• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Living Law dan Ancaman Ketidakpastian Hukum: Ketika KUHP Baru Membuka Ruang Penafsiran Tanpa Batas

Ali Syarief by Ali Syarief
November 19, 2025
in Feature, Law
0
Ketidakadilan RKUHP soal Penghinaan

I

Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Di tengah semangat Indonesia untuk meninggalkan warisan kolonial dan membangun sistem hukum nasional yang lebih mencerminkan jati diri bangsa, KUHP Baru 2023 muncul sebagai tonggak penting. Ia membawa ambisi besar: mengganti produk hukum Belanda abad ke-19 yang sudah tidak lagi sesuai dengan karakter masyarakat modern Indonesia. Namun, di balik semangat pembaruan itu, terselip satu isu fundamental yang berpotensi menjadi pedang bermata dua—bahkan bisa menjadi sumber kegaduhan hukum terbesar dalam dua dekade mendatang: pengakuan terhadap “living law” atau hukum adat sebagai norma pidana.

Gagasan memasukkan living law ke dalam KUHP terdengar mulia. Indonesia memang mosaik sosial yang berlapis-lapis, dengan adat dan tradisi yang masih hidup di banyak daerah. Negara ingin menghormati kearifan lokal. Namun, apa yang tampak indah secara kultural, tidak selalu terukur secara legal. Hukum pidana adalah bidang yang menuntut kepastian: setiap orang harus tahu dengan jelas apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Begitu norma adat dibawa masuk ke ranah pidana—yang sifatnya memaksa dan menghukum—maka persoalannya bukan lagi tentang budaya, melainkan tentang kepastian hukum dan perlindungan hak asasi manusia.

Adat Siapa yang Berlaku?

Pertanyaan mendasar dari memasukkan living law ke dalam KUHP adalah: adat siapa?
Indonesia bukan negara dengan satu sistem adat tunggal. Bahkan dalam satu provinsi, terdapat belasan sistem adat yang berbeda. Di Papua saja terdapat ratusan kelompok adat; di Sumatra, konflik adat sering terjadi justru karena definisi adat yang beragam dan tidak homogen. Ketika KUHP mempersilakan “norma adat” menjadi sumber pidana, tanpa definisi ketat, aparat penegak hukum berada dalam posisi untuk memilih-milih adat mana yang mereka anggap sah.

Di titik inilah bahaya muncul: subjektivitas.
Polisi dapat berkata, “Menurut adat di sini, perilaku itu dilarang.” Tapi siapa yang menentukan adat itu? Kepala adat? Masyarakat? Pemerintah daerah? Atau aparat sendiri? Ketika negara memberi ruang terlalu besar kepada penafsiran aparat, keadilan menjadi relatif, dan hukum kehilangan karakter universalnya.

Adat Itu Tidak Tertulis — Lalu Bagaimana Jaminan Kepastian?

Sebagian besar norma adat tidak terdokumentasi dengan rapi. Ia hidup dalam praktik, dalam kebiasaan, dalam narasi lisan turun-temurun. Ketika sesuatu yang tidak tertulis diberi kekuatan mempidanakan seseorang, maka ketidakpastian itu meningkat drastis.

Hukum pidana modern mengharuskan adanya legalitas—bahwa suatu perbuatan hanya dapat dihukum berdasarkan norma yang jelas, tegas, dan dapat diprediksi. Dengan living law, seseorang bisa saja dihukum karena melanggar norma yang tidak pernah ia ketahui, atau bahkan norma yang diperdebatkan oleh masyarakat lokal sendiri. Di sini, KUHP baru berpotensi melanggar prinsip fundamental: nullum crimen sine lege certa — tidak ada kejahatan tanpa hukum yang pasti.

Dalam konteks masyarakat yang semakin mobile, bagaimana seorang pendatang dapat memahami puluhan norma adat di setiap daerah yang ia kunjungi? Apakah setiap warga Indonesia harus menjadi ahli antropologi hukum agar tidak berisiko dipidana?

Living Law Sekaligus Membuka Ruang Moral Policing

Satu potensi penyalahgunaan yang paling menakutkan dari living law adalah berubahnya aparat penegak hukum menjadi polisi moral. Norma adat yang sebenarnya bersifat internal komunitas dapat dijadikan alat bagi aparat untuk menjustifikasi penindakan terhadap kelompok yang dianggap “berbeda” atau “mengganggu ketertiban”.

Norma berpakaian, pergaulan sosial, relasi antarindividu, hingga aktivitas budaya tertentu dapat ditarik-tarik menjadi “melanggar adat”, meskipun tidak ada standar baku. Di tangan aparat yang tidak profesional, living law bukan lagi penghormatan terhadap budaya, tetapi alat kontrol sosial yang mengekang kebebasan individu.

Sementara itu, kelompok-kelompok tertentu dapat memanipulasi definisi “adat” untuk mempertahankan dominasi sosial atau kekuasaan lokal mereka. Hukum pidana, yang seharusnya melindungi individu dari kesewenang-wenangan kelompok kuat, justru dapat menjadi alat memperkuat kekuatan itu.

Merayakan Keragaman Tanpa Mengorbankan Kepastian Hukum

Secara filosofi, tidak ada yang salah dengan keinginan negara untuk menghormati pluralisme hukum. Bahkan, negara-negara seperti Kanada atau Selandia Baru memiliki pengakuan terhadap hukum adat suku asli. Namun, perbedaannya adalah: pengakuan tersebut dibatasi secara ketat, bersifat komplementer, dan tidak digunakan sebagai sumber kriminalisasi tanpa standar nasional yang jelas.

KUHP baru belum menyelesaikan dilema itu. Ia memberikan ruang, tetapi tidak memberikan pagar. Ia merangkul adat, tetapi tidak menyediakan instrumen yang memastikan adat tidak dipakai secara sewenang-wenang.

Jika negara ingin hidupkan living law, maka setidaknya harus ada:

  • kodifikasi minimal atau inventarisasi norma adat yang diakui;

  • mekanisme verifikasi independen;

  • batasan jelas tentang norma yang dapat masuk ranah pidana;

  • standar nasional perlindungan HAM yang menjadi pagar utama;

  • serta pelatihan aparat agar memahami konteks, bukan sekadar menafsir sesuka hati.

Tanpa itu semua, living law berubah dari niat baik menjadi instrumen ketidakadilan.

Akhirnya, KUHP Baru Diuji bukan oleh Rumusan, tapi oleh Implementasi

Living law adalah salah satu elemen yang membuat KUHP baru menjadi revolusioner sekaligus berbahaya. Potensi baiknya besar, tetapi risiko buruknya lebih besar jika negara tidak berhati-hati dalam mengelola kebijakan ini. KUHP baru, pada akhirnya, tidak akan diukur dari keindahan teksnya, tetapi dari kecermatan pelaksanaannya.

Di negara di mana penegakan hukum sering menjadi perpanjangan politik dan moralitas mayoritas, memasukkan living law ke hukum pidana tanpa pagar ketat adalah langkah yang berani—atau nekat.

Yang jelas: sejak KUHP baru berlaku 2026 nanti, Indonesia tidak hanya menguji hukum baru; kita menguji masa depan keadilan itu sendiri.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Prabowo Menggulung IKN Secara Senyap: Warisan Jokowi yang Direm Pelan-Pelan”

Next Post

Kebebasan Sipil dalam Bayang-Bayang Pasal Kontroversial: KUHP Baru dan Masa Depan Kritik di Indonesia

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

Mundurnya Gubernur Bank Indonesia

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat
Feature

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026
Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo
Feature

Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

July 28, 2026
Next Post
Kebebasan Sipil dalam Bayang-Bayang Pasal Kontroversial: KUHP Baru dan Masa Depan Kritik di Indonesia

Kebebasan Sipil dalam Bayang-Bayang Pasal Kontroversial: KUHP Baru dan Masa Depan Kritik di Indonesia

KUHP Baru dan Pergeseran Paradigma: Dari Balas Dendam Negara ke Keadilan Restoratif?

KUHP Baru dan Pergeseran Paradigma: Dari Balas Dendam Negara ke Keadilan Restoratif?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Habis Nanik, Terbitlah Hotman
Feature

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

by Karyudi Sutajah Putra
July 23, 2026
0

Jakarta - Setelah Nanik S Deyang, kini giliran pengacara kondang Hotman Paris Hutapea yang menyatakan mundur. Jika Nanik mundur dari...

Read more
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

July 29, 2026
Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

July 29, 2026
Bandung Gelap, Warga Resah: Jalan Minim Penerangan Diduga Memicu Maraknya Aksi Begal

Bandung Gelap, Warga Resah: Jalan Minim Penerangan Diduga Memicu Maraknya Aksi Begal

July 28, 2026

Mundurnya Gubernur Bank Indonesia

July 28, 2026
Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

July 29, 2026
Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

July 29, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist