Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Julukan “Macan Asia” kerap disematkan kepada Presiden Prabowo Subianto oleh para pendukungnya. Julukan ini merujuk pada ambisinya untuk menjadikan Indonesia kuat dan berwibawa, minimal di tingkat Asia, serta karakternya yang tegas dan berani.
Sayangnya, Macan Asia itu kini memgembik, bukan mengaum. Embik adalah suara kambing, sedangkan aum adalah suara macan atau harimau.
Kalau pun masih menjadi macan, macan itu kini telah ompong. Atau sekadar macan podium yang hanya berapi-api saat di podium saja.
Lihat saja. Saat proyek Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) didera utang lebih dari Rp16 triliun dan kerugian kereta cepat Whoosh mencapai Rp4,2 triliun di 2024 dan Rp1,6 triliun di semester pertama 2025, Prabowo langsung mengambil alih tanggung jawab tersebut yang mestinya menjadi tanggung jawab Badan Pengelola Investasi (BIP) Danantara yang merupakan pengganti Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Pengambilalihan tanggung jawab ini bukan berarti Prabowo kuat. Justru sebaliknya, lemah. Lemah menghadapi tekanan dan sebagainya.
Menurut Prabowo, utang Whoosh akan dibayar oleh negara, dari uang dan aset rampasan koruptor. Artinya, uang itu akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), karena uang dan aset rampasan koruptor itu pun akan masuk APBN sebagai Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Proyek KCIC dibangun pada 2023 atau di masa pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Selain meninggalkan utang dan kerugian jumbo, proyek ini juga diduga sarat korupsi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pun sedang menyelidikinya.
Banyak tudingan miring diarahkan ke Jokowi, dan wong Solo itu diminta bertanggung jawab.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pun pernah menyatakan tak sudi membayar utang KCIC dengan APBN.
Namun, pengganti Sri Mulyani yang diharapkan tampil sebagai macan itu kini seperti kerupuk tersiram air. Melempem. Ikut-ikutan mengembik seperti kambing, seperti si Macan Asia itu.
Memang, utang KCIC kepada China mau tak mau harus dibayar. Ini menyangkut integritas dan kredibilitas Indonesia sebagai sebuah negara. Jika tidak dibayar, maka kepercayaan internasional kepada Indonesia akan jatuh ke titik nadir.
Di sinilah Prabowo sebenarnya tersandera oleh Jokowi. Sebagai Presiden pengganti Jokowi, mau tak mau Prabowo harus membayar utang yang ditinggalkan bekas Gubernur DKI Jakarta itu.
Tidak itu saja. Prabowo juga membela Jokowi dengan meminta masyarakat menghentikan polemik untung-rugi Whoosh, karena sebagai “public service obligation”, yang dihitung bukan untung-rugi, melainkan manfaatnya bagi rakyat.
Anekdot pun muncul. Ada seorang gadis bernama Whoosh yang dihamili oleh Wiwi, tapi yang dipaksa menikahi justru Wowo, dan biaya pernikahan sekaligus resepsinya ditanggung oleh seluruh masyarakat. Aneh, bukan?
Ternyata, Macan Asia itu tersandera oleh Jokowi. Sang jenderal tak berdaya melawan bekas tukang kayu itu. Seperti macan rasa kambing. Ia tidak mengaum, tapi mengembik.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)




















