*Oleh: Malika Dwi Ana
Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang katanya bakal angkat gizi 82,9 juta anak sekolah Indonesia dari kubangan stunting, malah jadi bom racun yang meledak di muka publik. Dengan anggaran Rp71 triliun di 2025—naik gila-gilaan jadi Rp335 triliun di 2026—program ini bukannya bikin otak encer, tapi malah bikin perut anak-anak mual, diare, sampe sesak napas. Sudah 5.626 korban tersebar di 16-17 provinsi, dan angka ini cuma ujung gunung es dari kegagalan kolosal yang bikin orang takut buka mulut di kantin sekolah. Cukup sudah—#StopMBG harus diteriakkan sekarang!
Lihat fakta yang bikin darah naik: anggaran per porsi cuma Rp10 ribu-an, tapi nasi kotak biasa aja lebih mahal dari itu. Hasilnya? Tahu atau telor secuil, sayur bening tanpa isi, dan ayam yang entah dari mana—basi, berdarah, atau mungkin cuma ilusi. Di Bandung Barat, 1.000 lebih siswa jadi korban setelah makan menu spesial MBG, sementara di Makassar, E. coli jadi bintang tamu tak diundang. Serapan anggaran? Cuma Rp13 triliun sampe September 2025, atau 18% doang—sisanya kemana? Sisanya yang Rp58 triliun “lenyap” entah ke mana, hantu? Wakil Kepala BGN, Nanik S Deyang, nangis bombastis minta maaf 26 September lalu, janji “gak keulang”—tapi korban baru terus berjatuhan.
Anggaran Kecil vs Budaya Maling: Racun Sejati Bangsa
Jangan salah, anggaran kecil bukan masalah kalau dikelola jujur. Emak-emak di kampung bisa bikin empat piring lezat dari receh, tapi di tangan birokrasi MBG, duit triliunan lenyap bak sulap. Transparency International nyanyi keras: penyimpangan anggaran di level teknis bikin menu MBG jauh di bawah standar—bahan mentah dari hewan sakit, dimasak dini hari sampe basi, distribusi lambat, dan pengawasan cuma ada di mimpi. Anggaran 2026 yang nyedot Rp335 triliun—44% dari Rp769 triliun pendidikan—malah pangkas Tunjangan Khusus Daerah (TKD) Rp269 triliun, bikin guru honorer nangis darah dan sekolah tambah miskin.
Budaya maling inilah racun sejati. Bukan cuma maling ayam kampung, tapi maling berjubah pejabat yang menyedot duit sebelum sampai ke piring anak-anak. Di medsos rame dengan sindiran: “MBG sukses kalau nol korupsi, Rp15 ribu per porsi cukup,” atau “Anggaran triliunan, hasilnya racun—vendor mana yang cuan?” Korupsi ini bukan lagi soal uang, tapi nyawa—5.626 anak jadi korban, orang tua trauma, dan sekolah jadi zona bahaya, bukan tempat belajar.
Niat Baik Tanpa Kompetensi: Kejahatan Terencana?
Ini bukan cuma kelalaian—ini kejahatan terselubung! Niat baik tanpa kompetensi, seperti tag #stopMBG, adalah bom waktu. BGN janji sertifikasi SLHS dan hotline, tapi kalau pengawasan cuma di atas kertas, buat apa? Pakar CISDI bilang ambisi masif 82,9 juta penerima bikin tata kelola ambruk—menu ultra-processed penuh gula, mubazir, dan gak ada kanal pelaporan cepat. Bahkan ada bisikan sabotase: duit disedot buat gagalnya program, entah oleh internal BGN atau oposisi buat diskreditkan presiden. Mirip tragedi KPPS 2019, di mana ratusan petugas “kelelahan” mati—kini anak-anak jadi target baru racun politik?
Waktunya Tindakan Nyata: #StopMBG atau Kehilangan Aset Bangsa
Cukup main-main dengan nyawa anak bangsa! Berikut ini usulan buat hentikan bencana :
- Moratorium Sekarang: Hentikan MBG 6 bulan, alihkan Rp71 triliun ke bantuan tunai Rp200 ribu/anak/bulan—langsung ke orang tua, nol celah maling!
- Audit Berdarah: Selidiki Rp58 triliun “ghoib” bareng KPK, adili pejabat dan vendor penyedot—hukuman berat, bukan cuma surat peringatan!
- Dapur Sekolah Mandiri: Libatkan chef lokal, pasang CCTV live, wajib tes lab bahan—biar emak-emak aja yang pegang dapur, lebih jujur!
- Edukasi, Bukan Racun: Ganti MBG dengan program gizi berbasis sekolah, bukan proyek ambisius yang cuma gemukkan kantong elit.
Ini bukan soal stunting gizi lagi, tapi stunting moral bangsa. Nanik bisa nangis sepuasnya, Prabowo juga bisa salahkan “sendok yang salah”—tapi kalau gak ada tindakan, air mata itu cuma jadi airmata buaya, dan pidato Prabowo ya cuman retorika belaka. #StopMBG bukan cuma tagar, tapi panggilan jiwa buat selamatkan anak-anak kita dari kejahatan KOMPETENSI NOL ini! Niat baik tanpa kompetensi bisa jadi bencana—apalagi dengan anggaran Rp1 triliun per hari yang katanya “hilang” sebagian buat cuan vendor. Mungkin #stopMBG ini saatnya didenger pemerintah, ganti sistem yang lebih aman kayak bantuan tunai atau pendampingan gizi lokal.(MDA).
*Oleh: Malika Dwi Ana


















