Fusilatnews – Damai Hari Lubis (DHL), pengamat hukum tata negara yang dikenal lugas dan tanpa tedeng aling-aling, menyoroti sosok Mahfud MD dengan penilaian yang tajam dan tanpa kompromi. Baginya, Mahfud bukanlah figur ideal yang pantas dijadikan panutan moral atau soko guru bagi bangsa. Ia menyebut Mahfud sebagai “intelektual cap dua kaki,” seorang pemikir yang berdiri di dua sisi, tetapi tidak menjejak kokoh di salah satunya.
Menurut Damai, cara berpikir Mahfud cenderung keblinger karena sarat dengan muatan politik yang fragmatis—yakni pola berpikir yang disesuaikan dengan arah angin kekuasaan. Ia menilai Mahfud seringkali berusaha menjustifikasi hal-hal yang menyimpang dalam praktik kekuasaan, terutama ketika masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) di era Jokowi.
“Realitas perilaku pejabat publik, di antaranya Jokowi saat dia Menkopolhukam, hal-hal yang menyimpang dia upayakan menjadi kebenaran,” ujar Damai, menyoroti kecenderungan Mahfud untuk menggunakan dalil hukum dan logika intelektual guna membenarkan kebijakan politik yang sebenarnya problematik.
Damai menggambarkan Mahfud dengan perumpamaan tajam: “Ibarat besi hitam dan bengkok, dengan ilmu yang ia miliki, dia paksa katakan lurus dan putih bersih.” Ungkapan ini bukan sekadar kritik personal, tetapi sindiran mendalam terhadap intelektualisme yang kehilangan arah moral. Bagi Damai, ilmu dan kecerdasan bukan untuk menutupi penyimpangan, melainkan untuk menyingkapnya. Ketika seorang intelektual menggunakan pengetahuannya untuk melapisi kebohongan politik, di situlah integritas runtuh.
Dalam pandangan Damai, Mahfud memang cerdas dan berwawasan luas, tetapi kecerdasan itu justru menjadi paradoks. Ia seolah menggabungkan idealisme hukum dengan kepentingan politik praktis. Akibatnya, posisi Mahfud sering ambigu: di satu sisi berbicara tentang supremasi hukum, di sisi lain menoleransi praktik kekuasaan yang menyimpang.
Bagi Damai, inilah yang menjadikan Mahfud MD tidak layak disebut soko guru bangsa. Seorang soko guru, dalam pandangan moral dan filosofis, adalah penopang nilai—bukan penyesuai keadaan. Ia berdiri tegak meski arus kekuasaan mengalir deras ke arah yang salah. Sementara Mahfud, menurut Damai, memilih untuk berenang di dalam arus itu sambil menyebut dirinya pembela kebenaran.
Kritik Damai ini mungkin terdengar keras, tetapi di balik ketajamannya tersimpan keprihatinan terhadap fenomena intelektual yang kehilangan arah. Bahwa di tengah hiruk pikuk politik pragmatis, kebenaran tidak lagi dipertahankan sebagai nilai, melainkan dijadikan alat tawar untuk kepentingan sesaat.
Pada akhirnya, kritik Damai Hari Lubis terhadap Mahfud MD bukan sekadar serangan pribadi, melainkan refleksi atas krisis moral di tubuh elite intelektual negeri ini—mereka yang mengerti benar makna kebenaran, tetapi memilih diam atau bahkan ikut membengkokkan besi hitam kekuasaan sambil berkata: “Ini lurus, ini putih.”

























