• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Nano Teater Koma Berpulang, Bharada E Tercengang

fusilat by fusilat
January 21, 2023
in Feature
0
Era Jokowi Logika Kebalik, Adhie Massardi: Jenderal Bunuh Prajurit, Berbulan-bulan Pelakunya Nggak Jelas

Adhie Massardi. Istimewa

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Adhie Massardi

BERITA wafatnya Nano Riantiarno, budayawan pendiri Teater Koma, menyelinap di tengah kemasygulan publik atas tuntutan JPU penjara 12 tahun bagi Bharada E (Richard Eliezer). Ada benang merah budaya antara Nano dan Bharada E.

Saya punya dua sahabat budayawan sangat produktif mengisi pentas teater nasional. Pertama, tentu saja, (I Gusti Ngurah) Putu Wijaya dengan Teater Mandiri, dan Norbertus Riantiarno atau biasa disapa Nano Riantiarno, yang bersama Teater Koma mengguncang panggung kebudayaan lewat opera-operanya seperti Opera Kecoak yang kocak tapi menohok.

Putu Wijaya dan Nano Riantiarno memang beda mazab. Karya-karya Putu, baik cerpen, novel, maupun teater banyak meneror mental, menggedor jiwa dan memutar-balik logika kita.

Sedangkan Nano lebih banyak mengajak kita menertawakan nasib, dengan cara membawa persoalan hidup yang pahit ke medan humor, dalam keriangan nyayian hidup. Karena itu bentuk paling cocok untuk ini adalah “opera” yang tidak terikat norma.

Itu sebabnya dibandingkan dengan Putu Wijaya (Teater Mandiri), pentas-pentas opera Teater Koma (Nano Riantiarno) bisa menembus batas publik, tak cuma penikmat kebudayaan yang puritan, tapi juga anak muda dari dunia pop, atau dalam isitilah sekarang, generasi milenial.

Tak heran jika pementasan Teater Koma bisa bertahan hingga 3 pekan, kadang masih diperpanjang beberapa hari, untuk nampung mereka yang ingin nonton tapi kehabisan waktu.

Era Kebuntuan Kebudayaan

Kejayaan pentas-pentas kebudayaan yang dibangun oleh WS Rendra (Bengkel Teater) mulai pertengahan tahun 1970-an mencapai puncaknya pada 1980-1990-an. Primadonanya memang Teater Koma yang didirikan Nano pada 1 Maret 1977.

Ketika itu, di seberang benteng otoritarianisme yang dibangun rezim Orde Baru, tumbuh masyarakat yang memelihara kejujuran dan kritisisme otentik yang dijaga kaum intelektual.

Beberapa nama monumental yang layak disebut antara lain KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Romo YB Mangunwijaya, Soetjipto Wirosardjono, Umar Kayam, WS Rendra, Prof Dr Mubyarto (UGM), dan Dr Sudjoko (ITB).

Mereka sering juga disebut budayawan karena memang sangat matang baik secara intelektual, spiritual maupun kultural. Habitat mereka kampus, di ormas keagamaan, dan kelompok kesenian. Tapi punya lahan yang sama dalam membangun masyarakat yang sadar budaya, menghormati kejujuran dan memiliki toleransi tinggi terhadap perbedaan (demokratis).

Itu sebabnya di masa itu kehidupan kesenian, baik yang bernuansa budaya (sastra, teater, film) maupun pop tumbuh subur. Sebab kesenian memang hanya bisa tumbuh dalam iklim kejujuran dan demokrasi.

Maka ketika kebohongan menjadi primadona, dan kejujuran bisa dipidana, kebudayaan dalam pengertiannya yang luas, akan menemui jalan buntu. Tidak bisa memantulkan ekspresi jiwa pada wajah masyarakat.

Dalam dua dasawarsa belakangan ini, tepatnya pasca reformasi (1998) dengan indikator diruntuhkannya pemerintahan KH Abdurrahman Wahid yang notabene produk asli reformasi, perkembangan kebudayaan mengalami setback secara meyakinkan.

Basis kebudayaan, yakni kejujuran, dikubur hidup-hidup oleh pragmatisme politik yang dikendalikan nafsu kekuasaan yang serakah. Keadaan kian menjadi-jadi dalam sepuluh tahun terakhir ini.

Kreativitas yang Terpenggal

Kini kita tak bisa lagi menemukan budayawan – intelektual yang matang secara spititual dan kultural – seperti generasi Rendra dan Gus Dur. Meminjam istilah Mahfud MD, “malaikat pun bisa berubah mejadi iblis” ketika masuk dalam sistem politik seperti sekarang ini.

Itu sebab pada mulanya saya terkejut ketika jumpa Nano Riantiarno beberapa tahun lalu di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dia ngeluh tak bisa berbuat apa-apa lagi. “Gue gak tahu mau bikin apa sekarang,” katanya gusar.

Saya terkejut karena orang paling produktif sekelas Nano bisa frustrasi. Tapi jangan salah, frustrasi Nano bukan frustrasi kehabisan gagasan. Dalam situasi (kebohongan menjadi primadona) seperti sekarang ini, “Apa pun yang kita bikin tidak ada manfaatnya,” katanya menjelaskan. Kesenian (kebudayaan) adalah produk kejujuran seniman.

Kebohongan, keonaran politik, permisifisme dan nafsu keserakahan yang liar secara bersama-sama memenggal kreativitas kebudayaan. Kegusaran Nano yang ngaku “tak bisa berbuat apa-apa” sekarang dijelaskan dengan sangat gamblang oleh Bharada E.

Bharada E alias Richard Eliezer dalam kasus pembunuhan Brigadir Joshua mengambil jalan berbeda dengan teman-temannya. Ia berani melawan arus besar kebohongan yang disutradarai majikannya, Jenderal Polisi bintang dua Irjen Ferdy Sambo.

Bharade E yang tidak matang secara intelektual, spiritual dan kultural berkeras memanggungkan kebenaran dan kejujuran di pentas pengadilan. Hasilnya, tidak ada apresisai memadai untuk semua perjuangannya. Dia tercengang!

Otoritas negara yang diwakili Jaksa Penuntut Umum tidak melihat kejujuran sebagai faktor kehidupan berbangsa dan bernegara yang penting. Maka dalam pandangan JPU Bharada E perlu dapat pencerahan tentang kejujuran di negeri ini.

Tidak seperti Bharada E, Nano dengan Teater Koma-nya paham iklim yang sedang berkembang di negeri ini sekarang. Maka daripada buang-buang energi angkat kejujuran ke pentas kehidupan, lebih memilih melakukan kontemplasi.

Selamat menyaksikan pentas kejujuran di akherat, Nano Riantiarno. Pentas kejujuran paling otentik di halaman Rumah Bapa. 

Adhie Massardi adalah Budayawan

Dikutip Rmool.id Jumat, 20 Januari 2023

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Komitmen Mengawal Pemilu 2024

Next Post

Diplomasi Energi Rusia di Tengah Embargo Uni Eropa

fusilat

fusilat

Related Posts

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi
Birokrasi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Feature

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026
Next Post
Rusia Mulai Melemah – Tawarkan Negosiasi

Diplomasi Energi Rusia di Tengah Embargo Uni Eropa

Cara Mudah Mengurus Sertifikasi Halal Gratis

Cara Mudah Mengurus Sertifikasi Halal Gratis

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

by Karyudi Sutajah Putra
April 23, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Untuk ke-9 kalinya, Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT). Ada 10 kota yang masuk dalam kategori...

Read more
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist