Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Ketika negerinya diguncang prahara korupsi nyaris seribu triliun, tapi dia tenang-tenang saja sambil melanjutkan retreat dan bernyanyi bersama dua pendahulunya, itu badut namanya.
Korupsi hingga nyaris seribu triliun rupiah itu terjadi di PT Pertamina Patra Niaga, anak perusahaan Pertamina, dengan modus mengoplos Pertalite dengan Pertamax dan dijual dengan harga Pertamax.
Ketika mewarisi utang luar negeri hingga ribuan triliun rupiah dan proyek ibu kota baru yang terancam mangkrak, tapi dia malah memuja dan memuji orang yang meninggalkan warisan buruk tersebut, itu badut namanya.
Diketahui, posisi utang luar negeri Indonesia pada akhir November 2024 tercatat mengalami kenaikan menjadi US$424,1 miliar, dari posisi Oktober 2024 senilai US$423,4.
Dengan asumsi kurs per 15 Januari 2025 yakni Rp16.311 per dolar AS, artinya utang luar negeri Indonesia setara dengan Rp6.917 triliun. Utang tersebut hampir dua kali lipat dari anggaran belanja 2025 yang senilai 3.621,3 triliun.
Utang itu merupakan warisan pemerintahan Presiden Joko Widodo yang berlanjut ke pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Adapun penyebab mangkraknya proyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur karena pemerintah melakukan pemangkasan anggaran tahun 2025 ini hingga lebih dari 300 triliun rupiah. Anggaran untuk IKN pun dibekukan. Entah sampai kapan.
Ketika Rupiah mengalami peterpurukan terburuk dalam sejarah, melemah 0,79 persen ke level Rp16.575 per Dolar AS pada Jumat (28/2/2025), tapi ia tetap tenang dan nyanyi-nyanyi saja, itu badut namanya.
Badut memang harus pandai menghibur, meskipun perasaannya sendiri sebenarnya sedang hancur. Dan badut itu bernama Prabowo Subianto.
Dalam Retreat Kepala Daerah 2025 di Lembah Tidar, Magelang, Jawa Tengah, yang berakhir Jumat (28/2/2025) lalu, Prabowo terlihat bernyanyi-nyanyi bersama dua mantan pendahulunya, Susilo Bambang Yudhoyono dan Jokowi.
Sekali lagi, badut memang harus pandai menghibur meskipun perasaannya sendiri sesungguhnya sedang hancur.
Bukan Kekuasaan yang Merusak Watak
Ketika sudah menjadi mantan, tapi tetap cawe-cawe terhadap segala urusan, itu badut namanya.
Dan badut itu bernama Jokowi. Ia tak rela meninggalkan dan menanggalkan jabatannya. Ia mau terus berkuasa. Dinasti politik pun ia bangun. Putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka menjadi Wakil Presiden RI. Menantunya, Bobby Nasution menjadi Gubernur Sumatera Utara. Putra bungsunya, Kaesang Pangarep menjadi Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Semua itu atas cawe-cawe Jokowi.
Jokowi mengalami apa yang disebut sebagai “post power syndrome”, sehingga konsekuensinya adalah ia melakukan cawe-cawe atas segala urusan yang sesungguhnya sudah bukan urusannya.
Jokowi takut kehilangan kekuasaan, sehingga karakter atau wataknya pun rusak.
Aung San Suu Kyi, mantan Pemimpin Myanmar, saat menerima hadiah Nobel Perdamaian tahun 1991 menyatakan, “Bukan kekuasaan yang merusak watak (manusia), melainkan ketakutan. Takut kehilangan kekuasaan merusak mereka yang berkuasa, takut dilanda kekuasaan merusak mereka yang dikuasai.”
Ketika harga cabai melambung tinggi hingga lebih dari seratus ribu per kilo, dan ia hanya bisa memberikan solusi menanam cabai di depan rumah, itu badut namanya.
Dan badut itu bernama Zulkifli Hasan, Menteri Perdagangan yang juga Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN).
Ketika disertasi dokotoralnya dibatalkan kampus Universitas Indonesia (UI), tapi ia tenang-tenang saja, tak merasa bersalah dan tak ada beban moral, apalagi mengundurkan diri, itu badut namanya.
Dan badut itu bernama Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral yang juga Ketua Umum Partai Golkar.
Ketika Mahkamah Konstitusi (MK) menganulir kemenangan istrinya, Ratu Rachmatu Zakiyah, dalam Pilkada 2024 Kabupaten Serang, Banten, gegara ada cawe-cawe dirinya, tapi ia tak merasa bersalah, apalagi mundur, itu badut namanya.
Dan badut itu bernama Yandri Susanto, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal yang juga Wakil Ketua Umum PAN.
Kini, banyak badut di antara para pemimpin bangsa ini. Indonesia pun layak disebut negeri para badut. Mereka adalah para politisi. Dan politisi sering kali jauh lebih lucu daripada badut. Badut di atas badut. Atau bandit di atas bandit?




















