupakan salah satu alternatif penggunaan yang menjanjikan, terutama dari segi kualitas zat gizi yang dihasilkan.
Tepung ikan teri, misalnya, mengandung zat gizi yang cukup lengkap seperti lemak, protein, dan kalsium. Kandungan zat gizi pada tepung ikan teri cukup tinggi dengan jumlah energi 277 kkal, protein sekitar 60 gram per 100 gram, lemak 2,3 gram per 100 gram.
Lalu, ada juga tepung tulang ikan. Mengutip buku Perikanan Berkelanjutan, tepung tulang ikan adalah suatu produk padat kering yang dihasilkan dengan cara mengeluarkan sebagian besar cairan dan sebagian atau seluruh lemak yang dikandung di dalam tubuh ikan.
Cara mengolahnya pun sederhana, yakni dengan direbus, dikeringkan dengan mesin, dimasukkan ke mesin press, lalu ke penggiling, dan terakhir diaduk dengan bubuk amino dengan mixer.
Manfaat tepung ikan dan tepung tulang ikan adalah bisa digunakan sebagai pakan ternak. Hal ini disebabkan tepung ikan dan tepung tulang ikan kaya akan protein dan asam amino.
Selain itu, tepung ikan dan tepung tulang ikan mengandung kalsium, DHA, dan EPA yang baik untuk kesehatan hewan ternak. Cara menggunakannya pun sederhana, yakni para peternak biasanya mencampur tepung ikan dan tepung tulang ikan dengan pakan ternak mereka.
Indonesia sebagai negara penghasil ikan, rekayasa produk perikanan sangatlah penting untuk dilakukan agar dapat menanggulangi banyaknya bahan baku yang diperoleh agar tidak terjadi kerusakan dan dapat menambah nilai guna dari suatu bahan tersebut. Salah satu rekayasa dari produk ikan yang ada di Indonesia yaitu tepung ikan.
Sumber daya laut Indonesia bisa dihilirkan
Sebelumnya Jokowi menjelaskan, Indonesia sebetulnya memiliki sumber daya laut yang bisa memberi nilai besar jika dihilirkan. Pasalnya, dua per tiga Indonesia adalah perairan dengan luas laut 3,25 juta kilometer. Sayangnya potensi besar ini belum dioptimalkan.
Menurut Jokowi, Indonesia seharusnya bisa memproduksi tepung ikan sendiri. “Lucu sudah, didorong keluar, kemudian kita impor lagi dalam bentuk tepung ikan. Apa nggak bisa sih kita menghilirkan ini, mengindustrialisasikan ikan kita menjadi tepung ikan? Sesulit apa? Apa sulit banget sih?” ujarnya.
Jokowi melanjutkan, bila memang industri belum bisa mengolah di dalam negeri semestinya bisa menggandeng mitra di awal usahanya dan tak lagi ragu-ragu untuk memproduksi tepung ikan.
Ia lalu pun membandingkan kondisi industri Indonesia tersebut dengan Cina. “RRT kita lihat importir nomor dua tuna, cakalang, tongkol segar. Tapi, bisa menjadi eksportir nomor empat tepung ikan,” tutur Jokowi.
Tak hanya menyoroti potensi ikan tuna, cakalang, dan tongkol segar yang bisa diolah menjadi tepung ikan, Jokowi menilai masih banyak potensi lain seperti rumput laut dan udang.
Jika diolah menjadi pupuk chitosan, menurut Jokowi, nilai produk turunannya bisa bertambah 27 kali. Selain itu, bila rajungan jika diolah menjadi daging rajungan nilainya bisa bertambah 3,2 kali.
Tak berhenti di produk ikan, Jokowi juga memberikan contoh lain. Indonesia adalah eksportir nomor satu rumput laut, tapi bahan mentah itu diekspor dalam bentuk mentah saja. Sedangkan Cina adalah importir nomor satu rumput laut, tapi bisa menjadi eksportir nomor tiga tepung karagenan.
“Ini yang harus kita tiru. Kita seharusnya menjadi eksportir nomor satu bahan mentah, tapi juga eksportir nomor satu karagenan. Harusnya seperti itu dan nilai tambah akan melompat. Kalau semuanya dihilirkan di dalam negeri, melompat negara kita, PDB (Produk Domestik Bruto) kita akan melompat, GDP (Gross Domestic Product/PDB) kita akan melompat,” kata Jokowi.

























