Oleh : M.Yamin
Perbandingan dilakukan dengan cara penelitian ilmiah bukan Survey seperti Winarto Wijaya dari Cartha Politika itu pembodohan kepada Rakyat.
Mungkin hanya kebetulan belaka bahwa 2005 peringatan bersejarah ke 50 tahun KTT Asia – Afrika di Bandung. Pemerintah saat ini mungkin telah lupa sejarah apa yang di ajarkan oleh Pahlawan Bangsa ini. KTT Bandung adalah latihan Kepemimpinan Global yang harus di genggam secara terus menerus oleh Presiden Indonesia , khusunya di Asia Timur. KTT Bandung dikenal global sebagai “KEKUATAN KOLOMBO” atau “Konfrensi Perdana Mentri Asia Tenggara”. Salah satu dan utama dari tujuan KTT tersebut adalah menghilangkan ketakutan dari pesona rayuan bahaya komunis (Amitav Archarya “Asia Rising: Who is Leading?” 2008), lebih lanjut Archarya mengatakan; Ironinya Asia pada masa itu penuh dengan serangan rayuan China, tetapi pelajaran penting dari Bandung kecuali tindakan sesuai kata-kata, hubungan diplomatik cina akan berumur pendek.
Krisis Amerika dan Eropa belakangan ini telah menjadi indikasi melemahnya kekuatan negara-negara Barat dan mulai bergesernya kekuatan ekonomi dari Barat ke Timur. IMF bahkan secara eksplisit mengatakan “Age of America” sudah hampir berakhir dan China akan muncul sebagai kekuatan ekonomi baru hanya dalam 5 tahun mendatang (Market Watch). Mengapa China diposisikan seoptimis itu? IMF menggunakan PPP (Purchasing Power Parity) sebagai alat untuk membandingkan ekonomi Amerika dengan China karena PPP mengukur secara cukup akurat besarnya pemasukan dan pengeluaran real masyarakat didalam ekonomi domestik. PPP di China diprediksikan akan naik dari $11.2 Trillion tahun 2011 menjadi $19 Trillion di tahun 2016 sedangkan Amerika akan tumbuh dari $15.2 Trillion ke $18.8 Trillion. Hal itu diprediksikan akan mengawali turunnya sumbangan output Amerika atas dunia sebesar 17.7 % sedangkan China akan menyentuh 18% dan akan terus tumbuh-hingga batas tertentu – akibat produktifitas tinggi yang berasal dari faktor produksi yang murah dan kebijakan devaluasi. Padahal 10 tahun lalu ekonomi Amerika 3 kali lebih besar dari China (Goldman Sach).
Namun, disisi lain Nouriel Roubini (julukan internasional sbg Dr. Doom) Professor of Economics- menolak dengan tegas prediksi ini. Roubini mengatakan secara substansial Indonesia jauh lebih berpotensi untuk menjadi kekuatan baru ekonomi dunia. Hal senada juga diutarakan oleh Fitch (Jakarta Post). Di tahun 2030 Indonesia diprediksikan menjadi salah satu dari 6 negara terbesar di dunia. Indonesia memiliki inflasi yang rendah-meskipun penulis merasa hal ini bukan indikator yang cukup akurat,karena inflasi Indonesia masih bersifat artificial akibat kebijakan subsidi BBM yang masih belom jelas arahnya-, debt to GDP ratio yang masih relatif rendah (31.5 persen), young demographics dan economy pro-growth at 6.5% di tahun lalu yang memberi ruang untuk terus tumbuh secara signifikan. Meskipun sektor ekspor diprediksikan akan turun akibat krisis global, penulis melihat konsumsi domestik dan foreign direct investment tetap bisa menjadi ‘kaki’ yang mengokohkan berdirinya ekonomi Indonesia. Penulis sepakat dengan argument Roubini melihat saat ini China sedang overheating dengan pertumbuhan double digit yang tingkat inflasinya tinggi (10.5% untuk sektor makanan). Over-relying on export yang sangat berbahaya bagi China dalam kondisi global yang kurang bersahabat saat ini dan terperangkapnya China dalam kondisi overinvestment-fixed investment share of GDP bertambah mencapai 50% di tahun 2010 hingga 2011- menyebabkan perlambatan ekonomi China.
Optimisme diatas juga diperkuat oleh penelitian Keuangan AS, McKinsey Company yang mengatakan bahwa Ekonomi Indonesia akan berada di 7 (tujuh) besar global di tahun 2030, dan menurut Amitav Archarya “Why Indonesian Matters?” (2014) kala itu ekonomi Indonesia telah bertengger di posisi 10 (sepuluh) besar Global. Sejak reformasi ekonomi Indonesia perlahan – lahan konsisten maju, bahkan selama periode 2000 – 2010 pertumbuhan ekonomi Indonesia telah melampaui semua negara berkembang kecuali Cina dan India, dan berada didepan negara – negara berkembang BRICS lainnya, seperti; Brasil, Rusia, dan Afrika Selatan.
Hal ini dapat dikatakan bahwa strategi kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berkarakter dan taat pada politik global pejuang kemerdekaan yang dikenal sebagai “Kebijakan Luar Negri : Independent dan Aktip – Berkesinambungan dan Perubahan.” Hal tersebut merujuk pada tulisan Muhammad Hatta (Mandiri dan Aktif 1953) mengatakan;
“Indonesia akan mencari persahabatan dengan semua Bangsa – Bangsa apapun ideologi atau bentuk pemerintahan, tidak akan pro blok barat dan blok komunis”
Keberhasilan Bapak Presiden Sosilo Bambang Yudhoyono kalau itu juga disampaikan oleh Anthony Reid dalam “Indonesia Rising” (2012) walaupun sedikit sinisme itu terlihat karena banyaknya kader-kader Demokrat yang tertangkap Korupsi, namun tidak ada pemerintahan yang paling serius dalam menangani korupsi kecuali Bapak SBY bahkan beliau harus memilih dan berdiri di dua hukum moral terbesar dalam penegakan hukum. Moralitas sebagai presiden dan moralitas sebagai besan, bukan pilihan mudah, namun kejujuran dan nilai-nilai agama jelas terlihat. Dan seperti yang dituliskan oleh Amitav Archarya dalam “Why Indonesian Matters?” 2014 pemerintah yang ditutup oleh SBY mendudukkan ekonomi Indonesia di 10 besar Global.
Lalu bagaimana dengan pernyataan Presiden Jokowi 2018 yang mengatakan :
“Insya Allah, 2030 kita bisa di posisi 7 sampai 10 terbesar ekonomi terkuat di dunia,” ujar saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II Asosiasi DPRD di Jakarta, Selasa (27/3/2018).
Saat ini, tutur dia, ekonomi Indonesia ada posisi ke-16 di dunia. Akibat hal itu pula, Indonesia masuk ke dalam forum G20, forum yang di dalamnya terdapat 20 negara dengan ekonomi terbesar di dunia.
Bukankah ini kemunduran luar biasa besar, dan Indonesia gagal menjadi macan Asia yang 10 Tahun telah dibangun oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono.


























