Panda Nababan, seorang Journalist senior dan sekaligus kader PDIP, seringkali mengulas ihkwal Jokowi. Ia mengungkap yang tidak banyak diketahui publik. Pengalaman pribadinya itu, dirinci dalam berbagai podcast, sekaligus menjelaskan sekilas pula, apa yang ia tulis dalam bukunya. Tetapi pendapat Nababan, nampaknya antitesa dari ungkapan Rizal Ramli. “Jokowi ngaca! ujarnya. Mengapa orang tak berani menangkap Suharto? Mengapa tidak berani memenjarakan Gusdur?”, lanjut Rizal. Lalu Ia jawab sendiri, “Jokowi tidak punya kekuatan, seperti pendahulu-pendahulunya”. Itulah yang ingin kita urai disini.
Megawati memberi predikat Jokowi sebagai Petugas Partai. Mengapa Ia tidak katakan sebagai Kader Partai? Kita kemudian menjadi paham, bahwa petugas Partai bisa siapa saja. Tetapi Kader Partai, adalah mereka yang DNA-nya “right or wrong is my own Party”. Jalan hidup dan ideologinya marhaenisme. KUHP-nya AD/ART Partai. Dari sini, kita mencatat, Jokowi seringkali diingatkan oleh para kader PDIP, karena banyak melabrak garis partai; terutama soal pencalonan presiden itu!. Bahkan pemanggilan “Ganjar Pranowo” oleh pimpinan PDIP, adalah kata lain dari teguran dan menunjuk hidung si Petugas Partai itu!.
Acara di GBK, seolah-olah Jokowi ingin unjuk diri. Sekalipun dinyatakan sebagai petugas partai, ia mempunyai konstituen, yaitu sindikat para relawan itu. Tetapi sebagian melihat, bahwa itu bukan political power. Walaupun terucap si Rambut Putih, itu memang forum euphoria saja.
Perundang-undangan mengatur, bahwa suksesi presidensi, adalah wewenang Parpol. Kahadiran para relawan di GBK yang lalu, adalah powerless. No political impact. Mengapa? karena tidak berafiliasi kepada parpol yang mendapat mandat yuridis untuk itu. Bahkan Gerakan kumpul-kumpul itu tidak menjadi pressure kepada Parpol manapun, untuk mempengaruhi/mengunggulkan pencalonan Presiden. Setiap Parpol telah memiliki mekanisme baku partai yang harus ditaatinya. KIB akhirnya menyatakan ingin mengusung Airlangga Hartarto. Zulhas membiarkan kadernya, yang ingin memilih Anies Baswedan. Pun PPP baru. Ia membebaskan kader-kadernya, memilih menurut kehendaknya.
Bila menukik lagi kepada persoalan relawan-relawan Jokowi, potret mereka retak terpecah-belah. “Kita tahu tidak solid. Yang satu kelompok A bicara tegak lurus Presiden Jokowi. Yang satu bilang, kita sih tidak dukung Ganjar, tapi mulai menawarkan nama-nama capres,” ujar pria yang akrab disapa Noel itu, dalam diskusi “Ngopi dari Seberang Istana” yang diselenggarakan Lembaga Survei KedaiKopi, Minggu (4/12/2022).
Ketua Umum Jokowi Mania (Jo-man) Immanuel Ebenezer, mengkritik sejumlah kelompok relawan yang justru menyodorkan nama-nama calon presiden untuk 2024. Menurut dia sikap para kelompok relawan Jokowi saat ini sudah mirip sebagai perantara atau calo. Bahkan Immanuel mengatakan berbagai kelompok relawan Jokowi saat ini sudah terbelah dan mengejar kepentingan masing-masing.
“Jadi ada yang tidak konsisten. ‘Kami tegak lurus presiden’ tetapi menawarkan nama. Saya enggak ngerti ini relawan atau calo, ya, karena sudah safari-safari,” ujar Noel. Ia juga menyinggung soal hajatan “Temu Relawan Nusantara Bersatu” yang turut menghadirkan Jokowi di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Noel menyebut acara itu sebagai “event Jokowi paling buruk”. Noel mengaku diundang ke acara tersebut, tetapi undangan itu tiba pada detik-detik terakhir. Menurut dia, hal itu bukti bahwa soliditas relawan Jokowi sudah terbelah. Ia mengaku tersingkir dari arus utama karena menolak usulan Jokowi menjabat sebagai presiden tiga periode.
Ada yang Cari Uang dan Incar Kursi Menteri “Kalau mau jujur, relawan Jokowi sudah tidak ada karena mereka sibuk soal cari uang buat event, yang satu cari lewat event dengan gerilya-gerilya politik,” ujar dia. “Yang satu sibuk juga menciptakan Jokowi jadi monster politik,” Lanjut Noel.
Dikatakan juga; “Kalau Anda bilang ada 2 faksi sih tidak, (tapi) berfaksi-faksi. Ada kelompok yang (mendukung Jokowi) 3 periode, ada kelompok nyari duit dengan nyari event, wah, macam-macam lah,” katanya lagi. Noel beranggapan, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi kualitas demokrasi Indonesia ke depan, karena relawan justru berupaya menjadi bagian dari penikmat kekuasaan yang disebutnya menyimpang.
Bagaimana sikap Partai kepada Jokowi? Dari beberapa kader PDIP seperti Trimedya, Masington, Hasto Kristianto, termasuk Adian Napitupulu, terkesan diametral dengan sikap Jokowi. Terucap dari berbagai komentar senanda, selalu menepis apa yang disuarakan oleh para Relawan Jokowi. Seperti isu Capres, yang endorsed oleh Jokowi, kompak ditentang oleh mereka.
Masinton Pasaribu Ketua DPP PDI-P, sempat melontarkan pendapatnya, yang sangat pedas dan tajam. Agenda oligarki kapital itu, diuraikan memiliki tiga tahapan; Pertama, plan A, melanjutkan tiga periode. Kedua, Plan B, menunda Pemilu24. Dan ketiga, plan C, mendukung Calon Boneka yang bisa mereka bisa atur pada saat pemilu 2024. Pernyataan ini menggempur apa yang tersirat pada berbagai banner politis, yang terpampang setiap kali Jokowi menemui relawan-relawannya.
Sekilas menjelaskan kemampuan persona Jokowi. Melawan kekaguman Panda Nababan. Ia seorang yang lemah dalam menyampaikan pesan komunikasi yang pantas sebagai seorang Presiden. Miskin narasi. Tak mampu merangkai majas. Bukan sekali dua kali, statemennya, malah menjadi diskursus masyarakat, karena menjadi ambigu. Communication skills nya yang lemah.
Perisitiwa Kanjuruhan, adalah tragedi nasional yang memilukan. Analisis para ahli, berpangkal dari protap polisi yang brutal. Tetapi kesimpulan Jokowi adalah, soal pintu keluar yang terlalu kecil dan anak tangga yang terlalu curam. Solusinya merenovasi stadion Kanjuruhan. Tetapi pokok masalahnya sampai saat ini belum selesai. Aktifis Kanjuruhan, masih menuntut pemerintah menyelesaikan persoalan pelanggaran HAM-nya.
Tinggal 2 tahun kurang, Ia bekerja sebagai Presiden. Sejatinya yang harus diurus; bagaimana utang negara berkurang. Pertumbuhan ekonomi terus meroket. Berorientasi untuk meningkatkan pendapatan negara, supaya surplus. Kesempatan kerja makin banyak dan terbuka untuk rakyat!. Hukum makin tegak dan adil. Petani dan Nelayan, tidak termarginalkan, tambah sejahtera. Itulah yang disebut infrastruktur.
Pada Suprastruktur, dibangun sikap profesionalisme yang tinggi; pelayanan yang optimal, disiplin yang tinggi, dan jauh dari KKN. Dia harus berpedoman pada dua suku kata, yaitu “effective dan Efficient”.
Meninggalkan legasi iklim yang baik kelak, adalah cara lain, supaya pikiran rakyat terbangun citra positive. Mereka akan melupakan apa yang buruk selama menjabat sebagai Presiden; seperti stigma yang melekat kepadanya “Presiden terburuk, si plunga-plongo, pendusta, ijazah palsu”, dll.

























