Setiap Sabtu pagi, layar kecil di hadapan saya menjadi jendela menuju perbincangan hangat dengan sahabat-sahabat dari berbagai kota di Jepang. Kami berkumpul, meski terpisah jarak ribuan kilometer, untuk berbagi pikiran, cerita, dan renungan tentang satu tema yang terus menarik perhatian: Indonesia. Topik yang kami bahas melintasi kebiasaan, adat, budaya, hingga ke hal-hal kecil yang sering dianggap remeh namun menyimpan makna mendalam.
Dalam percakapan itu, ada selalu rasa penasaran yang terpancar dari wajah-wajah mereka. Orang Jepang, dengan sikap mereka yang penuh hormat pada tradisi, seringkali mengajukan pertanyaan yang tajam namun bersahaja. Mereka ingin tahu, apa itu budaya Indonesia? Bagaimana makanan Indonesia? Apa yang menjadikannya istimewa? Pertanyaan-pertanyaan itu, yang terdengar sederhana, selalu membawa saya pada perenungan yang lebih dalam.
“Budaya Indonesia,” kata saya suatu kali, “bukanlah sesuatu yang bisa kita tunjukkan dengan satu gambar atau satu rasa.” Apa yang mereka anggap sebagai budaya Indonesia, sejatinya adalah mosaik dari berbagai kepingan yang berasal dari begitu banyak interaksi, warisan, dan persilangan. Saya jelaskan, Bali, dengan tariannya yang mistis dan adatnya yang kaya, bukanlah cerminan mutlak Indonesia. Sama halnya, Minangkabau dengan rumah gadangnya yang megah, atau Papua dengan harmoni alam dan kearifan lokalnya, juga tidak bisa berdiri sebagai wakil tunggal dari keseluruhan bangsa. Indonesia adalah peta yang hidup, bergerak, dan berubah, dibentuk oleh begitu banyak garis irisan.
Bahkan di Pulau Jawa saja, yang sering dianggap sebagai pusat kebudayaan Indonesia, perbedaan sudah begitu mencolok. Bahasa Sunda di barat berirama lembut, sementara Bahasa Jawa di tengah dan timur membawa kehalusan yang penuh makna. Adat istiadat di tanah Sunda tidak sepenuhnya bisa diterima di tanah Jawa, dan begitu pula sebaliknya. Pulau yang sama, namun dengan jiwa yang berbeda.
Saya katakan kepada mereka, apa yang kini kita lihat sebagai budaya Indonesia sebenarnya belum selesai. Budaya ini belum sepenuhnya mengkristal menjadi satu identitas yang utuh. Ia masih terus bertumbuh, menyerap, dan mencari bentuk. Mungkin, Indonesia adalah karya seni yang selalu terbuka untuk ditambahkan warna baru.
Perbincangan ini selalu meninggalkan jejak di hati saya. Ada rasa haru ketika mencoba menjelaskan sebuah negeri yang begitu kompleks, namun juga indah dalam keberagamannya. Saya merasa, tugas untuk menggambarkan Indonesia secara utuh adalah perjalanan panjang yang tak akan selesai. Itulah sebabnya, saya mulai menulis buku tentang potret Indonesia – bukan untuk mencari jawaban, tetapi untuk mengumpulkan cerita, lapisan demi lapisan, yang menjadikannya seperti sekarang.
Mereka, sahabat-sahabat saya di Jepang, mungkin melihat Indonesia sebagai sesuatu yang eksotis, misterius, sekaligus memikat. Tapi bagi saya, Indonesia adalah rumah, tempat saya tumbuh dan terus belajar, tempat segala sesuatu – adat, budaya, bahasa, makanan, hingga cara berpikir – menyatu dalam harmoni yang kadang berisik, namun tak pernah kehilangan keindahannya.




















