Lima, Fusilatnews – Senin malam yang seharusnya jadi momen hangat bersama keluarga di distrik Lince, berubah menjadi duka tak berujung. Zetro Leonardo Purba (40), diplomat muda Indonesia, tewas ditembak saat tiba di apartemennya usai bersepeda bersama istri. Tiga peluru merenggut nyawanya tepat di depan pintu rumah, menyisakan luka mendalam bagi keluarga dan negeri di seberang samudra.
Korban sempat dibawa ke sebuah klinik setempat, namun nyawanya tak tertolong. Seorang rekan di KBRI Lima mengenang dengan pilu: “Kami kehilangan seorang kolega yang selalu membawa semangat dalam tiap tugasnya.”
Jejak Diplomasi yang Terhenti
Zetro baru lima bulan bertugas di KBRI Lima setelah sebelumnya bertugas di KJRI Melbourne, Australia. Berposisi sebagai Penata Kanselerai Muda, ia dikenal hangat, cekatan, dan selalu membawa senyum—baik dalam pekerjaan maupun saat menghabiskan waktu bersama keluarga. Kebiasaan akhir pekan bersepeda bersama anak-anak kini menjadi catatan tragis dalam perjalanan hidupnya.
Tegas dan Terbuka: Respons Pemerintah Indonesia
Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan belasungkawa dan mendesak penyelidikan tuntas, transparan, dan cepat. Ia berbicara langsung dengan istri Zetro serta Duta Besar Indonesia di Peru, memastikan dukungan penuh bagi keluarga almarhum, termasuk pemulangan jenazah dan keberlanjutan pendidikan anak-anaknya.
Di DPR, Komisi I turut mendesak tinjauan ulang protokol keamanan diplomat. Wakil Ketua Komisi I Dave Laksono menegaskan pentingnya kerja sama dengan otoritas setempat untuk memastikan perlindungan maksimal bagi personel Indonesia di luar negeri.
Peru Responsif: Janji Penyelidikan dan Perlindungan
Pemerintah Peru melalui Menteri Luar Negeri menyampaikan akan melakukan investigasi menyeluruh dan memberikan bantuan penuh kepada KBRI Lima. Aparat kepolisian merilis rekaman CCTV yang memperlihatkan pelaku menembak tiga kali sebelum melarikan diri dengan sepeda motor.
Lonjakan Kekerasan di Peru: Ancaman Nyata Bagi Banyak Pihak
Tragedi yang menimpa Zetro terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan di Peru, terutama di ibu kota, Lima. Dalam beberapa tahun terakhir, negara ini menghadapi lonjakan kasus pembunuhan dan peredaran narkoba yang kerap dikaitkan dengan kelompok kriminal terorganisasi.
Data kepolisian menunjukkan angka pembunuhan di Lima naik signifikan sejak 2023, dengan modus operandi yang kerap melibatkan sicariato atau pembunuhan berbayar. Modus ini biasanya terkait konflik antar geng atau utang narkoba, namun tak jarang menelan korban di luar lingkaran kriminal.
Distrik Lince sendiri selama ini relatif aman dibanding wilayah lain di Lima. Karena itu, penembakan terhadap seorang diplomat asing menjadi pukulan keras bagi citra keamanan Peru di mata dunia.
Hubungan Indonesia–Peru di Tengah Duka
Momen tragis ini terjadi di tengah hubungan bilateral yang sedang hangat. Presiden Peru, Dina Boluarte, baru saja melakukan kunjungan resmi ke Indonesia pada Agustus 2025, dan menerima penghargaan kehormatan tertinggi dari Presiden Prabowo Subianto. Hubungan dua negara yang sedang menguat kini diuji oleh tragedi ini.
Bagi publik Indonesia, peristiwa ini lebih dari sekadar angka dalam statistik kriminal. Ia adalah pengingat bahwa para diplomat, yang bekerja jauh dari tanah air demi mengibarkan bendera merah putih, juga menghadapi risiko nyata.
Zetro Leonardo Purba kini tinggal nama. Namun jejak pengabdiannya, dari Melbourne hingga Lima, akan selalu dikenang sebagai bukti kesetiaan seorang anak bangsa. Di balik tragedi ini, pertanyaan besar masih menggantung: akankah keadilan benar-benar ditegakkan di negeri Andes itu?

























