Selain itu, Ubedilah melihat, PSI adalah partai yang mengkhianati klaim diri sebagai partai kader. Di mana, kaderisasi PSI mengalami stagnasi di usia yang masih sangat muda
“Proses kilat Kaesang menjadi anggota lalu menjadi Ketua Umum PSI, juga bisa dimaknai telah mengabaikan AD/ART-nya sendiri,” jelas Ubedilah.
Ubedilah mengatakan di dalam AD/ART PSI pasal 13 disebutkan dijelaskan bahwa Kader Paripurna adalah anggota yang telah mengikuti kegiatan pelatihan yang diselenggarakan Pimpinan
Pusat.
“Nah apakah Kaesang sudah pernah ikut pelatihan kader tingkat nasional itu? Nyatanya tidak, dapet kartu anggota pun baru,” tutur Ubedilah.
Kemudian, Ubedilah juga menilai bahwa PSI bukan partai modern. Sebab, sangat menggantungkan nasibnya kepada seorang Jokowi.
“Ketergantungan pada Jokowi itu kini makin terbukti, selain terlihat dari narasi tegak lurus ke Jokowi, juga sampai mengangkat darah daging Jokowi sebagai ketua umumnya,” ucap Ubedilah.


























