Oleh: Nazaruddin
Nama Purbaya tiba-tiba menggema di ruang publik.
Ia menjelma simbol pejabat langka — berani, jujur, dan tak gentar mengguncang sistem yang telah lama membatu. Namun di balik nama itu, bergema pula sejarah yang jauh lebih tua. Empat abad silam, ada Purbaya lain — bukan birokrat, melainkan panglima Mataram — yang juga memilih jalan sulit: mempertahankan kehormatan ketika kerajaannya nyaris runtuh.
Pada masa Amangkurat I (1646–1677), Mataram Islam terjerat krisis mendalam. Raja yang mewarisi kejayaan Sultan Agung justru menebar ketakutan, menyingkirkan ulama dan bangsawan pesisir, hingga meletuslah pemberontakan besar Trunajaya dari Madura. Itu bukan sekadar perang senjata, melainkan letupan amarah terhadap kekuasaan yang kehilangan legitimasi moral.
Di tengah badai itu, Raden Purbaya, putra Panembahan Senopati dari garis selir, dipanggil dari masa tuanya untuk menyelamatkan kerajaan. Ia bukan pewaris tahta, tapi dikenal sakti, setia, dan teguh menjaga martabat Mataram. Saat banyak bangsawan memilih diam, Purbaya mengangkat senjata. Ia memimpin pasukan menuju Gegodog, Besuki, pada tahun 1676 — menghadang gelombang besar prajurit Trunajaya.
Pertempuran itu menjadi titik balik sejarah Mataram.
Pasukan Purbaya hancur, dan sang panglima tua gugur di medan laga. Sejarah dan babad mencatatnya sebagai kekalahan besar yang membuka jalan bagi jatuhnya istana Plered. Namun dari tragedi itu lahirlah simbol yang abadi: seorang bangsawan yang tetap setia ketika istananya sendiri telah kehilangan kesetiaan.
Kini, empat abad berlalu, nama itu hidup kembali.
Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan Republik, tentu bukan panglima perang, tapi ia menghadapi pertempuran yang tak kalah berat — perang melawan korupsi, kemalasan, dan kebekuan moral birokrasi.
Ketika ia berbicara jujur, membuka ruang publik untuk melapor langsung, dan menolak tunduk pada pola lama, publik menyambutnya dengan hangat — seolah sejarah berbisik, “Masih ada Purbaya di zaman ini.”
Sejarah memang tak pernah berulang persis, tetapi ia berputar dalam pola yang serupa.
Dulu, Mataram membutuhkan seorang Purbaya untuk melawan kehancuran moral istana. Kini, republik ini pun menunggu sosok serupa: bukan prajurit di medan perang, melainkan pejabat yang berani menanggung risiko demi kebenaran.
Nama yang sama, makna yang sama — hanya zamannya yang berbeda.
Jika empat abad lalu Purbaya gugur di Gegodog, maka hari ini seorang Purbaya lain tengah bertempur di meja kerja — melawan musuh yang tak kasatmata, tapi sama mematikannya: ketakutan untuk berubah.

Oleh: Nazaruddin






















