Fusilatnews – Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh bukan sekadar proyek infrastruktur. Ini adalah bukti nyata pengkhianatan pikiran dan ambisi politik Jokowi. Dari awal, proyek ini sudah salah kaprah: partner yang dipilih keliru, model bisnis tidak realistis, dan biaya dibiayai APBN padahal seharusnya B to B.
Alih-alih belajar dari pengalaman, Jokowi memilih konsorsium China yang menguasai 40 persen saham KCIC. Akibatnya, BUMN Indonesia menjadi korban: PT Kereta Api Indonesia (KAI), WIKA, Jasa Marga, dan PTPN VIII menanggung rugi triliunan rupiah. Laporan keuangan KAI per 30 Juni 2025 menunjukkan kerugian PSBI mencapai Rp 1,625 triliun hanya pada semester I.
Cost overrun meledak: 1,2 miliar dolar AS atau Rp 18 triliun. Bunga pinjaman membengkak, dan semua harus ditambal APBN. Rakyat membayar mahal untuk ambisi yang salah arah. Sejak awal, para ahli sudah memperingatkan bahwa proyek ini bakal rugi, tapi peringatan itu diabaikan demi kepentingan politik dan relasi internasional Jokowi dengan China.
Kini pemerintah ingin melanjutkan Jakarta–Surabaya, meski pelajaran dari KCJB belum dipelajari. Jalur diperpendek menjadi semi-cepat, biaya ditekan, tapi risiko tetap menumpuk. Semua ini menunjukkan satu hal: ketika niat baik diganti ambisi politik, pembangunan menjadi bencana finansial, bukan kemajuan.
Whoosh adalah simbol nyata bahwa Jokowi mengkhianati akal sehat, integritas BUMN, dan kesejahteraan rakyat. Ia memaksa negara menanggung kerugian triliunan rupiah, sementara konsorsium asing menikmati keuntungan besar. Jika proyek ini tidak dibatalkan atau dikontrol dengan ketat, rakyat tetap menjadi korban ambisi yang salah arah.
KCJB/Whoosh bukan sekadar kereta cepat. Ini adalah cermin kebodohan kebijakan yang lahir dari ambisi pribadi, dan BUMN Indonesia menjadi korban terbesar dari pengkhianatan pikiran Jokowi.
























