“Kalau didukung mau,” jelas Luhut, saat ditemui di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura Bali, di Denpasar Selatan, Selasa
Denpasar – Fusilatnews – Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan siap menggantikan Erlangga Hartarto sebagai Ketua Umum Partai Golkar bila mendapat dukungan luas kader Partai Golkar
.
“Kalau didukung mau,” jelas Luhut, saat ditemui di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura Bali, di Denpasar Selatan, Selasa (25/7).
Luhut menjawab pertanyaan wartawan: Pak Luhut siap menjadi ketua umum Golkar kalau banyak kader yang mendukung?
Menurut penilaian Luhut, kepemimpinan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto saat ini cukup bagus.
Luhut mengaku tidak punya masalah dengan Airlangga Hartarto. Ia menyerahkan sepenuhnya dinamika di internal Golkar sesuai mekanisme partai.
“Airlangga itu teman baik saya. Saya tidak ada masalah. Soal itu tadi (dukungan ke saya) biarin saja mekanisme mereka jalan, saya sih menunggu saja. Tidak ada kepentingan di situ,” katanya.
Kepemimpinan Airlangga di pucuk Partai Golkar tengah disorot oleh sejumlah pihak di internal partai.
Bermula dari bocoran keputusan Dewan Pakar Partai Golkar yang ingin mengevaluasi kepemimpinan Airlangga. Salah satu pertimbangannya adalah elektabilitas Airlangga yang rendah meskipun sudah menjadi bakal calon presiden dari Golkar.
Beberapa nama muncul di bursa ketua umum Golkar. Di antaranya Ketua MPR Bambang Soesatyo dan Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia
Airlangga sendiri telah menegaskan pergantian ketua umum hanya dilakukan melalui musyawarah nasional (munas)
Ia berkata tak akan ada munaslub Golkar seperti yang digaungkan sejumlah politisi senior.
“Ya itu tadi saya katakan, kan tidak ada (munaslub). Munas 2024, silakan kalau berminat jadi ketua umum Golkar, ke 2024,” kata Airlangga di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (13/7).
Sebelumnya Anggota Dewan Pakar Partai Golkar, Ridwan Hisjam dalam kesempatan sebelumnya mengatakan bahwa Dewan Pakar Partai Golkar telah mengeluarkan tiga rekomendasi untuk Airlangga. Dua poin utamanya, pertama adalah meminta Menteri Koordinator Perekonomian itu segera mendeklarasikan diri sebagai bakal capres.
Kedua, Partai Golkar harus membentuk poros baru untuk kendaraan politik Airlangga sebagai bakal capres. Jika dua poin tersebut tak terlaksana, munaslub untuk melengserkan Airlangga dari kursi ketua umum Partai Golkar sangat mungkin terjadi.
“Kalau (poin satu dan dua) tidak dilaksanakan maka otomatis, bukan tidak dilaksanakan, kalau Airlangga tidak bisa membentuk poros baru dan dia (tidak) menjadi calon presiden, maka harus dilaksanakan Munaslub,” ujar Ridwan dalam konferensi persnya di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (12/7).
























