Oleh: Entang Sastraatmadja
Di tataran budaya Sunda, ada kata yang menggema bukan hanya di telinga, tapi juga di dada: “ngabirigidig.” Kata ini tak sekadar bunyi, tapi sebuah rasa—seperti gemuruh yang mengguncang langit, atau getaran yang merayap diam-diam ke balik tulang belikat.
“Ngabirigidig” dalam pengertian harfiahnya memang identik dengan suara keras: dentuman, halilintar, atau gebukan dram orkes dangdut kampung yang terlampau semangat di tengah hajatan nikahan. Tapi lebih dalam dari sekadar suara, kata ini memuat makna emosional yang berlapis-lapis. Ia bisa jadi ekspresi takut, panik, ngeri, atau bahkan jijik yang menyelinap tiba-tiba tanpa aba-aba.
Secara psikologis, ngabirigidig bisa dipicu banyak hal. Trauma masa lalu, ketakutan pada hal-hal tertentu seperti binatang buas atau ruang sempit, hingga tekanan sosial yang menghimpit. Bahkan suasana yang mencekam atau kehadiran sosok yang pernah menyakiti, bisa membuat tubuh dan jiwa bereaksi dalam bentuk ngabirigidig—gemetar tanpa kendali.
Tapi, ngabirigidig bukan milik pribadi-pribadi biasa saja. Bahkan politisi pun bisa menyulutnya, meski tanpa niat. Ambil contoh seorang pejabat publik yang tertangkap basah berselingkuh. Video mesranya viral di media sosial. Rakyat pun penasaran—apakah selingkuhannya itu secantik bintang sinetron? Seksi bak selebgram TikTok?
Lalu ketika perempuan itu muncul di hadapan publik, sebagian besar warga net malah terkejut bukan main. Rata-rata malah ngabirigidig. Bukan karena cantiknya, tapi karena penampilannya—sudah berumur, tubuh ringkih, bahkan sorot matanya membuat yang menatap ingin segera membalik badan. “Ranjang face,” celetuk seorang sahabat saya, sambil memeluk diri sendiri seperti kedinginan. Lucu, sekaligus ironis.
Dalam khazanah nilai-nilai Sunda, ngabirigidig selalu dikaitkan dengan situasi tidak menyenangkan. Tidak ada orang ngabirigidig karena diajak makan duren bareng Kang Dedi Mulyadi di Lembur Pakuan. Tapi banyak yang bisa ngabirigidig jika disuruh sowan ke rumah seorang preman pasar yang pernah merampas jaket Levis mereka tempo dulu.
Bahkan seorang perempuan bisa saja ngabirigidig ketika di tengah keramaian, ia tanpa sengaja bertemu dengan lelaki yang dulu pernah menggerayangi tubuhnya secara paksa. Bukan hanya tubuh yang bergidik, tapi ingatan pun berontak. Rasa ingin memukul dan meneriaki bercampur dengan rasa lemah dan malu yang tidak tahu hendak dilarikan ke mana.
Namun demikian, seperti halnya rasa takut atau cemas lainnya, ngabirigidig pun bisa diurai. Teknik relaksasi, mulai dari meditasi, pernapasan dalam, hingga yoga, terbukti membantu. Mengolah pikiran negatif menjadi positif juga bagian dari upaya penyembuhan. Dan yang tak kalah penting, adalah keberanian untuk menghadapi sumber ketakutan itu secara bertahap.
Perlu juga lingkungan yang suportif: teman, keluarga, atau bahkan bantuan profesional seperti psikolog atau konselor. Sebab pada akhirnya, ngabirigidig bukanlah aib, tapi reaksi alamiah. Dan setiap reaksi bisa dikelola. Dengan keberanian, kehangatan, dan sedikit bantuan dari luar, dentuman itu tak harus jadi badai yang menghancurkan. Ia bisa berubah menjadi bisik pelan: “Kamu tidak sendiri.”
(Penulis adalah Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)





















