Jakarta, FusilatNews – Jenderal Purnawirawan Napoleon Bonaparte mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi demokrasi dan reformasi di Indonesia yang dinilainya semakin terancam di bawah pemerintahan Presiden Jokowi dan kebijakan lanjutan dari Presiden Prabowo Subianto.
Dalam bincang bersama Prodcas Dr. H. Taufik Bahaudin dari UI Watch di Rumah Santoso, Jaga Karsa, Jakarta, Jenderal Purn Napoleon menyoroti ketakutan mahasiswa dalam melakukan demonstrasi. Menurutnya, mahasiswa saat ini lebih takut kepada rektor dibandingkan kepada partai politik atau kepolisian. Hal ini dikarenakan para pimpinan partai politik, komandan, hingga rektor dikendalikan oleh Presiden Jokowi melalui operasi kontra-intelijen.
“Kita lihat sekarang, mahasiswa tidak takut pada aparat kepolisian atau partai politik, tetapi mereka takut dipecat oleh rektor jika terlalu vokal dalam demonstrasi,” ungkapnya.
Kritik terhadap Pemerintahan Jokowi dan Prabowo
Jenderal Purn Napoleon juga menyoroti kebijakan ekonomi dan politik yang menurutnya telah menggagalkan visi Indonesia Emas 2045. Ia menilai 10 tahun pemerintahan Jokowi telah meninggalkan banyak utang luar negeri, memperkuat praktik nepotisme, dan korupsi di berbagai sektor.
“Banyak pekerjaan rumah bagi pribumi untuk membersihkan piring kotor yang ditinggalkan para pejabat koruptor. APBN dihabiskan secara serampangan, terutama di akhir tahun, hanya untuk menghabiskan saldo,” katanya.
Ia juga mengkritik teriakan “Hidup Jokowi” dari Presiden Prabowo, yang menurutnya menjadi pemicu gelombang demonstrasi mahasiswa di berbagai wilayah. Hal ini disebabkan kebijakan Prabowo yang tetap melanjutkan kebijakan Jokowi, termasuk kerja sama erat dengan China yang oleh sebagian kelompok dianggap sebagai bentuk penyerahan kedaulatan negara.
Tantangan Demonstrasi Mahasiswa dan Intelijen
Lebih lanjut, Jenderal Purn Napoleon menilai bahwa tantangan bagi gerakan mahasiswa dalam menyuarakan perubahan semakin berat. Menurutnya, menghadapi Prabowo dalam demonstrasi bukan perkara mudah.
“Hanya didatangi intel atau HP diretas saja, jihad menyelamatkan NKRI bisa gagal. Apalagi, banyak demonstrasi emak-emak hanya sebatas ingin viral dan selfie, sementara rakyat yang benar-benar terjajah dan lapar malah rentan tersogok bansos,” ujarnya.
Kekhawatiran atas Polri dan KPK
Jenderal Purn Napoleon juga menyoroti eksploitasi aparat penegak hukum di bawah kepemimpinan Jokowi, terutama dalam mempertahankan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang sudah melewati batas usia pensiun.
“Ini harus menjadi kewaspadaan bagi umat Pancasila dan TNI agar tidak menjadi korban lagi,” tegasnya.
Dalam diskusi ini turut hadir beberapa tokoh, di antaranya Roy Suryo, Buyung, Sayuti Asyatiri, dan Elia Mahdi.




















