Oleh : Dr. Novita Sari Yahya
Di sebuah negara yang berdaulat, harapan terbesar adalah melihat masyarakatnya tumbuh dengan kecerdasan dan wawasan yang luas. Namun, di Indonesia saat ini, profesi yang seharusnya menjadi tulang punggung peradaban—guru, peneliti, dan penulis—justru terpinggirkan oleh geliat selebritas instan, influencer dangkal, dan model oplosan yang tak memiliki karakter selain kemampuan memamerkan tubuh. Fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan gejala mendalam dari degradasi intelektual yang menghambat kemajuan bangsa.
Seorang peneliti sejatinya bertugas menangkap fenomena sosial dan memahami mengapa seseorang memiliki pilihan atau justru tidak punya pilihan. Dari pemahaman inilah lahir solusi konkret untuk memutus rantai kebodohan dan keterbelakangan. Namun, bagaimana mungkin bangsa ini bisa berkembang jika profesi yang menghasilkan solusi justru terpinggirkan? Di negeri ini, kajian ilmiah sering kali hanya menjadi dokumen yang berdebu di sudut-sudut perpustakaan, sementara panggung nasional dipenuhi oleh figur-figur tanpa substansi yang sekadar menampilkan sensasi.
Para guru, yang seharusnya membentuk generasi cerdas, justru diperlakukan bak pesuruh dengan gaji tak sebanding dan kebijakan yang sering kali tak berpihak pada mereka. Sementara itu, peneliti harus berjuang dengan dana riset yang minim, tenggelam dalam birokrasi yang lebih mengutamakan pencitraan ketimbang substansi. Adapun penulis, mereka yang seharusnya mengisi ruang publik dengan gagasan bernas, kini kalah saing dengan influencer yang menjual absurditas demi engagement.
Ironisnya, di era digital ini, media sosial telah mengubah standar keberhasilan. Seseorang tidak lagi dinilai dari kedalaman pemikirannya, melainkan dari jumlah pengikut dan tingkat viralitasnya. Akibatnya, muncullah sosok-sosok yang tidak memiliki keunggulan selain keberanian untuk tampil seronok atau berkata kontroversial. Bahkan, model oplosan—mereka yang hanya bermodal tampang biasa dan kemampuan berlenggak-lenggok—bisa lebih dihargai dibandingkan ilmuwan yang telah mengabdikan hidupnya untuk riset dan inovasi.
Indonesia membutuhkan perubahan paradigma. Jika negara ini ingin keluar dari jebakan kebodohan, maka penghargaan terhadap profesi intelektual harus dikembalikan. Sistem pendidikan harus diperkuat, riset harus dibiayai dengan layak, dan budaya literasi harus dikembangkan. Jika tidak, kita hanya akan terus menjadi bangsa yang sibuk mengagumi fatamorgana sementara pijakan kita semakin rapuh.
Saatnya mengembalikan kejayaan ilmu pengetahuan. Saatnya memberi ruang bagi mereka yang bekerja dengan pemikiran, bukan sekadar mereka yang menjual tubuh dan sensasi. Jika tidak, kita akan terus menjadi penonton dalam panggung kosong yang hanya menampilkan kebodohan yang terus direproduksi.




















