“When the debate is lost, insult become the loser’s tools”, Socrates
Anekdot senior-senior, para dosen komunikasi saya, mengatakan, masih terngiang-ngiang ditelinga, dalam suatu arena debat – “daripada tidak bisa menjawab, lebih baik ngomong ngaco sekalipun”. Semiotika itu muncul dalam ingatan saya, ketika membaca apa yang dikatakan Socrates ; “Ketika berdebat kalah – maka menghina lawan adalah menjadi senjata untuk menyerang”. (“When the debate is lost, insult become the loser’s tools”, Socrates)
Fenomena “orang yang kalah berdebat menghina menjadi alat menyerang lawan” dapat dijelaskan sebagai suatu bentuk reaksi atau strategi yang diambil oleh seseorang setelah mengalami kekalahan dalam sebuah debat atau diskusi.
Kita bisa menilai apa yang baru-baru ini dilakukan oleh Prabowo Subianto. Gesture, nada suara dan argumen yang dibangun, saat berdebat dan pasca berdebat, hingga keluar diksi Ndasmu itu, adalah cermin orang yang kalah dalam berdebat.
Kondisi ini bisa mencerminkan berbagai aspek, seperti emosi, ego, atau ketidak-mampuan untuk menerima kekalahan secara elegan. Suatu bukti cukup mengalahkan orang pintar. Jutaan bukti jadi tidak berguna bagi orang bebal..
Berikut beberapa penjelasan terkait fenomena tersebut:
Orang yang merasa terdesak atau kalah dalam suatu debat sering kali merasakan ancaman terhadap ego mereka. Sebagai respons, mereka mungkin menggunakan taktik menghina untuk mencoba menggagalkan lawan dan menjaga citra diri mereka sendiri.
Beberapa orang sulit dapat menerima kenyataan bahwa mereka mungkin salah atau bahwa argumen mereka tidak begitu kuat. Kekalahan dalam debat bisa menjadi pukulan bagi kepercayaan diri mereka, dan sebagai cara untuk “membalas dendam,” mereka mungkin menggunakan hinaan sebagai bentuk ritaliasi.
Menghina lawan setelah kekalahan juga dapat menjadi upaya untuk memutar opini publik. Meskipun mungkin tidak membuktikan kebenaran argumen mereka. Beberapa orang berharap bahwa dengan menghina lawan, mereka dapat mengubah persepsi orang terhadap keberhasilan atau kegagalan dalam suatu debat.
Orang yang menggunakan hinaan setelah kekalahan kurang mempedulikan norma-norma etika komunikasi yang seharusnya diterapkan dalam sebuah diskusi atau debat. Mereka mungkin lebih fokus pada tujuan mereka untuk “menang” daripada membangun argumen yang kuat dan saling menghormati.
Hinaan juga dapat digunakan sebagai cara untuk mengalihkan perhatian dari ketidak-mampuan seseorang untuk menyampaikan argumen yang kuat. Dengan membuat lawan merasa diserang secara pribadi, orang tersebut berharap dapat mengalihkan fokus dari kelemahan argumen mereka sendiri.
Penting untuk diingat bahwa menghina lawan setelah kekalahan bukanlah tanda dari argumen yang lebih kuat atau kebenaran. Sebaliknya, ini seringkali mencerminkan ketidakmampuan seseorang untuk mengelola kekalahan dengan elegan dan menjaga integritas dalam berdiskusi. Mempertahankan etika komunikasi yang baik dan sikap terbuka terhadap pandangan orang lain merupakan elemen penting dari diskusi yang konstruktif.























