FusilatNews – Bulan Ramadhan sering kali dimaknai sebagai momen introspeksi, peningkatan ibadah, dan menahan diri dari segala bentuk keburukan, termasuk dalam berkata-kata. Namun, pemahaman ini kerap disalahartikan, terutama ketika digunakan untuk meredam kritik terhadap kebijakan atau manuver politik yang mencurigakan. Seperti yang disampaikan oleh teman Ubaid dalam salah satu twitnya, bulan Ramadhan justru menjadi ladang subur bagi keputusan-keputusan yang nyeleneh, karena kritik terhadapnya bisa dengan mudah dibungkam dengan dalih ‘puasa kok ngomel’ atau ‘protes tidak qonaah’.
Pernyataan ini menarik untuk dibahas, karena memang banyak yang beranggapan bahwa ibadah terpenting di bulan Ramadhan adalah sekadar menahan lapar, haus, dan bahkan membatasi berbicara jika tidak membawa manfaat. Padahal, dalam Islam, puasa tidak berarti diam terhadap ketidakadilan atau kebijakan yang merugikan masyarakat. Sebaliknya, Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk meluruskan yang salah, termasuk kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat.
Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad sendiri pernah berperang di bulan Ramadhan, salah satunya dalam Perang Badar. Ini adalah bukti bahwa Ramadhan bukan bulan untuk berdiam diri dalam menghadapi ketidakadilan. Jika dalam konteks peperangan fisik pun tindakan tetap dilakukan, maka dalam konteks perjuangan intelektual dan moral, menulis dan berbicara untuk kebenaran juga merupakan ibadah.
Ramadhan seharusnya tidak dijadikan tameng bagi penguasa atau kelompok tertentu untuk menghindari kritik. Jika ada kebijakan yang mencurigakan, tetap harus dikritisi, tanpa perlu takut dicap sebagai orang yang ‘tidak menghormati’ bulan suci. Justru, dengan menyuarakan kebenaran, seseorang sedang menjalankan ibadah dalam bentuk lain—yakni jihad melawan kebatilan, meskipun bukan dengan pedang, melainkan dengan pena dan kata-kata.
Maka, bagi saya, Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk semakin giat menulis dan berbicara. Sebab menulis adalah ibadah saya, sebagaimana perang adalah bagian dari perjuangan Rasulullah dalam membela kebenaran. Tidak ada alasan untuk menutup mulut dalam menghadapi ketidakadilan, apalagi dengan dalih puasa. Yang harus dijaga bukanlah suara kebenaran, tetapi justru upaya membungkamnya dengan alasan yang tidak berdasar.





















