Jakarta, Fusilatnews.com – Partai NasDem resmi mengumumkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai calon presidennya yang akan diusung di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. “Belanda masih jauh, bro! Justru Anies akan menjadi sasaran tembak yang empuk bagi lawan-lawan politiknya,” kata analis politik dari Konsultan dan Survei Indonesia (KSI) Karyudi Sutajah Putra di Jakarta, Senin (3/10/2022).
Kelemahan-kelemahan Anies semasa menjabat Gubernur DKI Jakarta bahkan sebelumnya semasa menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, kata KSP panggilan akrabnya, akan dieksplor oleh lawan-lawan politiknya. Misalnya, kata KSP, stigma politik identitas yang terlanjur melekat pada diri Anies sejak Pilkada DKI Jakarta 2017.
Lalu stigma “ahli tata kata”, bukan “ahli tata kota”. “Pun, soal kelebihan anggaran tunjangan profesi guru hingga Rp23,5 triliun semasa Anies menjabat Mendikbud dan anggaran itu akhirnya dicoret Menteri Keuangan Sri Mulyani,” jelas KSP yang juga Tenaga Ahli Anggota DPR RI periode 2004-2009 dan 2009-2014.
“Yang tak kalah fatal adalah keterkaitan Anies dengan dugaan korupsi Formula E yang kini sedang diselidiki KPK, bahkan Anies pernah dua kali diperiksa KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi),” lanjut KSP.
Jadi, kata KSP, diperlukan stamina dan tenaga ekstra dari NasDem dan Anies sampai Pilpres 2024 supaya mantan Rektor Universitas Paramadina itu tidak terganjal di tengah jalan, atau bahkan jatuh tersungkur seperti burung yang tertembak di udara. “Lawan-lawan politik Anies pasti diam-diam akan mendorong KPK supaya mentersangkakan dia. Ibarat lomba lari, ini lari maraton, bukan sprint, harus kuat naas dan stamina,” tukas KSP.
Langkah NasDem mencapreskan Anies juga dinilai KSP akan menjauhkan partai politik pimpinan Surya Paloh itu dari calon-calon mitra koalisinya, seperti Partai Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang sudah memiliki capres masing-masing. Capres Gerindra adalah ketua umumnya, Prabowo Subianto, dan capres PKB juga ketua umumnya, Muhaimin Iskandar.
“Paling-paling yang mau berkoalisi dengan NasDem ya PKS (Partai Keadilan Sejahtera) dan PPP (Partai Persatuan Pembangunan) yang tidak memiliki sosok kuat untuk capres. Dengan Partai Demokrat pun akan susah, karena Demokrat mengajukan ketua umumnya, Agus Harimurti Yudhoyono sebagai cawapres,” cetus KSP.
Langkah NasDem mencapreskan Anies, lanjut KSP, justru akan memperkuat soliditas koalisi antara Gerindra dan PKB, apalagi sejak awal Prabowo dan Surya Paloh memang sudah tidak ada “chemistry” atau kesenyawaan di dalam politik, sejak keduanya sama-sama hengkang dari Partai Golkar dan mendirikan parpol masing-masing.
Keluar dari Koalisi Pemerintah
Hanya saja, diakui KSP, Anies sementara ini memang masih menjadi kandidat capres terkuat di luar koalisi parpol pendukung pemerintah. Sebab itu, katanya, langkah NasDem mencapreskan Anies sudah tepat. “Hanya ‘timing’-nya saja yang kurang tepat. Mestinya nanti-nanti saja kalau Pilpres 2024 sudah dekat. Anies bisa menjadi ‘the right man on the wrong time’,” urainya.
Apalagi, kata KSP, saat ini NasDem masih berada di barisan koalisi parpol pendukung pemerintah. “Kalau Surya Paloh mau kstaria, mestinya NasDem keluar dari koalisi pemerintah. Kalau main dua kaki, itu munafik namanya. Secara fatsoen politik tidak etis, terutama di hadapan Presiden Jokowi,” terangnya.
Peluang Anies terpilih pada Pilpres 2024, masih kata KSP, bertambah besar ketika dikaitkan dengan siklus 10 tahunan kepemimpinan di Indonesia, di mana saat ini yang ada di panggung kekuasaan ‘leader’-nya adalah parpol yang selama 10 tahun menjadi “oposisi” saat Susilo Bambang Yudhoyono menjabat Presiden RI (2004-2009 dan 2009-2014), yakni PDI Perjuangan. “Setelah era Jokowi, yang akan manggung di kekuasaan adalah pihak oposan,” tuturnya.
Dari sisi karakter, kata KSP, publik juga akan mencari capres berikutnya yang merupakan antitesis dari karakter Jokowi yang spontan dan ceplas-ceplos, yakni sosok seperti SBY yang kalem dan semuanya serba direncanakan, dan itu ada pada diri Anies Baswedan. “Jokowi adalah antitesis dari SBY. Lalu siapa antitesis dari Jokowi? Salah satunya adalah Anies,” ucapnya.
Lalu, siapa kira-kira cawapres yang akan dipasangkan dengan Anies? KSP memprediksi, Sandiaga Uno yang saat ini menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan menjadi pilihan utama Anies dan parpol-parpol pengusungnya, seperti pada Pilkada DKI Jakarta 2017. “Selain karena elektabilitasnya sebagai cawapres lumayan tinggi, Sandi juga punya modal finansial. Saat Pilkada DKI menjadi wakil Anies, dan saat Pilpres 2019 menjadi cawapres Prabowo, Sandi-lah yang dominan menggelontorkan dana,” paparnya.
Di sisi lain, Sandi yang sudah menyatakan kesediaannya untuk maju pada Pilpres 2024, kata KSP, juga hampir dapat dipastikan disingkirkan Gerindra yang sudah mengusung Prabowo sebagai capres, sehingga Sandi pun akan bersedia jika digandeng sebagai cawapresnya Anies. “Kalau Prabowo menggandeng Sandi sebagai cawapres, tidak mungkin, karena sama-sama dari Gerindra, tidak akan menambah suara. Apalagi sudah terbukti pada Pilpres 2019 keduanya kalah. Jika 2024 keduanya akan maju bersama, bisa de javu,” sindirnya.
Sebab itu, kata KSP, Sandi pun patut mempertimbangkan diri untuk mundur dari Kabinet Indonesia Maju pimpinan Presiden Joko Widodo. “Kalau mundur, elektabilitas Sandi justru akan naik,” tandas KSP.
Beberapa saat lalu, NasDem memutuskan untuk mengusung Anies Baswedan maju jadi capres untuk Pemilu 2024. Pengumuman itu disampaikan langsung oleh Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh di NasDem Tower, Jakarta Pusat, Senin (3/10/2022), seperti dilansir detik.com. Acara dimulai dengan pembacaan doa dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya serta himne Partai NasDem.
Paloh mengatakan NasDem resmi akan mengusung Anies Baswedan sebagai calon presiden di Pemilu 2024. Gubernur DKI Jakarta itu pun hadir dalam deklarasi capres NasDem.
Surya Paloh meyakini anak-anak bangsa saat ini baik. NasDem, katanya, memilih yang terbaik oleh karena itu dia memutuskan sosok Anies Baswedan yang dipilih. “Inilah kenapa akhirnya NasDem melihat seorang sosok Anies Rasyid Baswedan. Kami mempunyai keyakinan pikiran-pikiran dalam perspektif baik secara makro maupun mikro sejalan,” kata Paloh saat konferensi pers di NasDem Tower.
Anies Siap Diberi Tugas Apa pun
Sementara itu, Anies Baswedan juga sudah berbicara terkait nasib selanjutnya setelah selesai menjabat Gubernur DKI Jakarta pada 16 Oktober mendatang. Anies mengaku siap untuk tugas baru berikutnya.
Hal itu disampaikan Anies Baswedan saat menghadiri acara perpisahannya (farewell) menjelang selesainya periode kepemimpinannya sebagai gubernur di Ballroom Djakarta Theater XXI, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (2/10/2022). Meskipun ini acara perpisahan, Anies memastikan dirinya tak akan pergi ke mana pun.
“Sore hari ini saya merasa terhormat karena ada sebuah farewell event. Walaupun sebenarnya saya akan tetap di Jakarta. Saya nggak akan ke mana-mana. Tugasnya memang selesai di Pemprov DKI Jakarta, tapi kita akan selalu bersiap untuk tugas-tugasnya,” kata dia.
Anies Baswedan tidak menjelaskan tugas apa yang sedang dipersiapkannya nanti. Dia menyebut amanat apapun yang diberikan, akan dijalankannya dengan sungguh-sungguh. “Iya, apa pun itu. Jadi kalau ada tugas bina Karang Taruna pun siap,” jawabnya. (F-1)
Berita Update Lainnya Ikuti Kami Di Google News


























