FusilatNews – Masih Ada Bayangan Jokowi di Sahid
Di ballroom Hotel Sahid, Jakarta Pusat, Minggu siang itu, suasana kongres Projo seolah dirancang untuk menjadi reuni nostalgia, bukan transformasi politik. Budi Arie Setiadi berdiri di podium, dengan nada suara yang berusaha keras terdengar berwibawa, tapi justru memantulkan sesuatu yang lain: kegamangan.
“Projo ini lahir karena ada Pak Jokowi,” ujarnya di hadapan ratusan kader. Kalimat yang terdengar seperti penghormatan, tapi sesungguhnya adalah pengakuan—bahwa meski zaman sudah berganti, bayang-bayang Jokowi masih enggan dilepaskan dari panggung kekuasaan.
Budi Arie tampak berusaha membela sesuatu yang tak lagi utuh. Di saat ia menegaskan bahwa Projo kini mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran, bibirnya masih menyebut Jokowi dalam setiap jeda kalimat. Ia seperti ingin hidup di dua dunia sekaligus: dunia lama yang memberinya legitimasi, dan dunia baru yang memberinya peluang.
Nostalgia yang Tak Tuntas
Ucapan Budi Arie tentang “jangan di-framing seolah Projo putus dengan Jokowi” terdengar seperti seruan seorang anak yang belum siap lepas dari ayahnya. Padahal, rezim sudah berganti. Prabowo kini presiden, Gibran wakilnya—dan publik tahu, keduanya tak butuh penjaga warisan Jokowi di depan kamera.
Namun, Budi Arie tampaknya ingin memastikan Jokowi tetap punya ruang—setidaknya di hati para relawan yang dulu mengantarkannya ke istana. Dalam setiap narasi “kelanjutan pembangunan”, ia menyelipkan pesan halus: bahwa Prabowo hanyalah perpanjangan tangan dari Jokowi. Bahwa era baru ini hanyalah bab lanjutan dari kisah lama.
Kalimat “kita memperkuat pemerintahan Prabowo-Gibran” pun menjadi ambigu. Apakah benar untuk memperkuat Prabowo, atau justru memastikan pengaruh Jokowi tetap menyelimuti pemerintahan itu dari balik layar?
Gerakan Relawan yang Tak Rela Berhenti
Projo lahir dari semangat perubahan, tapi kini terjebak pada obsesi mempertahankan warisan. Dalam sepuluh tahun perjalanan Jokowi, Projo menjelma dari gerakan akar rumput menjadi alat kekuasaan yang begitu mapan. Dan ketika Jokowi turun dari kursi presiden, Budi Arie tampaknya tidak siap membiarkan mesin itu kehilangan arah.
Kecemasan itu tampak jelas dari pidatonya di kongres: “Setelah sepuluh tahun pemerintahan Bapak Jokowi, kita memasuki fase baru.” Namun di balik pengakuan itu, Budi Arie tidak benar-benar siap untuk berpisah. Ia lebih memilih menggandeng masa lalu sambil menatap masa depan.
Inilah paradoks Projo hari ini: organisasi yang lahir dari rakyat, tapi hidup dari kekuasaan. Budi Arie, sebagai ketua umumnya, tampak masih memelihara dua bara sekaligus—bara loyalitas lama dan bara ambisi baru.
Menjaga Bara, Memperkeruh Api
Dengan terus menghidupkan nama Jokowi di tengah pemerintahan Prabowo, Budi Arie bukan sekadar bernostalgia. Ia sedang memainkan simbol, menjaga ritme psikologis di tengah transisi kekuasaan.
Di satu sisi, ia tampak ingin menunjukkan kesetiaan. Tapi di sisi lain, tindakannya bisa dibaca sebagai upaya memperkeruh suasana kebatinan rezim baru—seolah hendak mengingatkan bahwa tak ada pemerintahan yang benar-benar bisa lepas dari bayang Jokowi.
Langkah ini, bila dibaca lebih tajam, bukan sekadar gestur politik, melainkan strategi pengaruh. Dengan tetap menjadikan Jokowi sebagai poros ideologis, Budi Arie sedang menanam jangkar lama di lahan kekuasaan baru. Ia tidak ingin Projo kehilangan identitas, tapi juga tidak ingin Jokowi kehilangan relevansi.
Bayang yang Tak Mau Pudar
Setelah tak lagi duduk di kabinet Prabowo—tergeser oleh Ferry Juliantono dalam reshuffle September lalu—Budi Arie tampaknya berupaya menjaga panggungnya tetap hidup lewat Projo. Dan panggung itu, sekali lagi, digelar atas nama Jokowi.
“Projo lahir karena Pak Jokowi,” katanya. Sebuah kalimat yang mungkin terdengar tulus, tapi kini lebih menyerupai alat politis: semacam mantra untuk menjaga agar pengaruh sang “bapak bangsa relawan” tetap tercium di ruang-ruang kekuasaan baru.
Prabowo, tentu, tidak bodoh. Ia tahu bahwa di balik dukungan Projo, ada mesin warisan Jokowi yang masih berdetak. Tapi selama mesin itu membantu menjaga stabilitas politik, ia mungkin akan membiarkannya bernafas.
Budi Arie pun tahu: selama nama Jokowi masih menggema, Projo tak akan kehilangan relevansi—meski harga yang harus dibayar adalah tudingan bahwa ia sedang memperkeruh transisi politik, dengan tetap menyalakan api lama di tungku yang baru.
Epilog: Cengkeraman yang Belum Lepas
Pengakuan Budi Arie bahwa Projo tetap Projo bukanlah pernyataan netral. Ia adalah refleksi dari politik dua kaki yang tengah ia mainkan. Di hadapan publik, ia berbicara tentang adaptasi dan kelanjutan; tapi di balik itu, ia sedang menegakkan satu pesan: Jokowi belum benar-benar selesai.
Dan di tengah rezim baru yang sedang mencari ritme sendiri, pesan semacam itu bisa menjadi racun halus—membangkitkan rasa tidak nyaman, bahkan curiga.
Mungkin Budi Arie hanya ingin memastikan satu hal: meski Jokowi sudah selesai, cengkeramannya belum.


























