• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Pengakuan yang Jujur Budi Arie Tetap Projo

fusilat by fusilat
November 3, 2025
in Feature, Komunitas
0
Pengakuan yang Jujur Budi Arie Tetap Projo
Share on FacebookShare on Twitter

 

FusilatNews – Masih Ada Bayangan Jokowi di Sahid

Di ballroom Hotel Sahid, Jakarta Pusat, Minggu siang itu, suasana kongres Projo seolah dirancang untuk menjadi reuni nostalgia, bukan transformasi politik. Budi Arie Setiadi berdiri di podium, dengan nada suara yang berusaha keras terdengar berwibawa, tapi justru memantulkan sesuatu yang lain: kegamangan.

“Projo ini lahir karena ada Pak Jokowi,” ujarnya di hadapan ratusan kader. Kalimat yang terdengar seperti penghormatan, tapi sesungguhnya adalah pengakuan—bahwa meski zaman sudah berganti, bayang-bayang Jokowi masih enggan dilepaskan dari panggung kekuasaan.

Budi Arie tampak berusaha membela sesuatu yang tak lagi utuh. Di saat ia menegaskan bahwa Projo kini mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran, bibirnya masih menyebut Jokowi dalam setiap jeda kalimat. Ia seperti ingin hidup di dua dunia sekaligus: dunia lama yang memberinya legitimasi, dan dunia baru yang memberinya peluang.


Nostalgia yang Tak Tuntas

Ucapan Budi Arie tentang “jangan di-framing seolah Projo putus dengan Jokowi” terdengar seperti seruan seorang anak yang belum siap lepas dari ayahnya. Padahal, rezim sudah berganti. Prabowo kini presiden, Gibran wakilnya—dan publik tahu, keduanya tak butuh penjaga warisan Jokowi di depan kamera.

Namun, Budi Arie tampaknya ingin memastikan Jokowi tetap punya ruang—setidaknya di hati para relawan yang dulu mengantarkannya ke istana. Dalam setiap narasi “kelanjutan pembangunan”, ia menyelipkan pesan halus: bahwa Prabowo hanyalah perpanjangan tangan dari Jokowi. Bahwa era baru ini hanyalah bab lanjutan dari kisah lama.

Kalimat “kita memperkuat pemerintahan Prabowo-Gibran” pun menjadi ambigu. Apakah benar untuk memperkuat Prabowo, atau justru memastikan pengaruh Jokowi tetap menyelimuti pemerintahan itu dari balik layar?


Gerakan Relawan yang Tak Rela Berhenti

Projo lahir dari semangat perubahan, tapi kini terjebak pada obsesi mempertahankan warisan. Dalam sepuluh tahun perjalanan Jokowi, Projo menjelma dari gerakan akar rumput menjadi alat kekuasaan yang begitu mapan. Dan ketika Jokowi turun dari kursi presiden, Budi Arie tampaknya tidak siap membiarkan mesin itu kehilangan arah.

Kecemasan itu tampak jelas dari pidatonya di kongres: “Setelah sepuluh tahun pemerintahan Bapak Jokowi, kita memasuki fase baru.” Namun di balik pengakuan itu, Budi Arie tidak benar-benar siap untuk berpisah. Ia lebih memilih menggandeng masa lalu sambil menatap masa depan.

Inilah paradoks Projo hari ini: organisasi yang lahir dari rakyat, tapi hidup dari kekuasaan. Budi Arie, sebagai ketua umumnya, tampak masih memelihara dua bara sekaligus—bara loyalitas lama dan bara ambisi baru.


Menjaga Bara, Memperkeruh Api

Dengan terus menghidupkan nama Jokowi di tengah pemerintahan Prabowo, Budi Arie bukan sekadar bernostalgia. Ia sedang memainkan simbol, menjaga ritme psikologis di tengah transisi kekuasaan.

Di satu sisi, ia tampak ingin menunjukkan kesetiaan. Tapi di sisi lain, tindakannya bisa dibaca sebagai upaya memperkeruh suasana kebatinan rezim baru—seolah hendak mengingatkan bahwa tak ada pemerintahan yang benar-benar bisa lepas dari bayang Jokowi.

Langkah ini, bila dibaca lebih tajam, bukan sekadar gestur politik, melainkan strategi pengaruh. Dengan tetap menjadikan Jokowi sebagai poros ideologis, Budi Arie sedang menanam jangkar lama di lahan kekuasaan baru. Ia tidak ingin Projo kehilangan identitas, tapi juga tidak ingin Jokowi kehilangan relevansi.


Bayang yang Tak Mau Pudar

Setelah tak lagi duduk di kabinet Prabowo—tergeser oleh Ferry Juliantono dalam reshuffle September lalu—Budi Arie tampaknya berupaya menjaga panggungnya tetap hidup lewat Projo. Dan panggung itu, sekali lagi, digelar atas nama Jokowi.

“Projo lahir karena Pak Jokowi,” katanya. Sebuah kalimat yang mungkin terdengar tulus, tapi kini lebih menyerupai alat politis: semacam mantra untuk menjaga agar pengaruh sang “bapak bangsa relawan” tetap tercium di ruang-ruang kekuasaan baru.

Prabowo, tentu, tidak bodoh. Ia tahu bahwa di balik dukungan Projo, ada mesin warisan Jokowi yang masih berdetak. Tapi selama mesin itu membantu menjaga stabilitas politik, ia mungkin akan membiarkannya bernafas.

Budi Arie pun tahu: selama nama Jokowi masih menggema, Projo tak akan kehilangan relevansi—meski harga yang harus dibayar adalah tudingan bahwa ia sedang memperkeruh transisi politik, dengan tetap menyalakan api lama di tungku yang baru.


Epilog: Cengkeraman yang Belum Lepas

Pengakuan Budi Arie bahwa Projo tetap Projo bukanlah pernyataan netral. Ia adalah refleksi dari politik dua kaki yang tengah ia mainkan. Di hadapan publik, ia berbicara tentang adaptasi dan kelanjutan; tapi di balik itu, ia sedang menegakkan satu pesan: Jokowi belum benar-benar selesai.

Dan di tengah rezim baru yang sedang mencari ritme sendiri, pesan semacam itu bisa menjadi racun halus—membangkitkan rasa tidak nyaman, bahkan curiga.

Mungkin Budi Arie hanya ingin memastikan satu hal: meski Jokowi sudah selesai, cengkeramannya belum.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Menjaga Marwah DPR RI – Berani Menegur Dirinya Sendiri

Next Post

Mata Bisa Dibohongi, Otak Tidak: Seeing is Believing di Era AI

fusilat

fusilat

Related Posts

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.
Feature

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif
Feature

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?
Feature

Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

April 15, 2026
Next Post
Mata Bisa Dibohongi, Otak Tidak: Seeing is Believing di Era AI

Mata Bisa Dibohongi, Otak Tidak: Seeing is Believing di Era AI

Amuba Dusta Jokowi: Warisan Moral yang Merusak, Urgensi Evaluasi Kesehatan demi Tanggung Jawab Hukum

Jokowi Nekad Berbohong di Era AI: Mata Bisa Dibohongi, Akal Tidak

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”
Crime

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

by Karyudi Sutajah Putra
April 15, 2026
0

Jakarta--FusilatNews - Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Universitas Indonesia (UI) serta ekspresi misoginis dan seksis yang mengarah pada normalisasi...

Read more
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Tertipu, Ahmad Sahroni Berkasus dengan KPK?

April 11, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026
Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

April 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist