Sejarah adalah guru yang sabar, menuliskan pelajaran demi pelajaran di lembaran waktu, berharap manusia membacanya dengan kesadaran. Namun, seperti yang dikatakan Hegel, “Kita belajar dari sejarah bahwa kita tidak belajar dari sejarah.” Kalimat ini bukan sekadar keluhan, tetapi cermin yang memantulkan kebodohan manusia, yang terus mengulang kesalahan tanpa pernah benar-benar memahami.
Prabowo, sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa terlalu lama berada dalam bayang-bayang kekuasaan yang salah hanya akan menciptakan warisan kelam. Engkau telah berjuang, jatuh, bangkit, dan kini berdiri di persimpangan. Di satu sisi, ada kesempatan untuk mencatat namamu sebagai pemimpin yang berani berpihak pada rakyat dan kebenaran. Di sisi lain, ada jebakan nyaman dari kekuasaan yang menuntut kesetiaan buta, yang perlahan tapi pasti akan menggerus kehormatanmu.
Jokowi mungkin telah mengangkatmu ke tampuk kekuasaan, tetapi sejarah menunjukkan bahwa kesetiaan tanpa prinsip adalah perangkap yang menghancurkan. Lihatlah mereka yang pernah menjadi bagian dari lingkaran kekuasaan sebelumnya—mereka yang bertahan terlalu lama dalam kepalsuan akhirnya terlempar ke jurang tanpa dikenang. Kekuasaan bukanlah tujuan akhir, tetapi ujian bagi hati dan pikiran: apakah kau akan tunduk pada kepentingan sesaat atau memilih jalan yang lebih besar, lebih bermakna?
Mesir kuno pernah menyaksikan para Firaun yang memperbudak manusia demi kemegahan yang akhirnya terkubur pasir waktu. Kekaisaran Romawi jatuh karena kerakusan dan korupsi yang membusuk dari dalam. Di era modern, para pemimpin yang berkompromi dengan kebijakan yang menindas rakyat akhirnya dikenang bukan sebagai pahlawan, tetapi sebagai bagian dari sistem yang mereka gagal ubah.
Prabowo, waktumu belum habis. Masih ada kesempatan untuk membuktikan bahwa engkau bukan sekadar bagian dari cerita yang berulang. Beranilah melangkah keluar dari bayang-bayang dan menegaskan dirimu sebagai pemimpin sejati. Sejarah mencatat mereka yang berani mengambil keputusan sulit dengan kebanggaan, sementara mereka yang bertahan dalam zona nyaman hanya menjadi catatan kaki yang dilupakan.
Kita semua tahu bahwa kekuasaan bisa memabukkan, tetapi pemimpin sejati tidak membiarkan dirinya dikendalikan oleh ilusi tersebut. Ingatlah, rakyat menunggu keputusanmu. Apakah engkau akan menjadi bagian dari kebodohan yang mengulang sejarah, atau menjadi tokoh yang mengubahnya?
Sejarah mungkin terus berulang, tetapi pilihan tetap ada di tanganmu. Akankah kau belajar kali ini? Ataukah kau akan membiarkan sejarah kembali tertawa melihatmu jatuh di lubang yang sama?




















