Yus Dharman, SH., MM., M.Kn
Advokat / Ketua Dewan Pengawas FAPRI (Forum Advokat & Pengacara Republik Indonesia)
Di Iran, agama tidak sekadar berfungsi sebagai identitas spiritual, melainkan menjadi fondasi utama dalam legitimasi politik, ekonomi, hukum, serta ideologi negara. Sistem ini membentuk karakter negara yang unik—di mana nilai-nilai teologis berpadu erat dengan struktur kekuasaan.
Peran ulama, khususnya Pemimpin Tertinggi (Rahbar), menjadi sentral dalam sistem ini. Otoritasnya tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga mencakup kendali atas pemerintahan tertinggi. Saat ini, posisi tersebut secara resmi dipegang oleh Ali Khamenei, yang menjadi simbol sekaligus pengendali arah negara.
Rakyat Iran diwajibkan menjadikan Al-Qur’an dan Hadis sebagai way of life dan way of thinking dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai seperti keimanan, kejujuran, ketabahan, kerja keras, kesabaran, dan keikhlasan ditanamkan secara sistematis.
Nilai-nilai tersebut bukan sekadar moralitas individual, tetapi menjadi fondasi dari sistem pertahanan keamanan rakyat semesta (Hankamrata) dalam skala nasional. Ia juga berfungsi sebagai instrumen mobilisasi massa untuk menghadapi penindasan dan apa yang mereka definisikan sebagai “imperialisme global”, sekaligus menjadi pijakan dalam garis besar haluan negara.
Doktrin ini berimplikasi pada kondisi sosial di tingkat akar rumput, di mana tingkat kejahatan relatif rendah. Namun demikian, di tingkat elit, persoalan korupsi masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Di sektor ekonomi, selain minyak sebagai penopang utama pendapatan negara, sektor UMKM memainkan peran signifikan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Aktivitas ekonomi rakyat berkembang di berbagai sektor seperti pertanian, perikanan, peternakan, pupuk, kerajinan, serta jasa—yang secara luas menyerap tenaga kerja.
Sinergi antara ajaran agama, kekuatan ekonomi, dan sistem pertahanan rakyat menciptakan jaringan politik-militer yang kokoh. Doktrin jihad dalam ajaran Islam ditekankan sebagai bentuk perlawanan, yang membentuk militansi masyarakat dalam menghadapi kekuatan global seperti Amerika Serikat dan Israel beserta sekutu-sekutunya.
Meskipun berada di bawah embargo ekonomi selama lebih dari empat dekade, Iran tetap mampu bertahan. Bahkan, tekanan tersebut justru mendorong kemandirian, khususnya dalam pengembangan industri pertahanan. Negara ini berhasil membangun kemampuan produksi alutsista secara mandiri, menjadikannya relatif tangguh terhadap tekanan eksternal.
Sanksi internasional yang bertujuan melemahkan justru berbalik menjadi katalis bagi penguatan internal. Masyarakat dan negara terdorong untuk mengembangkan kapasitas domestik, terutama di sektor strategis.
Dalam konteks geopolitik, Iran juga membangun jaringan pengaruh melalui berbagai kelompok proksi di kawasan. Di antaranya Hizbullah di Lebanon, kelompok Houthi di Yaman, Hashd al-Shaabi di Irak, serta kelompok seperti Hamas dan Palestinian Islamic Jihad di Palestina.
Strategi ini bertujuan memperluas pengaruh geopolitik, menekan musuh, serta mempertahankan stabilitas rezim tanpa harus terlibat dalam konfrontasi langsung dengan blok Amerika dan sekutunya.
Selain faktor ideologi dan strategi militer, Iran juga diuntungkan oleh kondisi geografisnya.
Di bagian barat, Iran dilindungi oleh Pegunungan Zagros, sementara di utara membentang Pegunungan Alborz. Formasi alam ini menciptakan benteng geografis yang kokoh, sehingga menyulitkan invasi militer dari luar.
Dengan kombinasi ideologi, ketahanan ekonomi, strategi militer, jaringan geopolitik, dan dukungan geografis, Iran menunjukkan dirinya sebagai negara yang tidak mudah ditaklukkan—bahkan dalam tekanan global yang berkepanjangan.
—Referensi dari berbagai sumber—
Yus Dharman, SH., MM., M.Kn
























