Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)

Jakarta – Seberapa kuat Hasto Kristiyanto? Mengapa Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan itu harus ditumbangkan? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang mencuat ke ke publik belakangan ini.
Bagi Hasto sendiri, serangkaian kabar buruk tentang dirinya ia maknai sebagai serangan agar dirinya tumbang dari kursi panas Sekjen PDIP. Bahkan PDIP secara keseluruhan.
Kabar buruk itu adalah, pertama, dugaan kriminalisasi terkait buron Harun Masiku. Konon saat bekas calon anggota legislatif PDIP itu hendak ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Hasto juga hendak ditangkap. Tapi ada “invisible hands” (tangan-tangan tak kelihatan) yang melindungi Harun dan juga Hasto. Harun dan Hasto pun lolos. KPK kemudian beberapa kali memeriksa Hasto.
Ada dua kasus besar yang “memaksa” KPK memeriksa Hasto. Pertama, kasus suap Harun Masiku kepada Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) saat itu Wahyu Setiawan agar diloloskan sebagai Pengganti Antar Waktu (PAW) Nazaruddin Kiemas, caleg DPR RI Pemilu 2019 dari daerah pemilihan Sumatera Selatan I yang meninggal dunia.
Kedua, kasus suap di Direktorat Jenderal Kereta Api (DJKA) Kementerian Perhubungan. Namun, dibombardir melalui kedua kasus itu, Hasto tak kunjung tumbang. Ada tangan-tangan kuat yang melindunginya.
Semua itu disangkal Hasto. Ia mengklaim tak terlibat dalam kedua kasus itu. Hasto merasa dikriminalisasi oleh pihak-pihak tertentu melalui KPK. Ia merasa diserang untuk ditumbangkan.
Serangan teranyar terhadap Hasto dilancarkan lawan politiknya menggunakan peluru dugaan perselingkuhan. Berdasarkan foto-foto yang beredar di media sosial, politikus asal Yogyakarta itu diisukan berselingkuh dengan seorang perempuan cantik bernama Yola, yang diduga sebagai istri dari kawan dekatnya.
Akankah isu moral ini sanggup menumbangkan Hasto?
Kita tidak tahu pasti. Sebagaimana kita juga tidak tahu pasti apakah isu korupsi itu akan menumbangkan Hasto atau tidak. Pasalnya, kedua kasus korupsi itu sedang berproses di KPK.
Apalagi Harun Masiku belum tertangkap. Bahkan ketika Maruarar Sirait, bekas politikus PDIP yang kemudian loncat ke Partai Gerindra dan diangkat menjadi Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman oleh Presiden Prabowo Subianto, menyayembarakan penangkapan Harun Masiku berhadiah Rp8 miliar, buron itu tak kunjung tertangkap. Jika Harun sudah tertangkap, mungkin cerita Hasto akan lain.
Kasus suap di DJKA pun masih berproses di KPK. Belum semua tersangka divonis pengadilan. Artinya, segala kemungkinan masih bisa terjadi, termasuk menyangkut nasib Hasto.
Mengapa Hasto harus ditumbangkan? Ada dua faktor: internal dan eksternal.
Faktor internal antara lain, selama bercokol di kursi empuk sekjen, Hasto disinyalir kalangan internal bermain politik adu domba, dan juga politik belah bambu: menginjak satu pihak untuk mengangkat pihak lain. Ara, dan juga Budiman Sudjatmiko yang loncat ke Gerindra dan diangkat Prabowo sebagai Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan disinyalir sebagai korbannya.
Parahnya, hal itu disinyalir kerap dilakukan Hasto dengan mengatasnamakan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
Hasto juga disinyalir membentuk geng tersendiri di DPP PDIP yang bersifat eksklusif.
Dan ini yang paling fatal: Hasto gagal mengantarkan PDIP jawara di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 pada 14 Februari lalu, dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 pada 27 November lalu.
Adapun faktor eksternal antara lain Hasto kelewat batas dalam melakukan serangan politik ke lawan-lawannya. Terutama ke Joko Widodo. Akibatnya, berkembang isu Presiden ke-7 RI itu pun hendak mendongkel Hasto dari kursi Sekjen PDIP. Benarkah? Hanya Jokowi yang tahu.
Mengapa Hasto harus ditumbangkan sekarang? Bukankah Kongres PDIP tinggal tunggu tahun 2025?
Itulah. Lawan-lawan politik Hasto baik di internal maupun eksternal tak sabar lagi. Mereka khawatir Hasto akan tetap bercokol dan terpilih lagi, karena disinyalir pandai menjilat Megawati, sedangkan putri sulung Proklamator RI dan Presiden I RI Soekarno itu nyaris dapat dipastikan akan terpilih kembali pada kongres tahun depan yang tinggal menghitung hari.
Padahal, Hasto sudah menjabat sekjen sejak 2014 hingga kini atau sudah dua periode. Tapi karena ia dekat dengan Megawati, maka dikhawatirkan akan terpilih kembali pada Kongres 2025.
Kini, bola ada di tangan KPK untuk kasus hukumnya. Apakah Hasto akan tumbang atau tidak, semua tergantung KPK. Tapi prosesnya masih cukup panjang. Mungkin sampai Kongres PDIP 2025 selesai, proses di KPK justru belum selesai.
Sedangkan secara moral dan politik, bola ada di tangan lawan-lawan politik Hasto, baik internal maupun eksternal, sejauh mana bisa membuktikan isu perselingkuhan bekas anggota DPR RI itu.
Namun, lebih dari itu, bola juga ada di tangan Megawati. Nasib Hasto pun ada d tangan istri mendiang Taufiq Kiemas itu.
Sebagai seorang perempuan, Presiden ke-5 RI itu mestinya sensitif dengan isu perselingkuhan. Sebab itu, musuh-musuh Hasto di internal partainya berharap Megawati segera bertindak.
Jika tidak mencopot Hasto sekarang, minimal Megawati diharapkan tidak memilih Hasto lagi di Kongres 2025.
Apa pun kata Megawati, pemilik suara kongres akan mematuhinya. Sebab, titah Megawati ibarat “idu geni” (ludah api) yang pasti akan dipatuhi oleh semua kadernya. Megawati adalah ibu dari kader-kader Banteng.
























