• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Malu Aku Jadi Profesor di Indonesia

fusilat by fusilat
August 6, 2022
in Feature
0
Malu Aku Jadi Profesor di Indonesia

Ilustrasi wisuda

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Sutawi, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang

Guru besar (profesor) merupakan jabatan akademis tertinggi seorang dosen di perguruan tinggi (PT). Bagi seorang dosen, menjadi profesor adalah gabungan antara ambisi, prestasi, gengsi, sensasi, dan ekonomi.

Keberadaan sejumlah guru besar merupakan salah satu penentu kualitas, kemajuan, dan wibawa sebuah PT. Semakin banyak jumlah guru besar, semakin baik kualitas PT dan semakin bertambah kepercayaan publik. Karena itu, semua PT saat ini berlomba-lomba mendorong para dosen untuk mencapai jabatan guru besar.

Statistik Pendidikan Tinggi 2021 mencatat hanya 7.192 (2,25 persen) dosen yang bergelar profesor dari sebanyak 320.052 dosen di Indonesia. Jumlah tersebut sangat jauh di bawah jumlah ideal profesor di Indonesia sebanyak 10 persen.

Setiap dosen seharusnya bercita-cita menjadi guru besar, tetapi kenyataannya tidak demikian. Banyak dosen, yang meskipun sudah mendekati usia purna tugas, masih berpendidikan magister (S2). Banyak pula dosen yang sudah berpendidikan doktor (S3) dan pada jabatan lektor kepala, tetapi enggan menulis jurnal internasional bereputasi sebagai syarat utama pengajuan guru besar.  

Aneka jenis dosen dan profesor

Berdasarkan motivasinya, dosen PT di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi enam (Sutawi, 2006). Pertama, dosen akademis. Dosen kelompok ini aktif mengumpulkan prestasi-prestasi akademis, sehingga kepangkatan dan jabatan fungsionalnya cepat naik dan berhasil menjadi guru besar pada usia relatif muda (sebelum 50 tahun).

Kedua, dosen politis yang senang mengejar jabatan-jabatan struktural baik di lingkungan perguruan tinggi maupun di luar kampus. Dosen kelompok ini merasa terhormat jika memegang jabatan struktural.

Ketiga, dosen sosialis yang menjadikan profesi dosen sebagai status sosial yang bergengsi di masyarakat. Umumnya dosen sosialis telah memiliki status ekonomi yang mapan dari sumber pendapatan lain yang lebih banyak, sehingga yang mereka butuhkan adalah status sosial.

Keempat, dosen kapitalis yang berusaha memperbanyak kekayaan finansialnya baik melalui kegiatan akademis, politis, maupun bisnis, dengan memanfaatkan nama PT-nya. Tidak jarang mereka juga melakukan kegiatan bisnis dengan/dan di lingkungan PT-nya.

Kelima, dosen selebritis yang pandai menganalisis fakta dan mengolah kata-kata, serta sering tampil di berbagai media diskusi, debat publik, seminar, talk show, dan sejenisnya.

Keenam, dosen agamis yang menjadikan profesi dosen demi pengabdian dan ibadah kepada Tuhan. Aktivitas utama mereka adalah mengajar demi mengejar pahala surga.

Dari keenam kelompok dosen tersebut, dosen akademislah yang paling mudah didorong dan diharapkan menjadi guru besar. Kuantitas profesor yang sedikit berkorelasi terhadap rendahnya kualitas PT di Indonesia.

Berdasarkan Times Higher Education 2022, tiga perguruan tinggi terbaik Indonesia hanya menempati posisi seribuan: UI (801-1000), ITB (1001-1200), dan UGM (1201+). Posisi ini jauh di bawah universitas terbaik di negara berkembang anggota G20 seperti University of Cape Town, Afrika Selatan (183), University of Buenos Aires, Argentina (176-200), King Abdul Aziz University, Saudi Arabia (190), University of Sao Paulo, Brazil (201-250), Indian Institute of Science, India (301-350), Cankaya University, Turki (401-500), dan Monterrey Institute of Technology, Mexico (601-800).

Peringkat universitas terbaik Indonesia bahkan masih jauh di bawah universitas di negara Afrika yang tingkat kemajuannya berada di belakang Indonesia, seperti Addis Ababa University di Ethiopia (401-500), University of Nairobi di Kenya (501-600), University of Lagos di Nigeria (501-600), dan Makerere University di Uganda (601-800).

Selain kuantitas, kualitas profesor juga berkontribusi terhadap rendahnya kualitas PT di Indonesia. Prof Mikrajuddin Abdullah, Guru Besar ITB, mengkritisi bahwa para dosen “berubah menjadi santai” ketika memperoleh jabatan profesor. Puncak karya dosen di Indonesia terjadi pada periode pengajuan jabatan dari lektor kepala ke guru besar, dan prestasi tersebut meluruh begitu SK guru besar turun (Abdullah, 2022).

Bagaikan pendaki gunung, profesor adalah dosen yang telah mencapai puncak karir. Yang dilakukan kemudian adalah menikmati hasil jerih payahnya, terutama berupa tunjangan sertifikasi profesor yang besarnya tiga kali lipat tunjangan dosen yang bukan profesor.

Aktivitas ilmiah yang terpenting adalah menulis satu buku dan satu jurnal internasional bereputasi, atau satu buku dan tiga jurnal internasional, setiap tiga tahun untuk mempertahankan agar tunjangan profesornya tetap mengalir setiap bulan.

Seperti dosen pada umumnya, motivasi profesor juga dapat dikelompokkan menjadi enam: profesor akademis, profesor politis, profesor sosialis, profesor kapitalis, profesor selebritis, dan profesor agamis. Inilah yang menyebabkan profesor Indonesia jarang sekali yang menghasilkan karya ilmiah, inovasi maupun teknologi yang bermutu tinggi yang bermanfaat dan dapat mengangkat harkat martabat dirinya, PT-nya, dan bangsa Indonesia.

Prof. Mikrajuddin Abdullah juga mengungkapkan bahwa hanya sebagian kecil dosen tertentu yang berkontribusi signifikan dalam membesarkan nama PT, sedangkan sebagian besar lainnya “hanya menikmati” nama besar PT-nya.

Sebagian kecil tersebut adalah dosen akademis dan profesor akademis, sedangkan sebagian besar adalah lima kelompok dosen dan profesor lainnya.  

Lebih dituntut bikin laporan keuangan dibanding laporan penelitian Kendala para dosen dan profesor akademis dalam menghasilkan karya ilmiah dan buah pemikiran yang bermanfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemaslahatan masyarakat bukan hanya masalah dana, melainkan administrasi laporan keuangan.

Di negara yang terkenal korupsinya ini, laporan keuangan justru dianggap lebih penting daripada laporan penelitian. Seorang profesor yang meneliti mobil listrik misalnya, tidak cukup melaporkan hasil berupa prototipe mobil listrik atau luaran jurnal internasional bereputasi, melainkan juga harus mempertanggungjawabkan laporan keuangan setiap rupiah yang digunakan. Jika diduga bersalah, dia harus siap diperiksa BPK atau kejaksaan.

Seorang profesor yang dalam proposalnya menyebutkan “biaya membeli rumput 10 ton sebesar Rp 10 juta” misalnya, akan dianggap bersalah jika dalam laporan keuangannya menjadi “upah memotong rumput (ngarit) 10 ton sebesar Rp 10 juta”.

Sejumlah profesor kemudian melakukan “taubatan nasuha” untuk tidak mengajukan proposal penelitian berdana besar yang berisiko terhadap kebahagiaan hidupnya. Para profesor juga tidak tertarik menjadi penulis buku bermutu. Menulis buku bermutu itu membutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, dan perasaan yang luar biasa. Royalti menulis buku juga tidak besar, hanya sekitar Rp 10 ribu per buku. Jika bukunya tidak laku di pasaran, maka mereka tidak memperoleh royalti sesuai harapan. Jika bukunya laku keras di pasaran, maka akan terbit buku bajakan atau fotokopian yang merugikan dirinya.

Oleh karena itu, sejumlah profesor tidak lagi tertarik menjadi peneliti unggulan dan penulis buku bermutu. Mereka lebih bahagia jika bisa menjadi pejabat pemerintah, pejabat kampus, politisi, konsultan, nara sumber, penceramah, atau bintang iklan.

Dikutip dari Kompas.com, Sabtu 6 Agustus 2022.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

5 Temuan Baru Komnas HAM di Kasus Kematian Brigadir J, Inilah Faktanya

Next Post

BREAKING NEWS: Kuasa Hukum Bharada E Mengundurkan Diri, Alasanya Masih Misteri!!

fusilat

fusilat

Related Posts

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik
Feature

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

April 16, 2026
Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.
Feature

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif
Feature

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Next Post
BREAKING NEWS: Kuasa Hukum Bharada E Mengundurkan Diri, Alasanya Masih Misteri!!

BREAKING NEWS: Kuasa Hukum Bharada E Mengundurkan Diri, Alasanya Masih Misteri!!

Perlakuan Polisi ke Bharada E, Purnawirawan Polri: Tokoh Maha Sakti, Kekuatannya Melebihi Jendral!

IPW: Cek Siapa yang Membiayai Pengacara Bharada E

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”
Crime

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

by Karyudi Sutajah Putra
April 15, 2026
0

Jakarta--FusilatNews - Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Universitas Indonesia (UI) serta ekspresi misoginis dan seksis yang mengarah pada normalisasi...

Read more
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Tertipu, Ahmad Sahroni Berkasus dengan KPK?

April 11, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

April 16, 2026
Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026
Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

April 16, 2026
Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist