Fusilatnews – Saya sering mengajak teman-teman untuk melihat Islam tidak semata sebagai identitas, melainkan sebagai nilai yang bekerja dalam kehidupan nyata. Dan setiap kali percakapan itu sampai pada nilai-nilai Islam—kebersihan, kejujuran, disiplin, amanah, ketepatan waktu, kerja keras, serta tanggung jawab menjaga alam—saya selalu berkata: lihatlah Jepang.
Jepang bukan negeri Muslim. Bahkan sebagian besar warganya tidak beragama secara formal. Namun justru di sanalah nilai-nilai yang kita sebut sebagai ajaran Islam hidup secara konkret. Kota-kotanya bersih bukan karena perintah agama, tetapi karena kesadaran moral. Warganya jujur tanpa perlu pengawasan berlebihan. Waktu dihormati seolah amanah. Disiplin dijalani sebagai martabat, bukan paksaan. Pejabat publik bekerja dengan rasa malu jika gagal melayani rakyat, dan alam dijaga sebagai warisan, bukan objek eksploitasi.
Ironisnya, semua itu adalah nilai yang secara tegas diajarkan dalam Islam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
Islam sejak awal tidak datang pertama-tama sebagai sistem simbol, melainkan sebagai revolusi akhlak. Bahkan Al-Qur’an menegaskan bahwa kerusakan di bumi bukan akibat kekurangan ibadah ritual, melainkan kegagalan moral manusia:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.”
(QS. Ar-Rum: 41)
Kini, mari kita bercermin pada Indonesia.
Negeri ini dengan bangga menyebut diri sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Masjid berdiri megah, ayat suci menggema setiap hari, simbol keagamaan memenuhi ruang publik. Namun realitas sosialnya justru menyajikan pemandangan yang berlawanan: alam rusak porak-poranda, hutan dibabat tanpa nurani, laut dicemari, dan sungai dijadikan tempat pembuangan dosa kolektif.
Korupsi tidak lagi insidental, tetapi sistemik. Amanah diperdagangkan, jabatan dijadikan alat akumulasi harta. Padahal Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak.”
(QS. An-Nisa: 58)
Namun yang kita saksikan justru sebaliknya. Hedonisme dipamerkan tanpa rasa malu, kebohongan diproduksi secara massif, disiplin dianggap beban, dan kerja keras sering kalah oleh kedekatan dan tipu daya. Agama ramai dibela ketika simbolnya disentuh, tetapi sepi ketika nilai-nilainya diinjak-injak oleh perilaku sehari-hari—terutama oleh para pemegang kekuasaan.
Di sinilah paradoks itu mencapai puncaknya:
Islam hadir sebagai identitas, tetapi absen sebagai nilai.
Agama direduksi menjadi ritual, bukan etika. Menjadi slogan, bukan laku hidup. Kita sibuk menanyakan siapa yang paling Islami, tetapi lupa bertanya di mana nilai Islam itu bekerja. Kita marah ketika agama dihina secara verbal, namun diam ketika kejujuran, keadilan, dan amanah dihancurkan secara struktural.
Jepang memberi pelajaran yang menyakitkan sekaligus jujur: nilai dapat hidup tanpa klaim iman. Sementara Indonesia menunjukkan kenyataan yang lebih getir: klaim iman tidak otomatis melahirkan nilai, apalagi peradaban.
Bukan berarti Jepang lebih “Islam” secara teologis. Tetapi dalam pengertian etik dan sosial, banyak nilai Islam justru beroperasi di sana. Sebaliknya, di Indonesia, Islam sering berhenti di bibir dan simbol, tidak turun menjadi karakter dan kebijakan.
Maka pertanyaannya bukan lagi, seberapa banyak ayat kita hafal, tetapi seberapa jauh ayat itu menjelma dalam perilaku. Sebab Islam yang tidak melahirkan kejujuran, keadilan, disiplin, dan kepedulian terhadap alam, pada akhirnya hanya menjadi suara yang menggema di langit—namun tak berbekas di bumi.
Dan di titik inilah kita harus berani mengakui:
barangkali yang hilang dari kita bukan Islam sebagai agama, tetapi Islam sebagai nilai.


























