Fusilatnews – Pernyataan Titiek Soeharto, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, layak dicatat sebagai teguran halus namun menohok kepada Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi). Dengan kalimat sederhana—“Bapak juga belum memikirkan kali ya lima tahun berikutnya”—Titiek seakan membalikkan wacana yang sedang dibangun Jokowi: dukungan dua periode untuk pasangan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Teguran itu bukan sekadar respons spontan. Ia lahir dari kegelisahan atas fenomena politik yang justru lebih sibuk merencanakan kontestasi 2029 ketimbang menyelesaikan persoalan bangsa di depan mata. Padahal, masa pemerintahan Prabowo-Gibran baru berjalan hitungan bulan. Mengapa sudah dibebani dengan ambisi dua periode?
Politik Jangka Panjang vs. Pekerjaan Rumah Mendesak
Titiek menegaskan bahwa yang lebih penting saat ini adalah membuktikan kinerja. Prabowo harus menyelesaikan tugas lima tahunnya terlebih dahulu, mulai dari stabilisasi ekonomi, penguatan pangan, hingga membangun kembali kepercayaan publik terhadap pemerintahan. Semua itu adalah pekerjaan rumah yang tidak kecil.
Tapi Jokowi, dengan kepercayaan dirinya, justru mendahului waktu. Melalui relawannya, ia menyerukan dukungan penuh agar Prabowo-Gibran melanjutkan kekuasaan hingga 2034. Jokowi seperti ingin menegaskan bahwa pengaruhnya tidak berhenti meski ia tak lagi berkuasa. Namun di balik itu, publik bisa membaca adanya obsesi untuk memastikan “legacy politik”-nya tetap terawat.
Kritik Terselubung
Kalimat Titiek, jika ditafsir lebih dalam, mengandung kritik terhadap gaya kepemimpinan Jokowi yang kerap mengabaikan urgensi saat ini demi mengatur peta kekuasaan masa depan. Bukankah Jokowi sendiri pernah dicatat publik lebih sibuk memikirkan Ibu Kota Nusantara (IKN) ketimbang memperhatikan kualitas pendidikan atau kesejahteraan petani? Kini, pola yang sama muncul: belum genap satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, wacana dua periode sudah digelorakan.
Di titik inilah sentilan Titiek menjadi penting. Ia mewakili suara akal sehat yang mengingatkan: jangan terjebak pada euforia kekuasaan. Pemerintahan tidak bisa dijalankan dengan janji masa depan yang belum tentu datang, tetapi harus dibuktikan dengan kinerja nyata hari ini.
Jokowi dan Politik Relawan
Kehadiran relawan Bara JP, Projo, dan sejenisnya menunjukkan pola lama yang berulang. Relawan yang dahulu menjadi mesin politik Jokowi kini dipaksa bertransformasi menjadi corong legitimasi bagi Prabowo-Gibran. Seakan-akan suara rakyat harus diarahkan sesuai komando, bukan lahir dari evaluasi kritis terhadap kinerja pemerintahan.
Kaesang Pangarep, putra Jokowi sekaligus Ketua Umum PSI, bahkan turut hadir dalam acara relawan. Hal ini makin mempertegas aroma dinasti politik yang melingkupi wacana “dua periode”. Apakah Prabowo sungguh dibiarkan memimpin dengan independen, ataukah ia sedang “dikawal” oleh bayang-bayang politik Jokowi?
Mengembalikan Fokus ke Rakyat
Esensi kritik Titiek sederhana: jangan melompat terlalu jauh. Bangsa ini masih menanti bukti, bukan janji. Rakyat ingin melihat bagaimana Prabowo mengelola negara, menekan harga kebutuhan pokok, memperkuat ketahanan energi, hingga menciptakan lapangan kerja yang layak. Semua itu tidak bisa ditutupi dengan propaganda “lanjut dua periode” yang digencarkan lebih dini.
Teguran Titiek bisa jadi pengingat berharga, terutama bagi Prabowo. Ia harus memastikan dirinya tidak sekadar menjadi perpanjangan tangan kepentingan politik Jokowi, melainkan tampil sebagai pemimpin dengan visi sendiri. Jika tidak, sejarah akan mencatat bahwa periode 2024–2029 hanyalah panggung peralihan untuk melanggengkan pengaruh Jokowi, bukan era baru yang menjawab harapan rakyat.

























